RSS Feed

Tag Archives: anak-anak

[curcol] terompet tahun baru

Posted on

Semalam, lepas isya’ Karin pamit untuk tidur lebih dulu. aku mengiyakan tanpa mengantarnya tidur seperti biasa, sibuk menginstal software yang dibutuhkan leptopku yang baru saja jebol beberapa hari lalu, hehe
tanpa menoleh, aku mendengar Karin menutup pintu kamarnya. tentu saja membuatku berasumsi, ia tidur di kamarnya sendiri, bukan di kamarku, seperti malam-malam lainnya ketika abi-nya harus menginap di kantor.

pukul 21:00 kira-kira, petasan pertama meledak kencang di depan rumah. Yaa Salaam, spontan beristigfar lalu lari ke kamar Karin, mengeceknya apakah ia terbangun dengan gelisah dan terkejut, kepanikan bertambah, saat pintu kamar yang terbuka itu tidak menyodorkan sosok Karin di atas tempat tidurnya. Yaa Allah, anak ini dimanaaa?
cepat-cepat saja kucari di bawah, di samping kasur, di sudut kamar, tempat biasanya dia membuat tempat tidurnya sendiri seolah kemping! hihihi

hasilnya? none!

lari deh, aku ke kamarku. bersyukur dia ternyata tidur pulas di sana dengan menyalakan kipas angin mini warna kuning hadiah pamannya/amminya(adik bungsuku). bersyukur ia nyenyak tak terganggu bunyi petasan. 🙂
pagi ini, ia bangun seperti biasa, lebih segar dari kemarin, melompat dari tempat tidur, meminta ijin memakai laptopku dan mencium pipiku lamaaaaaaaa sekali sampai kami berdua sama-sama kehabisan nafas dan tergelak bersama. ciuman itu kami namakan ciuman tempel! hihihi
sebab selain menciumnya nempel lama banget, pasti salah satu dari kami akan berkata “aduh! aduh! nempel nih! gak bisa lepas!” hihihi

beberapa saat memakai laptop, teman-temannya bersepeda di luar rumah sambil meniup terompet mereka. dan Karin lari ke jendela, sembari kutegur,
“Karin, jangan usil, biarin ah. lagian malu auratmu kelihatan!”
“gak, cuma mau ngomong dikit sama temen-temenku dari sini.”
“mas! dimas! gak usah tiup-tiup terompet! berisiiiikkk taauuukk! gak bisa niup terompet aja gitu, huu….!”
*tepok jidaaaddhh* haduuuh …
si Karin pasti berpikir, niup terompet tahun baru harus berirama seperti meniup terompet alat musik. yaelaaahh…
*ngikik sendiri* :p ;))

dan teman-temannya pun semakin kencang meniup terompet, sementara Karin sudah mencari baju mainnya untuk lari keluar. halaaah..halaaaah… padahal belum mandi 😦 😦

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

Advertisements

[Kajian parenting 1] : Darimana Anak-anak Shalih Berasal?

Posted on

[hadist qudsi]

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “ Sesungguhnya Allah Swt. Akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga; hamba itu kemudian berkata, ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini?’ Maka Allah Swt. Berfirman, ‘Dari istigfar anakmu.’”

[HR Imam Ahmad] (Mustafa bin ‘Adawi, As-Shahiihul Musnad minal Ahaaditsul Qudsiyyatu, t.t.: 198)

Betapa perkembangan jaman sekarang ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua-orang tua yang peduli dan berpikir pada keselamatan anak-anak mereka jauh di depan. Dan betapa orang tua-orang tua jaman ini dituntut lebih keras berusaha menjadikan anak-anak yang siap menghadapi jamannya beberapa tahun lagi sepanjang hidupnya dan menjadikan anak-anak shalih, yang ketika di hari akhir nanti bisa menjadi penolong orang tuanya, ter-entas dari siksa neraka, termuliakan dengan naiknya derajat orang tua dari lapis surga paling bawah menuju surga tertinggi.

Berangkat dari kondisi jaman yang terus dan semakin menawarkan kekacauan, dan berpegang pada hadist qudsi di atas, anak-anak yang bisa beristigfar yang dimaksud tentu bukanlah istigfar yang biasa. Namun istigfarnya anak yang shalih, yang tunduk kepada Rabb-nya, dan begitu dalam mencintai orang tuanya.

Itulah tugas kita, para orang tua kepada anak-anaknya, ladang amalan-pahala negeri akhirat, membawakan dan menghadirkan cinta kepada Rabb-nya, mengenalkan anak-anak pada Rabb-nya sehingga mereka kelak menjadi anak-anak shalih pemulia orang tuanya.

Pertanyaan berikutnya yang lahir adalah;  bagaimana menjadikan anak-anak pandai beristigfar dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri bahkan sampai jauh ketika kita (orang tua) telah kembali berpulang ke rahmatullah? Sampai jauh ketika kita tidak lagi bersama mereka?

1. Memperbaiki komitmen dan niat pernikahan

Bagi yang belum menikah, point ini crusial. Meluruskan niat, bahwa menikah disebabkan karena kecintaannya pada Allah Swt dan Rasulnya. Menyempurnakan setengah diin (agama). Bukan sebab ingin memperbaiki keturunan saja, memperbaiki kemampuan finansial saja, dan sebagainya, dan seterusnya.

Lalu bagimana dengan yang sudah terlanjur menikah tapi jika di-flash back niatannya hanya bersifat duniawi saja? Point ini juga penting. Bagaimana kemudian antara suami dan istri mendiskusikan kembali MoU (memorandum of understanding) atau aturan pokok kesepahaman dalam kerjasama, begitu gurau bu Nia menyampaikan. Perjanjian yang jelas dengan melibatkan Allah di dalamnya, akan jelas pula apa yang akan dikerjakan suami, apa yang dikerjakan istri dan apa yang mesti dilakukan anak-anak.

Screenshot_2013-10-15-09-32-00

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahriim : 6]

Semua tujuannya jelas; keselamatan diri dan keluarga dari siksa neraka. Maka setiap individu anggota keluarga akan bergerak ke arah yang sama, menjadi rahmat (petunjuk) satu sama lain demi keselamatan dan berkumpulnya kembali keluarganya, yang tentu bukan di tempat yang tidak kita inginkan.

2. Menghadirkan suasana yang hangat dalam rumah

Setiap anggota keluarga yang paham dirinya sebagai rahmat bagi anggota keluarga yang lain, langkah berikutnya adalah dan otomatis akan tercipta atmosfir yang hangat dan saling dukung. Kalau pun belum, maka suasana yang hangat di dalam keluarga haruslah diupayakan oleh orang tua-orang tua, sebagai media pendidik Allah kepada anak-anaknya.

Dibanyak kasus yang terungkap, di Kediri, anak-anak yang sulit dikendalikan, anak-anak yang melakukan tindak kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya, Lembaga Perlindungan Anak Kediri menyatakan, mereka memiliki keluarga yang dingin, suasana yang tidak mendukung dirinya (anak) dihargai sebagai individu yang berharga.

Anak-anak yang secara terus menerus mendapatkan suasana yang tidak membuat diri mereka nyaman, dengan orang tua-orang tua yang sibuk sendiri-sendiri, menjadikan mereka anak-anak yang tidak pula peduli dengan sesamanya, lingkungannya.

Berikut doa yang dianjurkan:

1

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” [QS. Al Furqaan : 74]

Menurut ustad Muhammad Hatta, inilah doa yang mesti kita minta secara istimror (berkelanjutan, tak putus) sehingga senantiasa kita akan mendapati pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati. Beliau juga menyampaikan, doa ini adalah sebagai salah satu bentuk usaha yang wajib untuk diwujudkan. Dalam artian, mewajibkan diri untuk mewujudkan pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati, selain dengan berdoa, di dalamnya terkandung makna, diri, sebagai individu anggota keluarga akan bergerak sesuai porsinya menjadi rahmat bagi anggota keluarga yang lain, saling mengingatkan kebaikan dan ketaqwaan.

“…dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

Masih menurut ustadz Hatta, kalimat itu adalah kalimat visioner. Kalimat yang memacu diri untuk bergerak lebih dahulu dalam kebaikan, lalu menginspirasi orang-orang baik lainnya. Sebagai stimulus untuk terus berinovasi dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Sehingga dari sanalah kita akan melihat betapa ghiroh (kekuatan azzam), keras dan bulatnya tekad untuk memacu diri menjadi orang yang bertaqwa. Banyangkan saja, jika sikap ini sudah dicontohkan oleh suami kepada istri, dicontohkan ayah dan bunda kepada anak-anak. Kebaikan-kebaikan dalam jalan taqwa akan membentuk karakter anak-anak yang kuat dan nyaman, lantas di jaman kemudian mereka mandiri tanpa orang tua, mereka mampu pula menginspirasi sekitarnya untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Segala puji bagiNya pemilik semesta alam, yang bersemayam di ‘Arsy yang angung.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian Ibu Kurnia Lestari, Koordinator Program Lembaga Perlindungan Anak Kota Kediri

Dan tokoh Tarbiyatul Aulad fil Islam (Parenting dalam keIslaman) Kediri, Ustadz Muhammad Hatta.

—————————-eon

Shelter7.3to15102013.1056

[curcol] Namaku, Jono.

Posted on

images (7)

dulu, ketika keluarga besar kami berkumpul. ibu mertuaku bercerita tentang si Alin, saudara sepupu Karin, keponakanku dari adik suami.

“papa, aku gak mau jadi besar!” begitu katanya suatu ketika pada papanya.

“lho, kenapa? anak-anak nanti pasti jadi tambah besar.”

“soalnya aku gak mau wajahku berubah jadi jelek seperti papa.”

kontan semua yang mendengar ibu bercerita waktu itu tertawa. kabarnya, Alin berkata begitu setelah dia melihat-lihat album foto masa kecil papanya. besar kemungkinan, kemudian dia membandingkan dan menganalisa perbedaan yang dilihatnya dari foto papanya ketika masih kecil dan saat ini.

lalu keputusan untuk tidak menjadi besar itulah yang diambilnya kemudian.

singkat cerita. Karin berada di sana ketika ibu, eyang putrinya itu bercerita. tentu dia belum paham benar maksud dari perbincangan kami saat itu, namun dia ikut tersenyum waktu kuamati.

jauh sejak kejadian itu, sebuah pertanyaan yang selalu diulang-ulangnya adalah;

“kalau aku besar nanti, namaku diganti apa, Bunda?”

“hah? kenapa ganti? nama Karin akan tetap Karin sampai bunda jadi tua, nanti.”

“tapi wajahku nanti kan berubah? aku harus ganti nama!”

begitu terus percakapan kami. dan berbagai alasan rasional selalu kuajukan padanya, supaya dia menerima dengan baik, bahwa tidak ada yang perlu diubah dari nama, sampai kapan pun.

“kalau Karin ganti nama waktu SD, teman-teman Karin yang TK pasti bingung nanti carinya. kalau Karin ganti nama lagi waktu SMP, teman TK dan SD Karin pasti juga bingung lagi jika ingin ketemu dan main lagi sama Karin. semakin banyak orang yang bingung dong nanti.”

dia mesti terdiam saat jawaban-jawabanku meluncur.

tapi dia tak kapok! hahaha

kali lain pertanyaannya akan samaaa lagii, lagiii, lagiiii dan lagiiiiii…!

woolalaaaa….! :p

akhirnya kuganti siasat.

“bunda, kalau besar nanti namaku ganti apa? kan wajahku berubah. apa namaku?”

“memang Karin pengen ganti nama apa?”

“gak tau!”

aku terkikik, dia terdiam. begitu berkali-kali.

sampai kemudian

“bunda, aku mau ganti nama. dan sekarang aku tahu nanti jika besar namaku jadi apa?”

“apa?”

“namaku JONO SARI JONO!”

wuahahahhaaa…! tepok jidah berjamaah yuk!

lalu, ketika adikku menelepon, Karin pun bercerita namanya akan berubah jadi itu. lantas, adikku (tantenya Karin) dan keponakanku memanggilnya “KAKAK JONO” :)))

siang ini, dia bilang boneka beruang yang diberinya nama Bear juga punya nama baru.

“nah! jadi siapa nama Bear sekarang?”

“TIKA SARIA BEA BEAR! itu namanya sekarang. sudah panjang sekarang. tinggal namaku yang kurang dipanjangin lagi.”

“nama yang mana? Jono Sari Jono?”

“iya. nama itu kurang panjang. nanti kutambahi, sekarang masih mikir.”

jiaaaaahhh!!!!dangsaaaarr anak-anak! :))

^_^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

—————————eon

kabkdr210320131347

[cerita] kebun binatang dalam kelas yoga

Posted on
posisi warior one. kaki belakangnya masih salah. hihihii tapi CEMUNGUD!! ;))

posisi warior one. kaki belakangnya masih salah. hihihii tapi CEMUNGUD!! ;))

“bunda kenapa siy,  latihan yoga terus?”
“tadi bunda yoganya diajari gimana? aku ajari juga dong bunda?”

begitu beberapa macam pertanyaan Karin yang terlontar setiap waktu. untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuhku yang mudah sekali drop sebab terlalu banyak aktivitas, aku berlatih yoga. latihan yoga menjadi fokus pilihan olah raga sejak datang ke kota ini.

iya, di kota Kediri, yoga menjadi salah satu olah raga trend yang begitu digemari. aku beruntung, sebab selama 2 tahun settle di Banyuwangi dan menggali informasi ke sana ke mari untuk mendapatkan informasi tentang pusat latihan yoga, tidak juga kudapati.

kata seorang sahabat di Banyuwangi dulu, dengan berlatih yoga, nafasku akan terlatih lebih panjang dan pasti jadi tambah merdu ketika qiroat. tentu saja mendengar itu aku semakin semangat untuk mencari di mana pusat latihan yoga berada.

sampai datang di kota ini, tidak lama, pajang saja pengumuman di twitter dan secepat kilat informasi berdatangan dan langsung menghubungkanku dengan instrukturnya. Mrs. Rina Agustin.

pertama kali bertemu beliau, aku kagum dengan sikap tubuh, wajahnya yang cantik dan tenang. wah! jadi tambah tersupport untuk segera bergabung. 😛

tapi, cerita kali ini tidak berpusat pada rasa excited ku, namun, pada Karin.

bermula dari dikirimnya fotoku di grup whastapps yoga yang sedang melakukan pose-pose sulit, Karin melihatnya lalu mencobanya di rumah. amazing! dia malah langsung bisa tanpa pemanasan, melakukan streching tertentu sesuai untuk main pose-nya. akhirnya kufoto dan kukirimkan foto Karin ke grup whastapps.

meniru gerakan bunda: pose kayang yang berangkat dari pose yang aku lupa namanya hihihi.

meniru gerakan bunda: pose kayang yang berangkat dari pose yang aku lupa namanya hihihi.

riuh komentar kawan-kawan, akhirnya pada akhir pembicaraan, Karin disarankan untuk ikut kelas yoga for kids.

antusias sekali tentu saja sambutan Karin ketika kutawari bergabung dalam kelas. dan hari ini, segera setelah keluar gerbang sekolahnya, dia kugandeng bergegas menuju ke tempat latihan.

waaaahh! ternyata sampai di sana sudah di mulai latihannya. dan krucil-krucil yang memang dibatasi jumlahnya sedang cekikikan mengikuti gerakan intruktur yang dibawakan dengan cara mendongeng, memvisualisasikan setiap gerakan seperti sedang bermain. Karin yang saat itu baru bergabung, langsung saja merasa percaya diri untuk ikut bersuara.

memperagakan gerakan-gerakan hewan, kodok, ulat, kupu-kupu, ikan hiu, pohon yang tertiup angin, dan ada lagi gerakan membuat burger. bener-bener serasa ada di kebun binatang dan bermain.

kelas yoga for kids pagi tadi membuat semua anak tertawa-tawa kegirangan. meskipun aku tahu, setiap gerakan berfungsi untuk menguatkan dan melenturkan tubuh.

meskipun aku ingin sekali Karin berlatih alat musik dan mahir memainkan berbagai alat musik yang sudah ada di rumah, seperti Koko (Eyang kakung/ayahku) namun karena kecenderungan Karin yang menyukai kegiatan fisik, maka, iya, ini olah tubuh pertama yang kukenalkan padanya untuk dipelajari lebih intensif di luar sekolahnya.

sore ini, dia memintaku mengantarkannya lagi untuk bergabung di kelas yoga for kids, LAGI!!!

hihihihihi….ya! karena dia sangat menyukai bermain dan bernyanyi dalam latihannya tadi. menyenangkan! ^_^

standing pose, pesawat terbalik, posisi roda/ kayang penuh (ki-atas-bawah)

standing pose, pesawat terbalik, posisi roda/ kayang penuh (ki-atas-bawah)

 

 

 

kabkdr173020042013

[cerita] kentang goreng dari bu guru

Posted on

Seperti hari sabtu biasanya, Karin akan selalu bercerita tentang makanan yang dibagikan ibu gurunya di sekolah. Kira-kira seperti ada jadwal makan bersama setiap hari sabtu. Kadang menunya nasi soto, atau lontong sate, atau nasi sop, kadang juga sebungkus kue bahkan sebiji buah-buahan.
Dalam perjalanan pulang menjemputnya sekolah waktu itu, aku bertanya,

“Tadi, makan barengnya gimana? Seru?”
“Eh, Bunda, tadi aku dikasih kentang lho sama bu guru,” jawabnya antusias.
“Oh kentang rebus ya?” sambil bayangin, pasti tak dimakannya sebab Karin memang tak suka jenis makanan rebus.
“Bukan, kentang goreng!”
“Wah! Asyik dong, berarti habis tadi kentangnya.”
“Nggak kumakan tapi, tadi.”
“Lho? Kenapa? Karin kan suka kentang goreng?”
“Gak tahu.”
Begitu kemudian perbincangan berakhir dan berganti topik.

 

Sesampainya di rumah, seperti biasa, aku mengosongkan tasnya. Mengambil botol minum kosong yang harus dicuci, memeriksa tugas sekolah, dan membersihkan tasnya.
Barulah kemudian kutemukan sebiji buah yang menggelinding begitu saja di dasar tasnya.
Kotan aku tertawa cekikikan. Lalu dengan elegan mendekati Karin yang ada di ruang tengah sambil bertanya,
“Jadi, ini kentang goreng yang dimaksud Karin?”
“Iya.”
Hahahahhaahhaa! (ketawa ngakaknya di sini aja) hihiihii :p lhaa yang dia maksud kentang goreng itu ternyata sawo kok. ;))
Wajah Karin siy polos-polos aja, hihiihii :d

sawo (Manilkara zapota), taken from the internet

sawo (Manilkara zapota), taken from the internet

“Emm..ini siy bukan kentang, nak, ini sawo. Besok bunda ajak jalan-jalan ke pasar ya, kita lihat bedanya kentang dan sawo di sana.”
“Yes!” serunya nyaring.
Selesai berberes, lagi-lagi aku bertanya ke Karin,
“Jadi, kenapa Karin mengira itu kentang yang digoreng? Karena warna kulit sawo cokelat?”
Dia mengangguk dan aku kegelian. Hihihiii
Jadi, kalau ada benda yang berwarna cokelat, itu pasti hasil dari digoreng! Hihihii
Misalnya sepatu berwarna cokelat, itu juga digoreng! 😀 😛

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

————————eon.

kabkdr160420131642

resolusi susu cokelat!

Posted on
minum susu cokelat segera di parkiran sekolah :)

minum susu cokelat segera di parkiran sekolah 🙂

mestinya, cerita tentang resolusi ditulis di awal tahun, bulan Januari lalu. atau selambatnya, bulan Februari, saat di setiap socmed sedang ramai orang-orang berlomba memaparkan resolusi di tahun terbaru. supaya, masing-masing orang itu, termasuk aku, termotivasi oleh resolusi satu dengan lainnya, mengadaptasi resolusi teman lain, lagi-lagi, supaya kita bisa dengan mudah meraih apa yang kita mimpi-mimpikan dengan plus menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

bahkan, tak sedikit ajang kompetisi untuk ‘memamerkan’ resolusi tahun baru kawan-kawan dengan iming-iming hadiah besar. seru banget!

dulu siy pernah ikutan sayembara semacam itu, dengan tawaran resolusi paling bagus akan dibukukan. ya, alhamdulillah tercatut yang dibukukan. judul bukunya “resolusi 2011” nah! sudah 2 tahun lalu. tahun ini tentu berbeda lagi. namun spesifik, tulisan ini akan bercerita tentang satu resolusiku yang melibatkan Karin di dalamnya. ya, kenapa tidak?

sejak umur 8 bulan, atau entah, aku hampir lupa. yang jelas, sejak Karin bisa memegang benda lalu memasukkannya dalam mulut. aku memiliki kebiasaan memberinya uang logam, tentu saja bukan untuk diemut (dimasukkan ke mulut) tapi melatih motorik halusnya, dengan memberinya celengan yang kubuat sendiri dari kaleng bekas tempat biskuit. tapi biskuit milik ibu. yang oleh ibu, kalengnya diberikan padaku dengan isian rempeyek kacang waktu berkunjung ke rumah sewaku. hihihi..

jadi, kalengnya itu jelek banget sebenernya. tutup kalengnyapun bukan pasangannya. hahaha.. tapi membuatnya jadi bermanfaat, bagiku itu sudah kaleng yang luar biasa ajaib! ^_^

 

kaleng ajaib kami! :))) :p

kaleng ajaib kami! :))) :p

demikian selalu uang logam kuberikan pada Karin untuk dia masukkan ke dalam celengan. sampai dia besar. ratusan ribu bahkan pernah hampir mendekati sejuta jumlahnya. jadi sampai awal tahun ini, celengan itu sudah pernah dibongkar berkali-kali. yang paling awal, kugunakan sebagai modal untuk berjualan. tahun 2008, aku sudah memulai usaha sebagi online seller, tidak punya blackberry, tapi sudah menggunakan blog untuk berbagai macam transaksi dengan customer. ^_^

terakhir, di awal tahun ini kami bongkar (aku dan Karin) untuk tujuan membeli trampolin raksasa yang sangat diimpikan Karin sejak lama. 900ribu waktu itu jumlahnya. setelah survei harga trampolin sana sini, dan menimbang sekali lagi bahaya tidaknya trampolin yang bisa didapat dengan harga di bawah 900ribu. aku memutuskan untuk mengalihkan perhatian Karin dalam menggunakan uang celengannya itu.

alhasil, Karin membeli perlengkapan sekolahnya, sepatu, tas, krayon yang berukuran besar, bando, beberapa kertas lipat dan sebuah android, untuk dia sesekali bermain game di rumah. hanya di rumah saja dengan waktu yang kubatasi.

berangkat dari sebab yang satu itu, aku mulai memikirkan resolusi lain yang bisa kukerjakan bersama Karin di tahun 2013 ini.

sebab satu lagi, aku merasa sangat terganggu dengan anak-anak yang selalu dengan mudahnya diberi uang orang tuanya untuk berbelanja jajanan atau mainan yang dijual di luar pagar sekolah. selain melatih mereka untuk konsumtif, anak-anak menjadi terlatih untuk menggunakan uang secara tidak bijak. kesehatan anak-anak yang bisa saja terancam karena jajanan yang sembarangan. selain itu, menghindari jual beli yang riba hukumnya. transaksi jual beli yang dilakukan antara penjual dan pembeli yang belum akhil balik, adalah rizki yang berhukum riba. begitulah kata Ustad Syaiful Arif di pengajian rabu, di sekitar kompleks sekolah Karin.

dua sebab itu sudah menjadi alasan kuat bagiku membuat resolusi bersama Karin.

“bagaimana, jika waktu Bunda jemput Karin pulang sekolah, Bunda bawakan susu cokelat yang buaanyaaaaaak buat Karin. tapi Karin tak perlu beli mainan atau jajanan seperti teman-teman itu?”

“tapi nanti aku kepingin beli mainan, Bunda.”

“Katanya kepengen beli trampolin, karena tabungan yang kemarin kurang, jadi Karin harus lebih rajin lagi nabungnya. nanti sampai rumah Bunda beri uang untuk dimasukkan ke celengan. gimana?”

“bener ya?!”

“iya bener!”

“nanti bohooooong??!”

“kenapa Bunda bohong, nanti Bunda sendiri yang dosa kok, bukan Karin. rugi dong, Bunda.”

“ya udah. aku mau dibawakan susu cokelat yang banyak kalu gitu.”

yess! berhasil! hahaha :p

perbincangan itu kulakukan sekitar akhir bulan Desember 2012. saat liburan semester berlangsung. dan ketika hari baru masuk sekolah di awal tahun 2013. aku menepati janjiku dengan selalu membawakan susu cokelat di tumbler yang besar.

“mau susu yang dingin atau anget nanti Bunda bawanya?”

“yang dingin!”

nah! setiap siang, susu cokelat dingin selalu menunggu Karin keluar pagar sekolah, menemaniku. i keep my promise, she is too. ^_^

sampai tulisan ini kubuat, sekali aku lupa membawanya. karena sejak pagi harus ke sana ke mari, maka kuambil konsekuensinya. dan ceritanya sudah kutulis di sini

dan aku bener-bener malu sebenarnya saat itu. hihihi..

saat Karin lemah, dalam artian dia ingin membeli jajanan dan atau mainan. aku kembali mengingatkannya untuk rajin dan tekun menabung. agar segera ia bisa membeli kamera pocket.

lho? kok jadi kamera pocket?? iya. soalnya. Karin beralih pengen beli kamera pocket berwarna pink beberapa waktu lalu. bukan lagi trampolin yang memang kuberikan wacana kurang aman (untuk trampolin skala rumah) entah, atau mungkin informasi yang kubrowsing masih kurang lengkap. namun yang pasti, apapun yang ingin dibeli Karin nanti membuatnya jadi lebih fokus untuk tetap rajin dan tekun menabung. selain menyelamatkan dia dari jajanan kurang sehat di luar pagar sekolah.

oh ya! sekarang bukan hanya uang logam yang kuserahkan padanya untuk dimasukkan ke dalam celengan, tapi juga uang kertas mulai 1000 sampai 10000 rupiah.

semoga menginspirasi. salam! ^_^

 

 

 

—————————————-eon

kabkdr210320131034

[cerita] Si Karin Jadi Bolang

Posted on
hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

seperti siang biasanya, selepas Karin pulang sekolah, di rumah dia pasti akan menyibukkan dirinya dengan mainan dan berbagai variasi. sedang aku, seperti ibu rumah tangga lainnya yang tak memiliki asisten rumah, tentu saja berkutat dengan pekerjaan rumah dan membaca-baca literatur untuk bahan menulis.

secara kontinyu, meski aktivitas kami berdua berbeda, kontak personal masih juga kujaga dengannya. menengoknya sedang bermain di bagian rumah yang mana, melihat mainannya, atau sekedar berbicara dari tempatku duduk, bertanya “Karin di mana?” atau “Karin sedang apa?” sambil tanganku bekerja.

siang kemarin, jenuh dari tempatku duduk, aku bangkit, berjalan menuju ruang mainan Karin di sebelah. kosong. dan pintu samping yang langsung menuju pintu pagar terbuka lebar. sedangkan beberapa saat yang lalu kututup rapat sebab khawatir debu dari rumah tetangga yang sedang direnovasi tepat di seberang rumah, masuk.

“Karin di mana?” tanyaku sambil celingukan.

tak ada sebuah jawaban pun. melihat pintu samping terbuka, aku langsung bergegas keluar. dan ternyata, kudapati karin sudah nongkrong dengan asyiknya di atas pagar!

hiyaaaaa…..!

lalu sambil cengar-cengir, dia bergegas turun, berlari ke arahku.

“Ada apa, Bunda?”

“Kamu ngapain di situ? neropongin pak tukang?”

dia tertawa tergelak sambil malu-malu. di lehernya memang tergantung teropong kecil mainan yang di belinya dengan harga seribu rupiah. dulu, waktu masih di banyuwangi.

tentu saja aku tertawa kegelian. dasar anak-anak! ;))

“Bunda bantu aku menabung ya, supaya aku bisa membeli teropong yang mahal, teropong untuk bisa melihat bintang.” begitu katanya kemudian.

“Hmm! Kita nabung terus tak perlu jajan jika begitu.”

“Okey!” kemudian dia berlari lagi keluar, meneropong kembali pekerjaan pak tukang. hihihii..

—————eon.

kabkdr140320132348

%d bloggers like this: