RSS Feed

Tag Archives: kediri

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

[INFO SEMINAR] JURUS SEHAT RASULULLAH

Posted on

Bismillahirrahmaanirrahiim

PENGIN SEHAT SEPERTI SEHATNYA RASULULLAH ???

Jangan Lewatkan YanG SATU ini
Seminar
“Mengungkap Jurus Sehat Rasulullah”

Bersama : dr.Zaidul Akbar,MM
– Praktisi dan Trainer Kedokteran Islam Internasional
– Inspirator Sehat Islami Indonesia
– Ketua Asosiasi Bekam Indonesia
– Motivator Muslim Internasional
– Penulis Buku Jurus Sehat Rasulullah.

Pelaksanaan
Minggu, 27 April 2014
Pukul 08.00-15.00 wib
LEC Perguruan Muhammadiyah
Jl. Penanggungan 1-5 Mojoroto – Kediri
HTM : Rp 60.000

Tiket Box :
cp DINI 08175201644

Sekretariat Institut Thibbun Nabawi Indonesia (INTI) Cabang Jatim
Jl.Merdeka No.52 Blitar
Hp.081233761789

[review buku] Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe — Olivier Johannes Raap

Posted on

Alhamdulillah, akhirnya, saya senang sekali mendapatkan kesempaan berkunjung ke Museum Airlangga yang satu lokasi dengan goa Selomangleng. Berkali-kali diundang kawan-kawan dari berbagai komunitas saya selalu saja mendapati halangan untuk datang, kebanyakan karena sakit, hehe, alhamdulillah sakit. 😉

Hari itu, Sabtu, tanggal 22 September 2013, dengan kondisi kaki yang baru saja pulih dari trauma, Allah akhirnya mengijinkan saya berjumpa dengan kawan-kawan dari komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah Khadiri, beberapa komunitas sejarah dan budaya dari kota lain, pengrawit dan sinden dari siswa-siswi SMPN 6, dan banyak pengunjung kawasan wisata Selomangleng dari berbagai latar belakang kepentingan dan komunitas.

Tugas saya pagi itu, menjadi narasumber pe-riview, halah, padahal pekerjaan mereview dengan serius sering sekali saya abaikan, hehe.. tapi kehormatan itu saya terima dengan senang hati, dengan niatan semoga Allah menambahkan wawasan dan membuka pintu-pintu segala macam informasi yang saya butuhkan kelak dalam proses kerja dan belajar saya berikutnya.

dan beginilah review saya: ………

cover

Pertama kali yang menjadikan saya takjub saat menerima buku ini adalah tampilannya. Cover yang eksklusif dan kertas isi yang glossy menimbulkan kesan mewah dan kesan ekspensif. Hehe.. namun saya yakin, setelah membuka isinya dan membaca dengan kecintaan, buku ini sepadan dan sangat rekomended dijadikan salah satu koleksi dalam rak buku kita di rumah.

Seperti biasa, kata pengantar adalah menjadi sorotan utama saya sebelum mengubek-ubek isi buku. Pengantar yang ditulis Seno Gumirah Ajidarma, penulis favorit saya tentu saja menyedot perhatian. Memaksa saya untuk tinggal di sana agak lama agar saya tidak tersesat ketika menikmati isi sebuah buku.

Ketakjuban berikutnya, ketika membuka halaman daftar isi. Wow! Saya bilang. Ternyata Mr. Olivier membuat pemetaan yang luar biasa di luar apa yang sedang saya pikirkan. Ini kejutan. Sejarah memang bisa dibaca dari kebudayaan, tradisi dan kebiasaan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kesukaan saya pada pemandangan alam, yang lantas kemudian saya pikir, jika saja dibukukan, mungkin tidak akan menjadi sumber bacaan sejarah, galian detail tentang apa yang pernah terjadi pada nenek moyang kita jauh di tahun-tahun sebelumnya.

Buku ini yang sebenarnya sangat saya sayangkan sebab bukan saya yang menulisnya, atau kawan-kawan dari Jawa sendiri yang menulisnya membuat saya semakin ingin untuk membaca. Namun lantas, disinilah keeksotikan wacana yang diberikan buku ini. Sorotan yang berbeda akan muncul berbeda pula jika penulisnya berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Di luar itu, saya berusaha menelaah, keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh dengan hadirnya buku ini, yang pertama, menduniakan keberadaan bangsa indonesia. Ah itu kan sudah. Iya! Namun ekspos terhadap sesuatu yang secara terus menerus akan memberikan efek lebih dalam, pengenalan yang lebih pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Yang kedua, lewat penjelasan, cara Mr Olivier menyajikan gambar dan cerita yang menunjukkan bahwa memang deskripsi yang dihadirkan melalui studi panjang dan sangat serius, berdampak dengan lebih menasionalkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi di jawa.

Yang ketiga, bagi orang-orang Jawa sendiri, buku ini sepeti bisa dijadikan acuan, bacaan, dan bahan tambahan wawasan untuk lebih mengenali indentitas dirinya sebagai bagian dari sejarah. Untuk kemudian menjadi telaah maju atau sebagi sumber cerita bahwa kecintaan kepada diri pasti akan berdampak pasa pemahaman terhadap apa yang harus dikerjakan di masa berikutnya.

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

Ke empat, buku ini menjadi sumber analisis bacaan sejarah yang menyenangkan. Dengan adanya gambar, kartu pos-kartu pos yang atraktif dan eksotik, sedikit banyak memberikan atau menggugah minat untuk lebih menikmati dalam mempelajari sejarah bangsa.

Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi saya, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Nama-nama fotografer dan penerbit kartu pos-kartu pos yang teridentifikasi juga bukan kerja yang mudah. Ini pun menjadi daya tarik yang unik. Meskipun, secara personal saya berpikir pastilah masih banyak fotografer dan penerbit yang mencetak kartu pos-kartu pos ini, namun pembatasan dalam rangka memberikan gambaran latar belakang yang jelas untuk memberikan dukungan pada sebab lahirnya kartu pos, bisa dianggap cukup elegan.

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

Satu hal yang perlu dicermati dan diwaspadai dari buku ini adalah, adanya gambar yang berkesan agak vulgar. Bagi penulis Belanda ini, mungkin hal tersebut bermakna biasa dan eksotik, namun tidak dalam khasanah batasan norma bagi penduduk Jawa. Akhirnya, buku ini rekomended bagi pembaca dewasa yang bijak.

Terima kasih, kepada @blusukanPASAK (komunitas muda Pelestari Sejarah dan Budaya Khadiri) atas undangannya. ^^

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

 

 

——————————————-eon.

shelter722092013

apa yang membuat kita spesial di mata orang lain?

Posted on

manusia mana yang tak ingin diistimewakan orang lain, diberikan kemudahan-kemudahan. diperlakukan berbeda dan dengan sangat baik dan sopan. setiap orang pasti demikian.

berangkat dari wacana seperti itu, akhirnya manusia-manusia mengambil jalannya masing-masing, saling sikut misalnya. demi mendapatkan perlakuan istimewa. sebab, bukan rahasia, perlakuan istimewa diberikan kepada mereka yang menduduki “kursi.” entah di kelas, di sekolah, di kantor, di organisasi, di er-te, di desa, kelurahan, instasi-instansi, dan sebagainya, dan lainnya. saling serobot demi diperlakukan berbeda dan istimewa.

tidak sedikit pula orang-orang baik berkata, bahwa demi diperlakukan spesial oleh orang lain, pertama dan utama kita harus memperlakukan orang lain pula dengan istimewa, maka barulah kita akan mendapatkannya.

realitanya, tidak sedikit pula yang telah memperlakukan orang lain dengan baik lantas dengan mudahnya mendapat perlakuan istimewa juga seperti yang diharapkan. lalu putus asa, lalu terpuruk, lalu kembalilah saling sikut.

lantas apa yang salah? bagaimana yang benar untuk bisa diperlakukan spesial oleh orang lain?

suara lain mengatakan, tidak ada manusia yang spesial, semua sama derajatnya dimata Allah. jadi perlakukan saja setiap orang sama. sama bagaimana? sementara bertemu pak er-te dengan pak lurah saja baju kita sudah beda rek! hehe

sama bagaimana? sementara bertemu presiden dengan berangkat sholat jumat juga beda kostumnya. iya tow? ayolah wis ngaku ajah! hihihi :p

berminggu-minggu yang lalu, dalam liqo, yang sangat saya senangi, diisi oleh seorang du’at. begitulah beliau menyebut dirinya. semangatnya selalu luar biasa ketika menyampaikan materi, dan sebab semangat beliau juga, aku ikut-ikutan meledak-ledak. ciyeeh!

Bu Nia, aku memanggilnya. ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) kota Kediri, koordinator umum paguyuban peduli perempuan kota Kediri sekaligus kepala staf HRD sebuah sekolah Islam terpadu. waktu itu seperti biasa, aku datang selalu terlambat, dan pamit pulang saat kajian belum tuntas, disebabkan ini itu yang harus kukerjakan sendiri, tak ada asisten yang membantu dan atau berbentrokan jadwal dengan kegiatanku yang lain.

meski satu kalimat saja, dari waktuku yang singkat itu, selalu berusaha kucatat dan kurenungkan baik-baik, bahkan sebisanya kushare, tidak hanya melalui blog, bisa jadi ku share di kelompok kajianku yang lain.

judul materi beliau waktu itu “Kedudukan Kekuatan dalam Amal Kebaikan.” tapi jangan ditanya apa keseluruhan isi materi, aku tidak tahu! hihihi

satu kalimat yang tengah dibahas ketika aku berada di sana adalah:

“kekuatan hubungan kita dengan Allah lah yang akan membantu untuk memenangkan hati musuh kita”

jreng! jreeeeng!!!

kalimat itu teringat terus-menerus hingga detik ini. kurenungkan dan kuurai sendiri. sebab keterbatasan waktuku berada di sana waktu itu, menyimak seluruh penjelasan.

akhirnya, sampai di beberapa hari terakhir, aku berpikir demikian;

“jangankan untuk memenangkan hati orang-orang yang kita kasihi/sayangi, memenangkan hati musuh-musuh kita pun kuncinya hanya ada pada seberapa kuat hubungan kita dengan Allah.”

aku berpikir sambil melihat aplikasi yang terjadi di sekitar. di sekitar kawan-kawan pun juga pasti demikian. sifat manusia dimana pun pasti sama, ada yang begini, ada yang begitu, begono, begana, begene hehehe.

akhirnya, bagiku, sesuatu yang akan membuat kita spesial di mata orang lain adalah seberapa tawadu’ (tunduk) nya kita pada Allah Ta’ala.

tawadu’ akan menjadikan kita bersikap biasa-biasa saja, tidak menyombongkan kekayaan, kelebihan-kelebihan dunia. bisa dan mampu memandang orang lain dari kelebihannya, sehingga kita hormat, kita santun, kita memperlakukannya sesuai hak(nya) semestinya mereka diperlakukan.terlebih pada mereka yang berpakaian seadanya, yang berumah begitu-begitu saja, yang hanya bisa berjalan kaki ke mana-mana, dan sebagainya, dan lain-lainnya.

aku menspesialkan kawan-kawanku yang membaca, maka aku menulis.

selamat bermuhasabah. semoga menjadi hamba-hamba yang dimenangkanNya. aamiin.

 

Image

sumber gambar: internet

 

 

 

 

 

———————–eon

kabkdr.shelter7.203907072013

 

[cerita] kebun binatang dalam kelas yoga

Posted on
posisi warior one. kaki belakangnya masih salah. hihihii tapi CEMUNGUD!! ;))

posisi warior one. kaki belakangnya masih salah. hihihii tapi CEMUNGUD!! ;))

“bunda kenapa siy,  latihan yoga terus?”
“tadi bunda yoganya diajari gimana? aku ajari juga dong bunda?”

begitu beberapa macam pertanyaan Karin yang terlontar setiap waktu. untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuhku yang mudah sekali drop sebab terlalu banyak aktivitas, aku berlatih yoga. latihan yoga menjadi fokus pilihan olah raga sejak datang ke kota ini.

iya, di kota Kediri, yoga menjadi salah satu olah raga trend yang begitu digemari. aku beruntung, sebab selama 2 tahun settle di Banyuwangi dan menggali informasi ke sana ke mari untuk mendapatkan informasi tentang pusat latihan yoga, tidak juga kudapati.

kata seorang sahabat di Banyuwangi dulu, dengan berlatih yoga, nafasku akan terlatih lebih panjang dan pasti jadi tambah merdu ketika qiroat. tentu saja mendengar itu aku semakin semangat untuk mencari di mana pusat latihan yoga berada.

sampai datang di kota ini, tidak lama, pajang saja pengumuman di twitter dan secepat kilat informasi berdatangan dan langsung menghubungkanku dengan instrukturnya. Mrs. Rina Agustin.

pertama kali bertemu beliau, aku kagum dengan sikap tubuh, wajahnya yang cantik dan tenang. wah! jadi tambah tersupport untuk segera bergabung. 😛

tapi, cerita kali ini tidak berpusat pada rasa excited ku, namun, pada Karin.

bermula dari dikirimnya fotoku di grup whastapps yoga yang sedang melakukan pose-pose sulit, Karin melihatnya lalu mencobanya di rumah. amazing! dia malah langsung bisa tanpa pemanasan, melakukan streching tertentu sesuai untuk main pose-nya. akhirnya kufoto dan kukirimkan foto Karin ke grup whastapps.

meniru gerakan bunda: pose kayang yang berangkat dari pose yang aku lupa namanya hihihi.

meniru gerakan bunda: pose kayang yang berangkat dari pose yang aku lupa namanya hihihi.

riuh komentar kawan-kawan, akhirnya pada akhir pembicaraan, Karin disarankan untuk ikut kelas yoga for kids.

antusias sekali tentu saja sambutan Karin ketika kutawari bergabung dalam kelas. dan hari ini, segera setelah keluar gerbang sekolahnya, dia kugandeng bergegas menuju ke tempat latihan.

waaaahh! ternyata sampai di sana sudah di mulai latihannya. dan krucil-krucil yang memang dibatasi jumlahnya sedang cekikikan mengikuti gerakan intruktur yang dibawakan dengan cara mendongeng, memvisualisasikan setiap gerakan seperti sedang bermain. Karin yang saat itu baru bergabung, langsung saja merasa percaya diri untuk ikut bersuara.

memperagakan gerakan-gerakan hewan, kodok, ulat, kupu-kupu, ikan hiu, pohon yang tertiup angin, dan ada lagi gerakan membuat burger. bener-bener serasa ada di kebun binatang dan bermain.

kelas yoga for kids pagi tadi membuat semua anak tertawa-tawa kegirangan. meskipun aku tahu, setiap gerakan berfungsi untuk menguatkan dan melenturkan tubuh.

meskipun aku ingin sekali Karin berlatih alat musik dan mahir memainkan berbagai alat musik yang sudah ada di rumah, seperti Koko (Eyang kakung/ayahku) namun karena kecenderungan Karin yang menyukai kegiatan fisik, maka, iya, ini olah tubuh pertama yang kukenalkan padanya untuk dipelajari lebih intensif di luar sekolahnya.

sore ini, dia memintaku mengantarkannya lagi untuk bergabung di kelas yoga for kids, LAGI!!!

hihihihihi….ya! karena dia sangat menyukai bermain dan bernyanyi dalam latihannya tadi. menyenangkan! ^_^

standing pose, pesawat terbalik, posisi roda/ kayang penuh (ki-atas-bawah)

standing pose, pesawat terbalik, posisi roda/ kayang penuh (ki-atas-bawah)

 

 

 

kabkdr173020042013

catatan perjalanan kapten : inovasi wingko

Posted on

wpid-IMG-20130316-WA0002.jpg

Bagian dari sebuah perjalanan adalah adanya reportase, eh bukan, tapi catatan harian. seperti catatan harian milik kapten Patrick dalam film Startrek. 😀

Yah, kali ini pesawat luar angkasa kapten mendarat di sebuah warung bakso kecil yang memiliki banyak sekali pilihan gorengan. hihihi.. padahal sudah tahu, menghindari mengkonsumsi gorengan (makanan berminyak adalah sehat) itu sebuah kebajikan. halah. :p

gorengan bakso

aneka pilihan gorengan yang bisa terfoto, saking banyaknya pilihan sampai susah pilih angel. ;))

warung bakso ini terletak di pinggir jalan propinsi, jalur menuju kota Nganjuk dari kota Kediri bagian barat. tapi sayang, aku sedang tidak ingin mencatatkan soal baksonya atau gorengannya. tapi tentang bungkusan kecil yang ditata rapi dalam etalase warung, bertuliskan “WINGKO COIN”

 

wpid-IMG-20130316-WA0003.jpg

isi 10 biji dihargai Rp 3500,-

masyarakat Jawa Timur tentu familiar dengan makanan bernama wingko. jenis makanan yang paling mudah dibuat di rumah-rumah untuk sajian hajatan atau bahkan sekedar pendamping teh dan kopi.

semakin familiar dengan produk wingko dari kota Lamongan yang biasa kita sebut dengan Wingko Babad, sepertinya sudah menasional. dikenali sebagai makanan khas yang biasa dibeli untuk oleh-oleh. bahkan ketika aku membrowsing menggunakan keyword wingko, kata wingko babad mendapati top rating. hihihi.. keren! Halo Lamongan! ^_^

makanan yang terbuat dari campuran tepung ketan, parutan kelapa, telur dan gula ini memang makanan enak menurutku, dan pasti kawan-kawan pembaca juga mengamini. ayolah ngaku! hihihi :p

nah! wingko coin ini, atau aku lebih senang menulisnya “Wingko Koin” berukuran dengan diameter yang kecil sekali. sekitar 1,5cm saja. lebih kecil dari diameter wingko Babad yang berkisar antara 2-3cm.

meski awalnya tidak berniat benar membeli wingko koin ini, sesampai di rumah dan mencicipinya aku langsung jatuh cinta. sumpah! halaaaaah! :)) :p

apalagi sampai bengong mendapati Karin yang tiba-tiba datang, menjumputnya sebiji dan membawanya lari sambil sembunyi untuk dimakannya sendiri. Kariiiiiiiinnn…..give me moreee! :))

dibanding wingko babad, wingko koin ini terasa lembut di mulut dan lebih empuk. inilah memang keajaiban wingko, seperti jenang atau dodol yang harus di-inapkan untuk bisa digigit atau dinikmati dengan mudah, mestinya wingko bertekstur keras, tapi bukan sekeras batu lho. hihihi..

maksudnya tekstur untuk siap digigit bukan lengket di gigi seperti ketika wingko masih baru diangkat dari bakaran/oven.

tekstur lembutnya ini yang meskipun sudah di-inapkanlah yang membuatku langsung melting. *lebay* apalagi bagiku yang tidak terlalu suka manis, wingko koin ini tergolong memiliki takaran gula yang pas. mak nyuss! kata pak Bondan. joss gandooss! kata Soimah. walaaah!! :p

persis bikinan ibu di rumah, huwaa jadi homesick! :p

okelah, jika berkunjung ke kota ini, meskipun belum dijual secara “besar” seperti wingko babad, wingko koin kurekomendasikan menjadi satu lagi jenis oleh-oleh yang bisa dibawa pulang selain tahu kuning, gethuk pisang, dan stik tahu khas Kediri.

———————————eon.

kotakdr160320132316

%d bloggers like this: