RSS Feed

Tag Archives: sambal

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

[cerita] Sambal Pertama Karin

Posted on

Karin yang sedang serius menguleg sambal pertamanya. ;))

Hari minggu yang lalu, seperti biasa Abi-nya Karin mendapatkan tugas keluar kota. Sepi dong rumah, lebih lagi ga bisa jalan-jalan atau sekedar keliling kota sebab aku sendiri kebetulan sedang tidak memiliki jadwal kegiatan di luar rumah.

Maka, supaya tetap bisa terkena sinar matahari yang hangat, menghirup udara yang segar, sebab hari minggu adalah hari jalan-jalan di kota menjadi lengang, sepi dari kendaraan, aku berencana mengajak Karin ke pasar. Membeli bumbu dan sayuran, juga lauk untuk stok beberapa hari ke depan. Padatnya kegiatan yang kupunya setiap hari memang tidak memungkinkan untuk bisa jalan-jalan ke pasar setiap pagi.

Siang hari sebelumnya, setelah pulang sekolah, Karin memang agak gaya. Berlagak dewasa dengan aksi mencocolkan kerupuk di sambal yang ada di piringku. Katanya “Nih, kubuktikan, aku sudah jago makan sambalkan, bunda.”

Aku tergelak saja. Lalu malam harinya, ketika kuajukan rencana jalan-jalan menemaniku ke pasar, dia langsung menyetujui. “Aku mau beli cabe, pokoknya!” begitulah dia berseru lantang penuh semangat. Dia ingin membuat sambalnya sendiri. Kupikir, ya mengapa tidak memberinya kesempatan bersenang-senang di pasar dengan membeli cabe lalu menyaksikannya membuat sambal.

Berbekal cerita dari ibu mertua dahulu, Abi-nya Karin waktu kecil sudah pernah dibikinkan sambal yang isinya hanya tomat dan terasi. Hihihi… nah! Apakah sambal Karin nanti isinya juga itu?

Esok paginya, sesuai janjinya, Karin tidak bangun dengan malas-malasan. Dia bersemangat untuk menemaniku ke pasar. Segera setelah mandi dan rumahku bersih aku mengajaknya ke luar menuju pasar yang tidak jauh dari rumah menggunakan motor. Di tengah perjalan aku bertanya lagi. “Karin pengen dimasakkan apa sama bunda? Soto? Rawon? Atau apa?”

Tapi dengan ceriwis dan bawelnya dia masih juga menjawab dengan jawaban yang sama dengan semalam. “Iiiih bunda ini, aku kan mau beli cabe, aku mau masak sambal saja dengan tempe goreng!”

“Woo..oke! oke! Nanti kita beli cabe dan tempe saja kalau begitu,” gelakku mengalah.

Sesampainya di pasar, tentu saja aku tak langsung membeli cabe, masih ke sana ke mari membeli berbagai macam bahan. Tapi Karin terus saja ingin buru-buru, menarik-tarikku dan merengek-rengek meminta untuk membeli cabe setiap kali melewati penjual cabe. Hihihi…

Aku terus memintanya bersabar tentu saja. Cabe dan bumbu akan kubeli paling terakhir.

Setelah semua terbeli, akhirnya sampai juga kami ke pedagang cabe. Biasanya aku membeli ‘cabe campur’ yang isinya cabe rawit, cabe merah dan tomat sekaligus dalam satu bungkus, satu hitungan harga. Lebih menghemat.

“Lombok campur, bu, tigang ewu kemawon,” ucapku pada penjual cabe. Sayangnya karena ramai, penjualnya tak begitu jelas mendengarku. Maka dia bertanya lagi.

“Lombok ingkang menopo, mbak?”

“Bunda! Yang kecil-kecil itu sajalaah…” sahut Karin cepat sambil menarik-tarik bajuku.

“Iya..iya..” sahutku, sambil tersenyum mengkode si ibu penjual cabe. Kami berdua tertawa sama-sama kegelian tentu saja.

Tidak jadi dapat cabe campur dong akhirnya. Hihihi.. tak mengapa, sebab kemudian aku meminta untuk dibungkuskan cabe merah dan tomatnya juga.

Sesampai di rumah, setelah semua bahan kucuci bersih, menunggu tiris untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Kembali Karin merengek, menagih janji padaku untuk diijinkan menguleg sambalnya sendiri.

Okelah. Sebagi orang tua, harus tepat janji dong, memberikan contoh, bahwa kita mesti bertanggung jawab atas apa yang sudah pernah kita utarakan kepada orang lain. Kelak, dia pasti memahami bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab. Simplekan apa yang orang tua kerjakan? 😉

“Sudah ambil layahnya* sekalian ulegnya,” pintaku pada Karin.

Dengan semangat disiapkannya cobek dan ulegnya. Kusiapkan sedikit garam dan gula di atasnya kemudian.

“Oke, Karin mau bikin sambal pakai cabe yang besar atau yang kecil?”

“Yang kecil!”

“Mau berapa banyak?”

“Emmm….empat saja!”

“Mau pakai tomat?”

“He em! Mau!”

“Ya sudah ambil satu tomat juga sana.”

“Sudah siap semua ini, bunda. Terus?”

“Terus ya tinggal diuleng.”

Kemudian dengan antusiasnya dia menguleg sambal pertamanya.

“Uleg cabenya dulu, setelah halus semua, baru Karin uleg tomatnya, oke?”

“Iya!” jawabnya mantab. Hihihi…

Aku senang sekali dengan antusias belajarnya. Dan lagi-lagi tugas kita sebagai orang tua adalah memberinya kepercayaan penuh, kesempatan optimal untuk mengeksplorasi hal baru, agar anak-anak belajar, mendapatkan pengalaman, ilmu yang kelak tidak hanya tentang bagaimana menguleg sambal, namun juga menjadi percaya diri atas dirinya sendiri yang lantas kemudian akan membuatnya mengerti bagaimana berbagi, menghargai orang lain, mengapresiasi kemampuannya dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Begitulah yang terpikir olehku. Atau bahkan mungkin masih banyak lagi yang bisa kita kupas satu persatu dari itu. Kawan-kawan bahkan lebih tahu. 🙂

Selamat mengispirasi, mari berbagi. 🙂

——-eon.

Kabupaten Kediri, 27102012.2155

%d bloggers like this: