RSS Feed

Untuk Siapa Ucapan ‘Selamat Hari Pendidikan Nasional’?

Posted on

Terlalu sering dan banyak melihat kesusahan dan kesedihan orang lain sering kali membuat kita juga lupa bagaimana tertawa tergelak lepas, sementara nurani menyadari apa-apa yang terjadi pada orang lain adalah juga tanggung jawab diri, menjadi media (penyampai) rahmat Allah yang telah tergaris dalam Al Qur’an yang sempurna.
Terbentukknya masyarakat rabbani, anak-anak shalih yang jelas terjaga akhlak dan terjaga keamanannya, dari sistem pendidikan yang tidak kondusif, dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif, dari sistem pemerintahan yang tidak kondusif pula.
Kesadaran diri untuk memahami, bahwa sistem tidak bisa diubah dengan hanya menuntut sistem namun menawarkan solusi, bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan visi dan misi yang sama; meng-edukasi bangsa, adalah poin crusial yang jelas harus dikerjakan setiap individu sesuai dengan perannya masing-masing.
Diri mendidik diri
Orang tua mendidik anak
Kepala keluarga mendidik keluarga
Suami dan istri yang saling bertukar ilmu
Dan begitu seterusnya setiap individu mesti mengaktivasi perannya masing-masing, sebagai mertua, menantu, anak, guru, karyawan, pekerja kasar, penjual di pasar, dan seterusnya,
Yang tidak lepas dari “user human manual” apa itu? Al Qur’anul Kariim

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Bagi seluruh bangsa Indonesia. Kesetaraan mendapatkan informasi di era digital ini harusnya memberikan kemampuan kepada kita semakin tawadu’ sebab menyaksikan bahwa tidak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya, tidak ada batasan umur, tidak pula ada batasan gender, atau bahkan tidak ada batasan predikat atas pekerjaan yang kita sandang. Semuanya sama dalam setiap lapisan masyarakat; bertanggung jawab atas pendidikan bangsa yang lebih baik.

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Sekali lagi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan meluruskan jalan kita. Aamiin

———–eon.
Taman Simpang Lima Gumul,0830.02052014

[curhat] Miris dengan Boardcast tentang Puasa Rajab

Posted on

A’udzubillahiminasy syaitonirrojim. Bismillah..

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

28 April 2014, hari ini adalah kali kesekian aku menerima boradcast bertuliskan begini:

Bulan Rajab jatuh pada tgl 30 April
*Barang siapa yg berpuasa 1hari maka seperti laksana puasa 1tahun,
*Barang siapa yg berpuasa 7hari maka di tutup pintu2 Neraka Jahanam.
*Barang siapa yg berpuasa 8hari maka di buka pintu 8 Surga. *Barang siapa yg berpuasa 10hr maka akan di kabulkan segala perminta’anya
*Barang siapa yg mengingatkn kpd org lain ttg ini,Seakan ibadah 80th Amien…
Insya Allah… ”Subhanallah”

seorang muslim mestinya cerdas, minimal jika tidak mengerti, mari bertanya lebih dahulu kepada alim ulama tentang benar tidaknya perintah berpuasa sunnah di bulan Rajab itu. Sementara ada riwayat yang menerangkan dengan jelas tentang bulan Sya’ban yang shahih sering kita dengar,

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menceritakan: “Aku tidak melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadist ini shahih dan begitu masyur, dari hadist itu saja mestinya sebagai muslim yang mencitai Rasulullah, beliau yang begitu sempurnanya dijaga dan dicintai Allah SWT, panutan dan teladan kita, jelas sekali, tidak berpuasa lebih banyak di bulan-bulan lain selain Sya’ban dan Ramadhan. Lalu, apakah kita lantas mau percaya dengan boardcast itu? Sebab ingin mendapatkan pahala yang berlimpah, namun tidak mencontoh Rasul?

Semoga Allah selalu menunjukkan kita dalam kebenaran.

Boardcast di atas jelas sangat mengusikku. sehingga lantas kubuka literatur yang memang jelas memerintahkan puasa sunnah di bulan Rajab. Hasilnya?

Aku malah menjumpai tulisan berjudul “Waktu-waktu Dimakruhkannya Berpuasa”

mengejutkan, sebab point pertama adalah “Mengkhususkan Bulan Rajab Untuk Berpuasa”

waktu lain yang makruh berpuasa adalah, berpuasa pada hari Jumat saja, berpuasa pada hari sabtu saja, berpuasa pada hari yang diragukan, berpuasa khusus pada tahun baru dan hari besar orang kafir, puasa wishal, puasa dahr, puasa(sunnah)nya seorang istri tanpa seijin suami, dan puasa di dua hari terakhir di bulan Sya’ban.

Lantas, apa sebab puasa sunnah di bulan Rajab dimakruhkan, disarankan lebih baik untuk tidak dikerjakan?

Begini potongan penjelasan yang saya dapatkan;

Berpuasa satu bulan penuh pada bulan Rajab merupakan amalan yang dimakruhkan. Akan tetapi, jika ada wanita muslim (muslimah) yang hendak berpuasa pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa secara berselang. Karena, ini (Rajab) merupakan bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila melihat orang-orang jahiliyah dan semua persiapan mereka untuk menyambut bulan Rajab, maka ia (Ibnu Umar) membencinya seraya berkata: “Berpuasalah dan berbukalah pada bulan itu.” (HR. Ahmad)

Berpuasa secara berselang dalam pemahaman sama artinya dengan “Berpuasalah dan berbukalan pada bulan itu.” Bermakna, boleh kita berpuasa dengan niat melakukan puasa sunnah Senin-Kamis, atau berpuasa Daud, atau berpuasa Aiyamul bidh (berpuasa 3 hari di tengah bulan dalam penanggalan Qomariyah).

Dan syukurlah, pagi tadi seorang teman mengirim boardcast tentang ini,

Bismillah..
Ibnu Hajar mengatakan :
“Tidak terdpat riwayat yg sahih Чªπğ layak di jadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula dalil yg shahih tentang puasa Rajab atau puasa di tanggal tertentu di bulan rajab, atau shalat tahajud d malam tertentu di bulan Rajab”Keterangan yg sama juga d sampaikn oleh Imam Ibnu Rajab, dlm karyanya Чªπğ mengupas amalan sepanjang tahun.
Beliau mengatakan :
” Tidak terdapat dalil yg shahih tntg ajaran shalat tertentu d bulan rajab. Adapun Hadist Чªπğ menyebutkan keutamaan shlat Raghaib di malam jum’at pertama bulan Rajab adalah hadist dusta, batil, dn tidak shahih. Shalat Raghaib adalaha bid’ah, menurut mayoritas ulama “Apa itu rajab ??
Umar mengatakan : sesungguhnya rajab adalah bulan yg di agungkan masyarakat jahiliyah, setelah islam datang, kmdian di tinggalkan

Allahu a’lam…

 
Satu lagi kajian yang kubaca hari ini (30 April 2014), semoga menjadi bahan renungan dan pemahaman kita semua. Begini ditulis;

Fatwa para Ulama terkait Ibadah Khusus di Bulan Rajab. “Semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah kebohongan yang diada-adakan.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 96)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyinul Ujab, hal. 11:

“Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya atau puasa tertentu , begitu juga (tidak ada) qiyamullail tertentu di dalamnya.”

Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam kitab Fiqih Sunnah, 1/383:

“Puasa Rajab tidak ada keutamaan tambahan dibandingkan dengan (bulan-bulan) lainnya. Hanya saja ia termasuk bulan Haram. Tidak ada dalam sunnah yang shahih bahwa berpuasa mempunyai keutamaan khusus. Adapun (hadits) yang ada tentang hal itu, tidak dapat dijadikan hujjah.”

Ihdinash Shiraatalmustaqiim, Allah Yaa Rabb, selalu, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Saudaraku, Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

—————————eon

shelter7.1156.28042014

 

[INFO SEMINAR] JURUS SEHAT RASULULLAH

Posted on

Bismillahirrahmaanirrahiim

PENGIN SEHAT SEPERTI SEHATNYA RASULULLAH ???

Jangan Lewatkan YanG SATU ini
Seminar
“Mengungkap Jurus Sehat Rasulullah”

Bersama : dr.Zaidul Akbar,MM
– Praktisi dan Trainer Kedokteran Islam Internasional
– Inspirator Sehat Islami Indonesia
– Ketua Asosiasi Bekam Indonesia
– Motivator Muslim Internasional
– Penulis Buku Jurus Sehat Rasulullah.

Pelaksanaan
Minggu, 27 April 2014
Pukul 08.00-15.00 wib
LEC Perguruan Muhammadiyah
Jl. Penanggungan 1-5 Mojoroto – Kediri
HTM : Rp 60.000

Tiket Box :
cp DINI 08175201644

Sekretariat Institut Thibbun Nabawi Indonesia (INTI) Cabang Jatim
Jl.Merdeka No.52 Blitar
Hp.081233761789

[curcol] terompet tahun baru

Posted on

Semalam, lepas isya’ Karin pamit untuk tidur lebih dulu. aku mengiyakan tanpa mengantarnya tidur seperti biasa, sibuk menginstal software yang dibutuhkan leptopku yang baru saja jebol beberapa hari lalu, hehe
tanpa menoleh, aku mendengar Karin menutup pintu kamarnya. tentu saja membuatku berasumsi, ia tidur di kamarnya sendiri, bukan di kamarku, seperti malam-malam lainnya ketika abi-nya harus menginap di kantor.

pukul 21:00 kira-kira, petasan pertama meledak kencang di depan rumah. Yaa Salaam, spontan beristigfar lalu lari ke kamar Karin, mengeceknya apakah ia terbangun dengan gelisah dan terkejut, kepanikan bertambah, saat pintu kamar yang terbuka itu tidak menyodorkan sosok Karin di atas tempat tidurnya. Yaa Allah, anak ini dimanaaa?
cepat-cepat saja kucari di bawah, di samping kasur, di sudut kamar, tempat biasanya dia membuat tempat tidurnya sendiri seolah kemping! hihihi

hasilnya? none!

lari deh, aku ke kamarku. bersyukur dia ternyata tidur pulas di sana dengan menyalakan kipas angin mini warna kuning hadiah pamannya/amminya(adik bungsuku). bersyukur ia nyenyak tak terganggu bunyi petasan. 🙂
pagi ini, ia bangun seperti biasa, lebih segar dari kemarin, melompat dari tempat tidur, meminta ijin memakai laptopku dan mencium pipiku lamaaaaaaaa sekali sampai kami berdua sama-sama kehabisan nafas dan tergelak bersama. ciuman itu kami namakan ciuman tempel! hihihi
sebab selain menciumnya nempel lama banget, pasti salah satu dari kami akan berkata “aduh! aduh! nempel nih! gak bisa lepas!” hihihi

beberapa saat memakai laptop, teman-temannya bersepeda di luar rumah sambil meniup terompet mereka. dan Karin lari ke jendela, sembari kutegur,
“Karin, jangan usil, biarin ah. lagian malu auratmu kelihatan!”
“gak, cuma mau ngomong dikit sama temen-temenku dari sini.”
“mas! dimas! gak usah tiup-tiup terompet! berisiiiikkk taauuukk! gak bisa niup terompet aja gitu, huu….!”
*tepok jidaaaddhh* haduuuh …
si Karin pasti berpikir, niup terompet tahun baru harus berirama seperti meniup terompet alat musik. yaelaaahh…
*ngikik sendiri* :p ;))

dan teman-temannya pun semakin kencang meniup terompet, sementara Karin sudah mencari baju mainnya untuk lari keluar. halaaah..halaaaah… padahal belum mandi 😦 😦

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

[curcol] sayur purap-purap

Posted on

Peristiwanya sekitar seminggu lalu. Aku membawa pulang lucnh box dari menghadiri acara seminar di pendopo kabupaten, salah satu acara dalam rangkaian peringatan hari ibu ke-85 kabarnya.

Seminar belum selesai, aku cabut, meski dapat kursi duduk paling depan sendiri, berlalu sambil dilihat orang banyak, ya cuek saja. Karena harus menjemput Karin di sekolah dan menghadiri undangan di tempat yang lain. Duuuh..sok sibuk gituh! :p

Dari pendopo kuluncurkan kendaraanku ke sekolah Karin, sudah terlambat dua jam aku menjemputnya. Tapi Karin tak protes, sebab aku sudah berpesan padanya akan terlambat menjemput. Begitulah memang selama ini jika aku harus menghadiri acara. Segera setelah pamit dengan gurunya, aku melarikan kendaraan pulang, mengajak makan berdua sebuah lunch box dari seminar tadi.

Aku makan yang ini, Karin makan yang itu, sambil sedikit mengobrol sebab harus juga bersiap ke acara berikutnya.

“Rin, perhatikan, ini ada sayuran, tahu namanya apa?”

“Hem!” melirikku dan sayur dalam lunch box sekilas sambil menaikkan alisnya. Sementara tangannya sedang berusaha membuka aplikasi game di tablet.

“Ini namanya URAP-URAP, perhatikan nih.”

“He em!” liriknya lagi sambil menaikkan alis kali ini tanda mengerti.

“Iiiih..dilihat yang bener dong. Diperhatikan. Sayurannya dimasak matang dengan kelapa parut yang dimasak dengan bumbu.”

“Iya..iya..sudah kuperhatikan.”

“Apa coba tadi namanya?”

“PURAP-PURAP!” jawabnya serius.

“Iiiiih…URAP-URAP.”

“Iya…PURAP-PURAP.”

“Yaelaaaah…..cape deeehh! Perhatikan mulutnya bunda,”

“UUU-RAAP-UUU-RAAP.” ulangku pelaaan sambil cekikikan.

“Oke deh, Bunda. Aku tahu sekarang namanya.”

“Iya sambil dilihat niy,” kuminta sekali lagi Karin memperhatikan dengan seksama.

“Iya, Bunda, namanya PURAP-PURAP.”

“Haaa?? Apaa?”

“Eh, sori, urap-urap ya?!” katanya sambil tertawa tergelak keras sekali.

“Aku kan suka godain Bunda.”

Dangsaaaarrrr………..! :))) 😛

 

 

 

Image

sayur urap-urap bukan buatanku, tapi baru saja kudownload dari google :p

 

 

 

—————————————eon

shelter7.23121013.2238

 

“Seringkali kit…

Posted on

“Seringkali kita berpikir, orang-orang di masa lalu kita berubah pikiran; melupakan kita, hanya sebab berkurangnya intensitas komunikasi, sedangkan prasangka itu bisa jadi salah. Mereka tetap menjagakan doa-doanya untuk kita, meng-update kabar berita tentang kita dengan cara yang kadang sulit kita pahami. Maka selalu berbaik sangka sebenarnya adalah kebaikan kecil dari diri. Pancaran sinar dari kecantikan yang sejati. Jika kita melakukan yang sebaliknya? sungguh patutlah kita sekali lagi mengkoreksi diri.” #dkaekasnote

[Kajian parenting 1] : Darimana Anak-anak Shalih Berasal?

Posted on

[hadist qudsi]

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “ Sesungguhnya Allah Swt. Akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga; hamba itu kemudian berkata, ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini?’ Maka Allah Swt. Berfirman, ‘Dari istigfar anakmu.’”

[HR Imam Ahmad] (Mustafa bin ‘Adawi, As-Shahiihul Musnad minal Ahaaditsul Qudsiyyatu, t.t.: 198)

Betapa perkembangan jaman sekarang ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua-orang tua yang peduli dan berpikir pada keselamatan anak-anak mereka jauh di depan. Dan betapa orang tua-orang tua jaman ini dituntut lebih keras berusaha menjadikan anak-anak yang siap menghadapi jamannya beberapa tahun lagi sepanjang hidupnya dan menjadikan anak-anak shalih, yang ketika di hari akhir nanti bisa menjadi penolong orang tuanya, ter-entas dari siksa neraka, termuliakan dengan naiknya derajat orang tua dari lapis surga paling bawah menuju surga tertinggi.

Berangkat dari kondisi jaman yang terus dan semakin menawarkan kekacauan, dan berpegang pada hadist qudsi di atas, anak-anak yang bisa beristigfar yang dimaksud tentu bukanlah istigfar yang biasa. Namun istigfarnya anak yang shalih, yang tunduk kepada Rabb-nya, dan begitu dalam mencintai orang tuanya.

Itulah tugas kita, para orang tua kepada anak-anaknya, ladang amalan-pahala negeri akhirat, membawakan dan menghadirkan cinta kepada Rabb-nya, mengenalkan anak-anak pada Rabb-nya sehingga mereka kelak menjadi anak-anak shalih pemulia orang tuanya.

Pertanyaan berikutnya yang lahir adalah;  bagaimana menjadikan anak-anak pandai beristigfar dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri bahkan sampai jauh ketika kita (orang tua) telah kembali berpulang ke rahmatullah? Sampai jauh ketika kita tidak lagi bersama mereka?

1. Memperbaiki komitmen dan niat pernikahan

Bagi yang belum menikah, point ini crusial. Meluruskan niat, bahwa menikah disebabkan karena kecintaannya pada Allah Swt dan Rasulnya. Menyempurnakan setengah diin (agama). Bukan sebab ingin memperbaiki keturunan saja, memperbaiki kemampuan finansial saja, dan sebagainya, dan seterusnya.

Lalu bagimana dengan yang sudah terlanjur menikah tapi jika di-flash back niatannya hanya bersifat duniawi saja? Point ini juga penting. Bagaimana kemudian antara suami dan istri mendiskusikan kembali MoU (memorandum of understanding) atau aturan pokok kesepahaman dalam kerjasama, begitu gurau bu Nia menyampaikan. Perjanjian yang jelas dengan melibatkan Allah di dalamnya, akan jelas pula apa yang akan dikerjakan suami, apa yang dikerjakan istri dan apa yang mesti dilakukan anak-anak.

Screenshot_2013-10-15-09-32-00

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahriim : 6]

Semua tujuannya jelas; keselamatan diri dan keluarga dari siksa neraka. Maka setiap individu anggota keluarga akan bergerak ke arah yang sama, menjadi rahmat (petunjuk) satu sama lain demi keselamatan dan berkumpulnya kembali keluarganya, yang tentu bukan di tempat yang tidak kita inginkan.

2. Menghadirkan suasana yang hangat dalam rumah

Setiap anggota keluarga yang paham dirinya sebagai rahmat bagi anggota keluarga yang lain, langkah berikutnya adalah dan otomatis akan tercipta atmosfir yang hangat dan saling dukung. Kalau pun belum, maka suasana yang hangat di dalam keluarga haruslah diupayakan oleh orang tua-orang tua, sebagai media pendidik Allah kepada anak-anaknya.

Dibanyak kasus yang terungkap, di Kediri, anak-anak yang sulit dikendalikan, anak-anak yang melakukan tindak kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya, Lembaga Perlindungan Anak Kediri menyatakan, mereka memiliki keluarga yang dingin, suasana yang tidak mendukung dirinya (anak) dihargai sebagai individu yang berharga.

Anak-anak yang secara terus menerus mendapatkan suasana yang tidak membuat diri mereka nyaman, dengan orang tua-orang tua yang sibuk sendiri-sendiri, menjadikan mereka anak-anak yang tidak pula peduli dengan sesamanya, lingkungannya.

Berikut doa yang dianjurkan:

1

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” [QS. Al Furqaan : 74]

Menurut ustad Muhammad Hatta, inilah doa yang mesti kita minta secara istimror (berkelanjutan, tak putus) sehingga senantiasa kita akan mendapati pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati. Beliau juga menyampaikan, doa ini adalah sebagai salah satu bentuk usaha yang wajib untuk diwujudkan. Dalam artian, mewajibkan diri untuk mewujudkan pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati, selain dengan berdoa, di dalamnya terkandung makna, diri, sebagai individu anggota keluarga akan bergerak sesuai porsinya menjadi rahmat bagi anggota keluarga yang lain, saling mengingatkan kebaikan dan ketaqwaan.

“…dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

Masih menurut ustadz Hatta, kalimat itu adalah kalimat visioner. Kalimat yang memacu diri untuk bergerak lebih dahulu dalam kebaikan, lalu menginspirasi orang-orang baik lainnya. Sebagai stimulus untuk terus berinovasi dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Sehingga dari sanalah kita akan melihat betapa ghiroh (kekuatan azzam), keras dan bulatnya tekad untuk memacu diri menjadi orang yang bertaqwa. Banyangkan saja, jika sikap ini sudah dicontohkan oleh suami kepada istri, dicontohkan ayah dan bunda kepada anak-anak. Kebaikan-kebaikan dalam jalan taqwa akan membentuk karakter anak-anak yang kuat dan nyaman, lantas di jaman kemudian mereka mandiri tanpa orang tua, mereka mampu pula menginspirasi sekitarnya untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Segala puji bagiNya pemilik semesta alam, yang bersemayam di ‘Arsy yang angung.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian Ibu Kurnia Lestari, Koordinator Program Lembaga Perlindungan Anak Kota Kediri

Dan tokoh Tarbiyatul Aulad fil Islam (Parenting dalam keIslaman) Kediri, Ustadz Muhammad Hatta.

—————————-eon

Shelter7.3to15102013.1056

%d bloggers like this: