RSS Feed

Tag Archives: makanan

[renungan pagi] makanan yang tercela

Posted on
yellow sunflower, taken from http://walpapersus.com

yellow sunflower, taken from http://walpapersus.com

mungkin, sebab riwayat masa kecilku yang begitu. seperti kebanyakan anak-anak yang cerewet saat mendapati makanan, entah itu yang dimasak oleh ibuku sendiri, atau diberi tetangga, atau bahkan makanan yang dibeli dari luar. aku berkomentar;
“ah, gak enak!”
“ini terlalu manis.”
“kok cuma ini siy!” jika yang tersaji adalah nasi dan kerupuk, atau nasi dan kelapa parut dan sedikit taburan garam.
saat itulah ibu benar-benar menghardikku. atau memberiku suaranya yang tegas, beliau berkata;
“sudah, jangan banyak bicara, makan saja.”
aku langsung diam saat diperingatkan seperti itu, tentu saja tidak dapat memikirkan, kenapa ibu begitu tegas tentang memberikan komentar pada makanan.
lambat laun, seiring waktu aku tumbuh. sekarang, aku merasa sangat terganggu jika saat menghadap makanan lalu orang-orang di sekelilingku memberikan komentar yang tak merdu. meskipun itu komentar bukan pada masakanku sendiri.
“makanan apa ini? tidak enak!”
kawan, di setiap butir makanan yang kita masukkan ke dalam mulut, lalu mengalir dalam tubuh kita bersama darah, di setiap makanan itu terselip berkah.
sementara, kita manusia tidak mengetahui di butir yang mana, di suapan makanan yang mana Allah meletakkannya. bisa saja semuanya, sepiring yang kita makan, namun ketika kita memberikan komentar yang tidak perlu, tidakkah kita khawatir berkah yang tersembunyi di dalam makanan kita lari?
lantas, siapa yang rugi?
lalu apa yang kita lakukan jika makanan yang kita makan memang tidak enak?
ya, tetap diam saja, syukuri bahwa Allah memberikan kita makanan, kemudahan kita memiliki makanan yang berlimpah, sementara di luar sana, di jalan-jalan, di tempat entah, banyak kita jumpai mereka yang kesulitan sekedar untuk mendapatkan sesuap saja.
apa yang dikerjakan ibuku saat lalu, membuatku merenung, dan inilah sebuah bentuk beliau mengajarkanku untuk bersyukur atas makanan.
makanan yang berlimpah-limpah di rumah. enak ataupun tidak, tiu adalah bentuk rizki, bahkan ujian dari Allah untuk menjadikan kita mulia. bersyukurkah kita atau mencelanya.
selamat menyambut hari yang penuh berkah, kawan, selamat berkarya! ^_^

 

 

——————eon
kabkdr062019032013

Advertisements

catatan perjalanan kapten : inovasi wingko

Posted on

wpid-IMG-20130316-WA0002.jpg

Bagian dari sebuah perjalanan adalah adanya reportase, eh bukan, tapi catatan harian. seperti catatan harian milik kapten Patrick dalam film Startrek. 😀

Yah, kali ini pesawat luar angkasa kapten mendarat di sebuah warung bakso kecil yang memiliki banyak sekali pilihan gorengan. hihihi.. padahal sudah tahu, menghindari mengkonsumsi gorengan (makanan berminyak adalah sehat) itu sebuah kebajikan. halah. :p

gorengan bakso

aneka pilihan gorengan yang bisa terfoto, saking banyaknya pilihan sampai susah pilih angel. ;))

warung bakso ini terletak di pinggir jalan propinsi, jalur menuju kota Nganjuk dari kota Kediri bagian barat. tapi sayang, aku sedang tidak ingin mencatatkan soal baksonya atau gorengannya. tapi tentang bungkusan kecil yang ditata rapi dalam etalase warung, bertuliskan “WINGKO COIN”

 

wpid-IMG-20130316-WA0003.jpg

isi 10 biji dihargai Rp 3500,-

masyarakat Jawa Timur tentu familiar dengan makanan bernama wingko. jenis makanan yang paling mudah dibuat di rumah-rumah untuk sajian hajatan atau bahkan sekedar pendamping teh dan kopi.

semakin familiar dengan produk wingko dari kota Lamongan yang biasa kita sebut dengan Wingko Babad, sepertinya sudah menasional. dikenali sebagai makanan khas yang biasa dibeli untuk oleh-oleh. bahkan ketika aku membrowsing menggunakan keyword wingko, kata wingko babad mendapati top rating. hihihi.. keren! Halo Lamongan! ^_^

makanan yang terbuat dari campuran tepung ketan, parutan kelapa, telur dan gula ini memang makanan enak menurutku, dan pasti kawan-kawan pembaca juga mengamini. ayolah ngaku! hihihi :p

nah! wingko coin ini, atau aku lebih senang menulisnya “Wingko Koin” berukuran dengan diameter yang kecil sekali. sekitar 1,5cm saja. lebih kecil dari diameter wingko Babad yang berkisar antara 2-3cm.

meski awalnya tidak berniat benar membeli wingko koin ini, sesampai di rumah dan mencicipinya aku langsung jatuh cinta. sumpah! halaaaaah! :)) :p

apalagi sampai bengong mendapati Karin yang tiba-tiba datang, menjumputnya sebiji dan membawanya lari sambil sembunyi untuk dimakannya sendiri. Kariiiiiiiinnn…..give me moreee! :))

dibanding wingko babad, wingko koin ini terasa lembut di mulut dan lebih empuk. inilah memang keajaiban wingko, seperti jenang atau dodol yang harus di-inapkan untuk bisa digigit atau dinikmati dengan mudah, mestinya wingko bertekstur keras, tapi bukan sekeras batu lho. hihihi..

maksudnya tekstur untuk siap digigit bukan lengket di gigi seperti ketika wingko masih baru diangkat dari bakaran/oven.

tekstur lembutnya ini yang meskipun sudah di-inapkanlah yang membuatku langsung melting. *lebay* apalagi bagiku yang tidak terlalu suka manis, wingko koin ini tergolong memiliki takaran gula yang pas. mak nyuss! kata pak Bondan. joss gandooss! kata Soimah. walaaah!! :p

persis bikinan ibu di rumah, huwaa jadi homesick! :p

okelah, jika berkunjung ke kota ini, meskipun belum dijual secara “besar” seperti wingko babad, wingko koin kurekomendasikan menjadi satu lagi jenis oleh-oleh yang bisa dibawa pulang selain tahu kuning, gethuk pisang, dan stik tahu khas Kediri.

———————————eon.

kotakdr160320132316

[cerita] kesalahan prosesing dalam memasak apa bikin makanan tetap enak?

Posted on

Seperti melakukan banyak hal lain, memasakpun kadang-kadang kita dihadapkan pada kesalahan dalam tahapan memasak. Melompati sebuah tahap proses pengolahannya ataupun meninggalkan satu atau dua jenis bumbu sebab lupa, tidak tersedianya bahan, terburu-buru karena waktu yang sempit atau harus menyelesaikan pekerjaan lain, dan sebagainya, dan sebagainya (banyak sebab yang sekarang, saat menulis ini, lupa tidak terpikirkan hihihi :p )

Baiklah, sekarang aku mau bercerita tentang kesalahan proses bikin bandeng pindangan, olahan khas yang banyak dan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional Sidoarjo.

Hari Selasa, adalah ‘hari ke pasar’ bagiku. Bukan sabtu ataupun minggu, itu ‘hari kumpul keluarga’ Mengapa hari selasa? Ya, sebab hanya hari selasa aktivitas pagiku kosong hehe sok gaya dan sok sibuk ya? Bukaaaan…tapi terjadwal. Begitulah! 🙂 Sebagai ibu rumah tanggapun, semua detail aktivitas juga harus terjadwal, seperti mereka yang bekerja di kantoran. Keren kan? hehe Ya harus keren. bukankah setiap orang memiliki ke-keren-annya sendiri-sendiri? 😉

“Rin, hari ini bunda waktunya ke pasar, mau dibikinkan masakan apa nanti pulang sekolah?” tanyaku ke Karin saat mengantarnya berangkat sekolah.

“Ikan! aku mau ikan, bunda!” serunya semangat sekali seperti biasa.

Di kota yang jauh dari laut dan sumber pendapatan penduduknya bukan petani atau nelayan, tapi mayoritas pekerja pabrik rokok hehe otomatis aku pasrah dengan ikan jenis apa yang akan kudapatkan di pasar nanti. Yang tergambar dibenakku saat itu, ikan mujaer. Ikan budidaya air tawar yang rasanya mirip ikan nila atau gurami dan harganya relatif lebih murah dari kedua jenis ikan itu. selain itu, ikan mujaer tidak terlalu banyak duri seperti jenis bandeng atau bader. Tentunya akan menyusahkan jika Karin harus memakannya sendiri tanpa bantuanku.

Segera setelah mengantar Karin sampai di sekolah, aku bergegas ke pasar. pasar kecamatan tidak terlalu besar yang posisinya ada di antara sekolah Karin dan rumah adalah tempat yang paling mudah dijangkau, meski sayangnya memiliki jam tayang yang pendek. hehe sinetron kalee.. ya begitulah, pasar pasti sudah hampir kosong ketika aku datang di sekitar jam 9 (sembilan) pagi.

Supaya kebagian ikan, tentu saja aku harus lebih pagi dari itu bukan?

Pukul 7 (tujuh) pagi lewat sedikit. Bergegas saja aku ke stand penjual ikan di bagian belakang pasar. yah! kecewa ternyata aku kehabisan. tinggal udang dan bandeng saja di meja si penjual. Setelah menanyakan harga, aku pamit pergi tak jadi membeli. hihihi… bukan curang, tapi seperti itulah transaksi akan ditentukan. Agak jauh dari stand pertama ada stand ikan kedua yang sayangnya hanya menjual ikan lele, dan aku sama sekali tidak berminat untuk mengolah ikan ini. Maka kulewati saja stand ikan kedua. Lebih ke belakang lagi, ada stand penjual ikan ketiga. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Lagi-lagi, sepagi itu aku sudah telat.

“Kantun niki, pak, ulamipun?” (tinggal ini, pak, ikannya?) tanyaku.

“Nggih, mbak, kantun bandeng, ulam lautipun sampun telas.” (iya, mbak, tinggal bandeng, ikan lautnya sudah habis.)

Kutanyakan hargannya. Ternyata lebih murah dari harga perkilo di stand pertama. bahkan berselisih jauh. keputusan membeli ikan bandeng-pun kubuat. apa daya meski tidak sama dengan angan-angan untuk memasak ikan mujaer, aku harus tetap membeli ikan demi memenuhi tawaranku pada Karin. tidak lucu jika aku membatalkan tawaranku sendiri bukan?

Kota ini bukan tempatnya ikan bandeng dibudidaya seperti di Sidoarjo atau Gresik, maka mendapatkan bandeng dengan ukuran panjang 20-25 cm adalah hal yang harus benar-benar kumaklumi meski sangat tak suka. Di Gresik, aku biasa mendapati bandeng berukuran paling tidak 40cm untuk diolah menjadi berbagai jenis masakan, demikian juga di Sidoarjo. bandeng berukuran kecil seperti yang kujumpai di kota ini biasanya dipresto lalu dipepes atau sekedar digoreng saja setelah dipresto, karena berukuran terlalu kecil. dipresto adalah syarat agar lebih mudah saat memakannya nanti. Duri-durinya yang banyak menjadi lunak dan aman untuk dimakan tanpa rasa was-was tersedak duri.

Nah! sebab sudah memutuskan membeli bandeng dan tidak memiliki alat presto (melas nih) hihihi maka langkah awal pengolahan adalah membuatnya menjadi ikan pindangan. Bandeng adalah jenis ikan yang mudah sekali busuk, atau biasa dikatakan ‘banger’ menjadi lunak (gembuk) dan tentu saja tidak layak konsumsi, jika tidak segera diolah.

“Dibetheti, mbak?” (dibersihkan, mbak?) tanya penjualnya.

Dalam kasus ikan, membersihkan berarti membuang sisiknya, selain membuang isi perut dan insangnya. Aku segera mengiyakan. Sebab membersihkannya sendiri di rumah berarti memuat polusi udara di dalam rumah. Hihihi.. bau amis ikan bandeng lebih kuat dari jenis ikan lain. setelah itu, aku berkeliling sebentar membeli beberapa jenis bumbu dan sayur, juga bahan-bahan lain.

Sesampai di rumah, segera kucuci semua bahan. Termasuk ikan bandeng dan membuat bumbu kuningnya untuk menghilangkan bau amis. Garam, bawang putih, ketumbar, kunyit dan jahe. Kugerus sekaligus dan membalurkannya ke setiap ekor ikan bandeng. Hendak kupindang.

Di sinilah baru kusadari aku salah merunut tahapan pembuatan pindang bandeng. huhuhu..bingung deh! Bagaimana tidak, mestinya ikan bandeng tadi tak perlu disisik, cukup dibuang isi perut dan insangnya. Sebab dengan dibuang sisiknya, ikan bandeng akan mudah hancur saat proses pemindangan. Meski masih ada yang lebih gampang hancur lagi saat dimasak, yaitu ikan lemuru yang biasa kita jumpai di kaleng sanden. Ikan itu pasti masih bersisik.

Setelah dibumbu kunir, bagian perut ikan bandeng mesti disumpal gulungan daun jeruk dan daun salam (ini versi memasakku), beda dengan ikan bandeng pindangan di pasar-pasar tradisional di Sidoarjo, perut ikan pasti diisi gulungan daun pisang. Untuk apa disumpal begitu? Ya, supaya dalam proses pemindangan ikan tidak melengkung, tetap lurus dan kuat seperti ketika masih belum diproses.

ikan bandeng atau Chanos chanos di tahap awal proses pemasakan (doc. pribadi)

ikan bandeng atau Chanos chanos di tahap awal proses pemasakan (doc. pribadi)

Hampir mewek sudah sebab masalah sisik itu. huhu…ikanku pasti hancur! apalagi aku lupa membeli cukup daun jeruk dan daun salam. Jadinya, kubiarkan saja isi perut ikannya kosong. Kesalahan kedua dalam proses! yak! kumplit sodaraaa!  ;))

Mikir dong. Bagaimana agar ikan-ikan bandeng mungil ini tetap aman dari kehancuran! hihihihi..

Nah! ini triknya: memasaknya dengan api kecil dan tidak terlalu lama. Aahayyy! 😀

Baik dengan sisik atau tanpa sisik, setelah proses pemindangan (direbus atau dikukus) ikan harus dipindahkan dengan hari-hati. Ikan yang matang mudah sekali hancur bukan? 🙂

Setelah dibumbui kuning tadi, ikan dipindang (pemindangan) kali ini kupilih dengan merebusnya. Sebab kukusan masih mengantri. Sedang kugunakan mengukus tahu sebelum proses memasaknya menjadi tahu bacem. 🙂

ikan bandeng setelah melalui pemindangan dan tahu yang siap dibacem juga sayuran yang selalu wajib ada di kulkas :D (doc. pribadi)

ikan bandeng setelah melalui pemindangan dan tahu yang siap dibacem juga sayuran yang selalu wajib ada di kulkas 😀 (doc. pribadi)

10-15 menit atau sampai terlihat ikan setengah matang saja. Tunggu hingga air rebusan mendingin baru ikan ditiriskan. Setelah itu, ikan bisa disimpan di dalam fresher dalam jangka waktu yang lebih lama daripada menyimpannya dalam kondisi mentah. Atau bisa juga langsung digoreng, setelah tiris, dan ikan sudah berasa gurih. sekalian durinya dimakan? Tentu saja bisa, lebih crunchy! hehe yaa..ini sebab ukuran ikannya kecil. Tapi tidak demikian jika ikannya besar, namun yang jelas, rasa dangingnya lebih lebih terasa sangat gurih. 🙂

Nah! Kesalahan prosesing dalam memasak apakah membuat makanan bisa tetap enak? Jawabnya tentu saja iya! Pakai tanda seru! hihihi.. itu semua tergantung bagaimana kita menyiasati tahap atau proses berikutnya.

Bukankan setiap ibu rumah tangga itu chef terhebat di rumah? Wiiihiiyyy! :p

 

 

 

 

 

 

———————eon

kdr1954120113

[curcol] Rindu padanya, selalu merajalela!

Posted on

repost from multiply Jun 16, ’11 9:58 PM

Image

 

 

tahu tek ini makanan khas surabaya
paporitkulah! 😀

di sini, kumodifikasi dengan krupuk remis, bikinan orang osing.hihihi..pdhl biasanya pake krupuk udang.

isinya tetep donk: lontong, tahu goreng setengah matang, kentang rebus yg digoreng pulak, telor dadar yg isi tahu dan irisan daun bawang, ples ditaburi kecambah pendek.
dan sambelnya ini nih. petisnya ku impor dari sidoarjo! halah :p

selamat makan epribadeh! :d [padahal ini jam sepuluh malem! wkwkwk] :p

 

%d bloggers like this: