RSS Feed

Tag Archives: anak

Untuk Siapa Ucapan ‘Selamat Hari Pendidikan Nasional’?

Posted on

Terlalu sering dan banyak melihat kesusahan dan kesedihan orang lain sering kali membuat kita juga lupa bagaimana tertawa tergelak lepas, sementara nurani menyadari apa-apa yang terjadi pada orang lain adalah juga tanggung jawab diri, menjadi media (penyampai) rahmat Allah yang telah tergaris dalam Al Qur’an yang sempurna.
Terbentukknya masyarakat rabbani, anak-anak shalih yang jelas terjaga akhlak dan terjaga keamanannya, dari sistem pendidikan yang tidak kondusif, dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif, dari sistem pemerintahan yang tidak kondusif pula.
Kesadaran diri untuk memahami, bahwa sistem tidak bisa diubah dengan hanya menuntut sistem namun menawarkan solusi, bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan visi dan misi yang sama; meng-edukasi bangsa, adalah poin crusial yang jelas harus dikerjakan setiap individu sesuai dengan perannya masing-masing.
Diri mendidik diri
Orang tua mendidik anak
Kepala keluarga mendidik keluarga
Suami dan istri yang saling bertukar ilmu
Dan begitu seterusnya setiap individu mesti mengaktivasi perannya masing-masing, sebagai mertua, menantu, anak, guru, karyawan, pekerja kasar, penjual di pasar, dan seterusnya,
Yang tidak lepas dari “user human manual” apa itu? Al Qur’anul Kariim

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Bagi seluruh bangsa Indonesia. Kesetaraan mendapatkan informasi di era digital ini harusnya memberikan kemampuan kepada kita semakin tawadu’ sebab menyaksikan bahwa tidak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya, tidak ada batasan umur, tidak pula ada batasan gender, atau bahkan tidak ada batasan predikat atas pekerjaan yang kita sandang. Semuanya sama dalam setiap lapisan masyarakat; bertanggung jawab atas pendidikan bangsa yang lebih baik.

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Sekali lagi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan meluruskan jalan kita. Aamiin

———–eon.
Taman Simpang Lima Gumul,0830.02052014

Advertisements

[curcol] terompet tahun baru

Posted on

Semalam, lepas isya’ Karin pamit untuk tidur lebih dulu. aku mengiyakan tanpa mengantarnya tidur seperti biasa, sibuk menginstal software yang dibutuhkan leptopku yang baru saja jebol beberapa hari lalu, hehe
tanpa menoleh, aku mendengar Karin menutup pintu kamarnya. tentu saja membuatku berasumsi, ia tidur di kamarnya sendiri, bukan di kamarku, seperti malam-malam lainnya ketika abi-nya harus menginap di kantor.

pukul 21:00 kira-kira, petasan pertama meledak kencang di depan rumah. Yaa Salaam, spontan beristigfar lalu lari ke kamar Karin, mengeceknya apakah ia terbangun dengan gelisah dan terkejut, kepanikan bertambah, saat pintu kamar yang terbuka itu tidak menyodorkan sosok Karin di atas tempat tidurnya. Yaa Allah, anak ini dimanaaa?
cepat-cepat saja kucari di bawah, di samping kasur, di sudut kamar, tempat biasanya dia membuat tempat tidurnya sendiri seolah kemping! hihihi

hasilnya? none!

lari deh, aku ke kamarku. bersyukur dia ternyata tidur pulas di sana dengan menyalakan kipas angin mini warna kuning hadiah pamannya/amminya(adik bungsuku). bersyukur ia nyenyak tak terganggu bunyi petasan. 🙂
pagi ini, ia bangun seperti biasa, lebih segar dari kemarin, melompat dari tempat tidur, meminta ijin memakai laptopku dan mencium pipiku lamaaaaaaaa sekali sampai kami berdua sama-sama kehabisan nafas dan tergelak bersama. ciuman itu kami namakan ciuman tempel! hihihi
sebab selain menciumnya nempel lama banget, pasti salah satu dari kami akan berkata “aduh! aduh! nempel nih! gak bisa lepas!” hihihi

beberapa saat memakai laptop, teman-temannya bersepeda di luar rumah sambil meniup terompet mereka. dan Karin lari ke jendela, sembari kutegur,
“Karin, jangan usil, biarin ah. lagian malu auratmu kelihatan!”
“gak, cuma mau ngomong dikit sama temen-temenku dari sini.”
“mas! dimas! gak usah tiup-tiup terompet! berisiiiikkk taauuukk! gak bisa niup terompet aja gitu, huu….!”
*tepok jidaaaddhh* haduuuh …
si Karin pasti berpikir, niup terompet tahun baru harus berirama seperti meniup terompet alat musik. yaelaaahh…
*ngikik sendiri* :p ;))

dan teman-temannya pun semakin kencang meniup terompet, sementara Karin sudah mencari baju mainnya untuk lari keluar. halaaah..halaaaah… padahal belum mandi 😦 😦

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

[curcol] sayur purap-purap

Posted on

Peristiwanya sekitar seminggu lalu. Aku membawa pulang lucnh box dari menghadiri acara seminar di pendopo kabupaten, salah satu acara dalam rangkaian peringatan hari ibu ke-85 kabarnya.

Seminar belum selesai, aku cabut, meski dapat kursi duduk paling depan sendiri, berlalu sambil dilihat orang banyak, ya cuek saja. Karena harus menjemput Karin di sekolah dan menghadiri undangan di tempat yang lain. Duuuh..sok sibuk gituh! :p

Dari pendopo kuluncurkan kendaraanku ke sekolah Karin, sudah terlambat dua jam aku menjemputnya. Tapi Karin tak protes, sebab aku sudah berpesan padanya akan terlambat menjemput. Begitulah memang selama ini jika aku harus menghadiri acara. Segera setelah pamit dengan gurunya, aku melarikan kendaraan pulang, mengajak makan berdua sebuah lunch box dari seminar tadi.

Aku makan yang ini, Karin makan yang itu, sambil sedikit mengobrol sebab harus juga bersiap ke acara berikutnya.

“Rin, perhatikan, ini ada sayuran, tahu namanya apa?”

“Hem!” melirikku dan sayur dalam lunch box sekilas sambil menaikkan alisnya. Sementara tangannya sedang berusaha membuka aplikasi game di tablet.

“Ini namanya URAP-URAP, perhatikan nih.”

“He em!” liriknya lagi sambil menaikkan alis kali ini tanda mengerti.

“Iiiih..dilihat yang bener dong. Diperhatikan. Sayurannya dimasak matang dengan kelapa parut yang dimasak dengan bumbu.”

“Iya..iya..sudah kuperhatikan.”

“Apa coba tadi namanya?”

“PURAP-PURAP!” jawabnya serius.

“Iiiiih…URAP-URAP.”

“Iya…PURAP-PURAP.”

“Yaelaaaah…..cape deeehh! Perhatikan mulutnya bunda,”

“UUU-RAAP-UUU-RAAP.” ulangku pelaaan sambil cekikikan.

“Oke deh, Bunda. Aku tahu sekarang namanya.”

“Iya sambil dilihat niy,” kuminta sekali lagi Karin memperhatikan dengan seksama.

“Iya, Bunda, namanya PURAP-PURAP.”

“Haaa?? Apaa?”

“Eh, sori, urap-urap ya?!” katanya sambil tertawa tergelak keras sekali.

“Aku kan suka godain Bunda.”

Dangsaaaarrrr………..! :))) 😛

 

 

 

Image

sayur urap-urap bukan buatanku, tapi baru saja kudownload dari google :p

 

 

 

—————————————eon

shelter7.23121013.2238

 

[Kajian parenting 1] : Darimana Anak-anak Shalih Berasal?

Posted on

[hadist qudsi]

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “ Sesungguhnya Allah Swt. Akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga; hamba itu kemudian berkata, ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini?’ Maka Allah Swt. Berfirman, ‘Dari istigfar anakmu.’”

[HR Imam Ahmad] (Mustafa bin ‘Adawi, As-Shahiihul Musnad minal Ahaaditsul Qudsiyyatu, t.t.: 198)

Betapa perkembangan jaman sekarang ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua-orang tua yang peduli dan berpikir pada keselamatan anak-anak mereka jauh di depan. Dan betapa orang tua-orang tua jaman ini dituntut lebih keras berusaha menjadikan anak-anak yang siap menghadapi jamannya beberapa tahun lagi sepanjang hidupnya dan menjadikan anak-anak shalih, yang ketika di hari akhir nanti bisa menjadi penolong orang tuanya, ter-entas dari siksa neraka, termuliakan dengan naiknya derajat orang tua dari lapis surga paling bawah menuju surga tertinggi.

Berangkat dari kondisi jaman yang terus dan semakin menawarkan kekacauan, dan berpegang pada hadist qudsi di atas, anak-anak yang bisa beristigfar yang dimaksud tentu bukanlah istigfar yang biasa. Namun istigfarnya anak yang shalih, yang tunduk kepada Rabb-nya, dan begitu dalam mencintai orang tuanya.

Itulah tugas kita, para orang tua kepada anak-anaknya, ladang amalan-pahala negeri akhirat, membawakan dan menghadirkan cinta kepada Rabb-nya, mengenalkan anak-anak pada Rabb-nya sehingga mereka kelak menjadi anak-anak shalih pemulia orang tuanya.

Pertanyaan berikutnya yang lahir adalah;  bagaimana menjadikan anak-anak pandai beristigfar dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri bahkan sampai jauh ketika kita (orang tua) telah kembali berpulang ke rahmatullah? Sampai jauh ketika kita tidak lagi bersama mereka?

1. Memperbaiki komitmen dan niat pernikahan

Bagi yang belum menikah, point ini crusial. Meluruskan niat, bahwa menikah disebabkan karena kecintaannya pada Allah Swt dan Rasulnya. Menyempurnakan setengah diin (agama). Bukan sebab ingin memperbaiki keturunan saja, memperbaiki kemampuan finansial saja, dan sebagainya, dan seterusnya.

Lalu bagimana dengan yang sudah terlanjur menikah tapi jika di-flash back niatannya hanya bersifat duniawi saja? Point ini juga penting. Bagaimana kemudian antara suami dan istri mendiskusikan kembali MoU (memorandum of understanding) atau aturan pokok kesepahaman dalam kerjasama, begitu gurau bu Nia menyampaikan. Perjanjian yang jelas dengan melibatkan Allah di dalamnya, akan jelas pula apa yang akan dikerjakan suami, apa yang dikerjakan istri dan apa yang mesti dilakukan anak-anak.

Screenshot_2013-10-15-09-32-00

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahriim : 6]

Semua tujuannya jelas; keselamatan diri dan keluarga dari siksa neraka. Maka setiap individu anggota keluarga akan bergerak ke arah yang sama, menjadi rahmat (petunjuk) satu sama lain demi keselamatan dan berkumpulnya kembali keluarganya, yang tentu bukan di tempat yang tidak kita inginkan.

2. Menghadirkan suasana yang hangat dalam rumah

Setiap anggota keluarga yang paham dirinya sebagai rahmat bagi anggota keluarga yang lain, langkah berikutnya adalah dan otomatis akan tercipta atmosfir yang hangat dan saling dukung. Kalau pun belum, maka suasana yang hangat di dalam keluarga haruslah diupayakan oleh orang tua-orang tua, sebagai media pendidik Allah kepada anak-anaknya.

Dibanyak kasus yang terungkap, di Kediri, anak-anak yang sulit dikendalikan, anak-anak yang melakukan tindak kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya, Lembaga Perlindungan Anak Kediri menyatakan, mereka memiliki keluarga yang dingin, suasana yang tidak mendukung dirinya (anak) dihargai sebagai individu yang berharga.

Anak-anak yang secara terus menerus mendapatkan suasana yang tidak membuat diri mereka nyaman, dengan orang tua-orang tua yang sibuk sendiri-sendiri, menjadikan mereka anak-anak yang tidak pula peduli dengan sesamanya, lingkungannya.

Berikut doa yang dianjurkan:

1

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” [QS. Al Furqaan : 74]

Menurut ustad Muhammad Hatta, inilah doa yang mesti kita minta secara istimror (berkelanjutan, tak putus) sehingga senantiasa kita akan mendapati pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati. Beliau juga menyampaikan, doa ini adalah sebagai salah satu bentuk usaha yang wajib untuk diwujudkan. Dalam artian, mewajibkan diri untuk mewujudkan pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati, selain dengan berdoa, di dalamnya terkandung makna, diri, sebagai individu anggota keluarga akan bergerak sesuai porsinya menjadi rahmat bagi anggota keluarga yang lain, saling mengingatkan kebaikan dan ketaqwaan.

“…dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

Masih menurut ustadz Hatta, kalimat itu adalah kalimat visioner. Kalimat yang memacu diri untuk bergerak lebih dahulu dalam kebaikan, lalu menginspirasi orang-orang baik lainnya. Sebagai stimulus untuk terus berinovasi dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Sehingga dari sanalah kita akan melihat betapa ghiroh (kekuatan azzam), keras dan bulatnya tekad untuk memacu diri menjadi orang yang bertaqwa. Banyangkan saja, jika sikap ini sudah dicontohkan oleh suami kepada istri, dicontohkan ayah dan bunda kepada anak-anak. Kebaikan-kebaikan dalam jalan taqwa akan membentuk karakter anak-anak yang kuat dan nyaman, lantas di jaman kemudian mereka mandiri tanpa orang tua, mereka mampu pula menginspirasi sekitarnya untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Segala puji bagiNya pemilik semesta alam, yang bersemayam di ‘Arsy yang angung.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian Ibu Kurnia Lestari, Koordinator Program Lembaga Perlindungan Anak Kota Kediri

Dan tokoh Tarbiyatul Aulad fil Islam (Parenting dalam keIslaman) Kediri, Ustadz Muhammad Hatta.

—————————-eon

Shelter7.3to15102013.1056

apa yang membuat kita spesial di mata orang lain?

Posted on

manusia mana yang tak ingin diistimewakan orang lain, diberikan kemudahan-kemudahan. diperlakukan berbeda dan dengan sangat baik dan sopan. setiap orang pasti demikian.

berangkat dari wacana seperti itu, akhirnya manusia-manusia mengambil jalannya masing-masing, saling sikut misalnya. demi mendapatkan perlakuan istimewa. sebab, bukan rahasia, perlakuan istimewa diberikan kepada mereka yang menduduki “kursi.” entah di kelas, di sekolah, di kantor, di organisasi, di er-te, di desa, kelurahan, instasi-instansi, dan sebagainya, dan lainnya. saling serobot demi diperlakukan berbeda dan istimewa.

tidak sedikit pula orang-orang baik berkata, bahwa demi diperlakukan spesial oleh orang lain, pertama dan utama kita harus memperlakukan orang lain pula dengan istimewa, maka barulah kita akan mendapatkannya.

realitanya, tidak sedikit pula yang telah memperlakukan orang lain dengan baik lantas dengan mudahnya mendapat perlakuan istimewa juga seperti yang diharapkan. lalu putus asa, lalu terpuruk, lalu kembalilah saling sikut.

lantas apa yang salah? bagaimana yang benar untuk bisa diperlakukan spesial oleh orang lain?

suara lain mengatakan, tidak ada manusia yang spesial, semua sama derajatnya dimata Allah. jadi perlakukan saja setiap orang sama. sama bagaimana? sementara bertemu pak er-te dengan pak lurah saja baju kita sudah beda rek! hehe

sama bagaimana? sementara bertemu presiden dengan berangkat sholat jumat juga beda kostumnya. iya tow? ayolah wis ngaku ajah! hihihi :p

berminggu-minggu yang lalu, dalam liqo, yang sangat saya senangi, diisi oleh seorang du’at. begitulah beliau menyebut dirinya. semangatnya selalu luar biasa ketika menyampaikan materi, dan sebab semangat beliau juga, aku ikut-ikutan meledak-ledak. ciyeeh!

Bu Nia, aku memanggilnya. ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) kota Kediri, koordinator umum paguyuban peduli perempuan kota Kediri sekaligus kepala staf HRD sebuah sekolah Islam terpadu. waktu itu seperti biasa, aku datang selalu terlambat, dan pamit pulang saat kajian belum tuntas, disebabkan ini itu yang harus kukerjakan sendiri, tak ada asisten yang membantu dan atau berbentrokan jadwal dengan kegiatanku yang lain.

meski satu kalimat saja, dari waktuku yang singkat itu, selalu berusaha kucatat dan kurenungkan baik-baik, bahkan sebisanya kushare, tidak hanya melalui blog, bisa jadi ku share di kelompok kajianku yang lain.

judul materi beliau waktu itu “Kedudukan Kekuatan dalam Amal Kebaikan.” tapi jangan ditanya apa keseluruhan isi materi, aku tidak tahu! hihihi

satu kalimat yang tengah dibahas ketika aku berada di sana adalah:

“kekuatan hubungan kita dengan Allah lah yang akan membantu untuk memenangkan hati musuh kita”

jreng! jreeeeng!!!

kalimat itu teringat terus-menerus hingga detik ini. kurenungkan dan kuurai sendiri. sebab keterbatasan waktuku berada di sana waktu itu, menyimak seluruh penjelasan.

akhirnya, sampai di beberapa hari terakhir, aku berpikir demikian;

“jangankan untuk memenangkan hati orang-orang yang kita kasihi/sayangi, memenangkan hati musuh-musuh kita pun kuncinya hanya ada pada seberapa kuat hubungan kita dengan Allah.”

aku berpikir sambil melihat aplikasi yang terjadi di sekitar. di sekitar kawan-kawan pun juga pasti demikian. sifat manusia dimana pun pasti sama, ada yang begini, ada yang begitu, begono, begana, begene hehehe.

akhirnya, bagiku, sesuatu yang akan membuat kita spesial di mata orang lain adalah seberapa tawadu’ (tunduk) nya kita pada Allah Ta’ala.

tawadu’ akan menjadikan kita bersikap biasa-biasa saja, tidak menyombongkan kekayaan, kelebihan-kelebihan dunia. bisa dan mampu memandang orang lain dari kelebihannya, sehingga kita hormat, kita santun, kita memperlakukannya sesuai hak(nya) semestinya mereka diperlakukan.terlebih pada mereka yang berpakaian seadanya, yang berumah begitu-begitu saja, yang hanya bisa berjalan kaki ke mana-mana, dan sebagainya, dan lain-lainnya.

aku menspesialkan kawan-kawanku yang membaca, maka aku menulis.

selamat bermuhasabah. semoga menjadi hamba-hamba yang dimenangkanNya. aamiin.

 

Image

sumber gambar: internet

 

 

 

 

 

———————–eon

kabkdr.shelter7.203907072013

 

[cerita] Si Karin Jadi Bolang

Posted on
hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

seperti siang biasanya, selepas Karin pulang sekolah, di rumah dia pasti akan menyibukkan dirinya dengan mainan dan berbagai variasi. sedang aku, seperti ibu rumah tangga lainnya yang tak memiliki asisten rumah, tentu saja berkutat dengan pekerjaan rumah dan membaca-baca literatur untuk bahan menulis.

secara kontinyu, meski aktivitas kami berdua berbeda, kontak personal masih juga kujaga dengannya. menengoknya sedang bermain di bagian rumah yang mana, melihat mainannya, atau sekedar berbicara dari tempatku duduk, bertanya “Karin di mana?” atau “Karin sedang apa?” sambil tanganku bekerja.

siang kemarin, jenuh dari tempatku duduk, aku bangkit, berjalan menuju ruang mainan Karin di sebelah. kosong. dan pintu samping yang langsung menuju pintu pagar terbuka lebar. sedangkan beberapa saat yang lalu kututup rapat sebab khawatir debu dari rumah tetangga yang sedang direnovasi tepat di seberang rumah, masuk.

“Karin di mana?” tanyaku sambil celingukan.

tak ada sebuah jawaban pun. melihat pintu samping terbuka, aku langsung bergegas keluar. dan ternyata, kudapati karin sudah nongkrong dengan asyiknya di atas pagar!

hiyaaaaa…..!

lalu sambil cengar-cengir, dia bergegas turun, berlari ke arahku.

“Ada apa, Bunda?”

“Kamu ngapain di situ? neropongin pak tukang?”

dia tertawa tergelak sambil malu-malu. di lehernya memang tergantung teropong kecil mainan yang di belinya dengan harga seribu rupiah. dulu, waktu masih di banyuwangi.

tentu saja aku tertawa kegelian. dasar anak-anak! ;))

“Bunda bantu aku menabung ya, supaya aku bisa membeli teropong yang mahal, teropong untuk bisa melihat bintang.” begitu katanya kemudian.

“Hmm! Kita nabung terus tak perlu jajan jika begitu.”

“Okey!” kemudian dia berlari lagi keluar, meneropong kembali pekerjaan pak tukang. hihihii..

—————eon.

kabkdr140320132348

[cerita pagi] ketupat

Posted on

penjor

“wih, bunda! ada ketupat!” begitu teriak karin ketika pagi tadi kubonceng dia berangkat sekolah.

di depan perumahan, memang sedang dipasang penjor. hiasan dari janur atau daun kelapa yang masih muda untuk menandai ada orang yang sedang memiliki hajat di dekat-dekat penjor dipasang.

mendengar teriakan karin yang spontan, tentu saja aku tergelak. masa ketupat diberdirikan di pinggir jalan begitu. hihihi…

ya, seperti setiap pagi lainnya, aku selalu menikmati waktu ketika mengantar karin berangkat sekolah. setiap pagi dia akan melontarkan pertanyaan tentang apa saja yang ada dalam jangkauan pengamatannya sepanjang jalan. dan waktu itulah aku merasa sangat nyaman untuk memulai bercerita.

di sinilah kekuatan cerita yang aku yakin akan dikenangnya sepanjang hidupnya. seperti ketika kecil, ketika dibonceng ayah pergi ke mana saja, lalu aku meminta berhenti karena melihat sesuatu yang tak biasa kujumpai, ayahku akan selalu senantia dengan senang hati memutar kembali laju motornya dan berhenti di mana sebuah objek yang kutanyakan sebelumnya berada. lalu ayah akan bercerita dan aku membawa ceritanya seumur hidupku. ^_^

cerita tidak sekedar kita membacakan dongeng dari buku-buku, atau mengulang cerita-cerita rakyat yang telah turun temurun diulang dari mulut ke mulut. tapi cerita adalah tentang apa saja. semakin rasional dan masuk akal cerita kita, semakin kita terikat semakin dekat dengan anak-anak dan dengan benar memberikan mereka pengetahuan yang bisa jadi luar biasa membantu mereka berpikir dan membuat kesimpulan-kesimpulan yang benar dan baik.

“itu bukan ketupat, kariiinn…!” ;))

“itu penjor dan keduanya sama-sama dibuat dari daun kelapa yang masih muda, janur namanya.”

“janur juga biasa dibuat bungkus kue yang biasa titi (eyang putri) buat, misalnya lepet.”
“daun kelapa yang sudah tua dinamakan blarak, dan blarak tidak biasa dipakai daunnya, kecuali tulang daunnya yang diambil untuk dijadikan penebah (sapu pembersih tempat tidur/ kebyok) atau dibuat sebagai sapu lidi yang biasa bunda pakai untuk membersihkan halaman itu lho.”

“kenapa yang tua tidak dipakai?” tanya karin.

“blarak sudah tidak lentur lagi dilipat-lipat, dilengkung-lengkungkan untuk bikin hiasan.”

“oooh…iya, yang masih muda itu masih lembuuut.” begitu katanya menutup pembicaraan.

dan lagi-lagi aku tergelak.

setiap pagi, sepanjang perjalanan menuju sekolah adalah waktu yang sangat menyenangkan bagiku, demikian bagi karin juga. pengetahuan baru pasti membuatnya lebih percaya diri ketika bergaul dengan teman-temannya. dan memang, dia anak yang sangat percaya diri dan adaptif.

Maha Suci Allah, yang selalu mengirimkan kenyamanan dalam kehidupan kita. aamiin.

jadi? siapa yang mau makan ketupat yang dipajang di pinggir jalan itu? hihihii…

kamu ya? ngaku ajalah! 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

———-eon.

kdr090105032012

 

%d bloggers like this: