RSS Feed

Category Archives: surat

Tidak Ada yang Bisa Mencegah Bencana kecuali Allah

Posted on

10409277_775789575806791_8271651169512422954_n

Dari Abdullah bin Abbas Ra., beliau berkata, “Pernah saya berada di belakang Nabi Saw., lalu beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu; dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR Tirmizi, Hasan Sahih)

Demikian itu menjelaskan firman Allah,
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al An’aam : 17)

Allah Swt., menegaskan kembali kekuasaanNya, tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudharatan yang ditimpakan Allah kepada seseorang, kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan, dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia, baik lahir maupun batin. Maka, bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun, atau pelindung lainnya selain Allah yang acapkali dipandang oleh orang musyrik yang dapat menghilangkan kemudharatan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan, baik lahir maupun batin.

Allah berkuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendakiNya.

Nabi Muhammad Saw., setiap habis shalat lima waktu membaca doa, “Yaa Allah, tak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi yang Engkau cegah, dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendakMu.” (HR Bukhari)

Ayat ini (Al An’aam : 17) menunjukkan pula bahwa setiap manusia, baik yang menginginkan kebaikan maupun yang menghindari kemudharatan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah Swt., semata dengan cara berusaha mengikuti sunnahNya yang berlaku di alam ini dengan berdoa sepenuhnya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al An’aam : 18)

Sumber:
Penjelasan ayat Al-An’aam :17 dari Al Qur’anulkariim spesial for muslimah, seri Bilqis Cordoba.
Tafsir oleh Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, jilid 7-8, 1998:157.

Semoga manfaat.

———————————-eon.

27 Ramadhan 1435 H, Shelter 8

Ditulis ulang oleh Dini Kaeka Sarii.

Advertisements

[Kajian parenting 1] : Darimana Anak-anak Shalih Berasal?

Posted on

[hadist qudsi]

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “ Sesungguhnya Allah Swt. Akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga; hamba itu kemudian berkata, ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini?’ Maka Allah Swt. Berfirman, ‘Dari istigfar anakmu.’”

[HR Imam Ahmad] (Mustafa bin ‘Adawi, As-Shahiihul Musnad minal Ahaaditsul Qudsiyyatu, t.t.: 198)

Betapa perkembangan jaman sekarang ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua-orang tua yang peduli dan berpikir pada keselamatan anak-anak mereka jauh di depan. Dan betapa orang tua-orang tua jaman ini dituntut lebih keras berusaha menjadikan anak-anak yang siap menghadapi jamannya beberapa tahun lagi sepanjang hidupnya dan menjadikan anak-anak shalih, yang ketika di hari akhir nanti bisa menjadi penolong orang tuanya, ter-entas dari siksa neraka, termuliakan dengan naiknya derajat orang tua dari lapis surga paling bawah menuju surga tertinggi.

Berangkat dari kondisi jaman yang terus dan semakin menawarkan kekacauan, dan berpegang pada hadist qudsi di atas, anak-anak yang bisa beristigfar yang dimaksud tentu bukanlah istigfar yang biasa. Namun istigfarnya anak yang shalih, yang tunduk kepada Rabb-nya, dan begitu dalam mencintai orang tuanya.

Itulah tugas kita, para orang tua kepada anak-anaknya, ladang amalan-pahala negeri akhirat, membawakan dan menghadirkan cinta kepada Rabb-nya, mengenalkan anak-anak pada Rabb-nya sehingga mereka kelak menjadi anak-anak shalih pemulia orang tuanya.

Pertanyaan berikutnya yang lahir adalah;  bagaimana menjadikan anak-anak pandai beristigfar dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri bahkan sampai jauh ketika kita (orang tua) telah kembali berpulang ke rahmatullah? Sampai jauh ketika kita tidak lagi bersama mereka?

1. Memperbaiki komitmen dan niat pernikahan

Bagi yang belum menikah, point ini crusial. Meluruskan niat, bahwa menikah disebabkan karena kecintaannya pada Allah Swt dan Rasulnya. Menyempurnakan setengah diin (agama). Bukan sebab ingin memperbaiki keturunan saja, memperbaiki kemampuan finansial saja, dan sebagainya, dan seterusnya.

Lalu bagimana dengan yang sudah terlanjur menikah tapi jika di-flash back niatannya hanya bersifat duniawi saja? Point ini juga penting. Bagaimana kemudian antara suami dan istri mendiskusikan kembali MoU (memorandum of understanding) atau aturan pokok kesepahaman dalam kerjasama, begitu gurau bu Nia menyampaikan. Perjanjian yang jelas dengan melibatkan Allah di dalamnya, akan jelas pula apa yang akan dikerjakan suami, apa yang dikerjakan istri dan apa yang mesti dilakukan anak-anak.

Screenshot_2013-10-15-09-32-00

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahriim : 6]

Semua tujuannya jelas; keselamatan diri dan keluarga dari siksa neraka. Maka setiap individu anggota keluarga akan bergerak ke arah yang sama, menjadi rahmat (petunjuk) satu sama lain demi keselamatan dan berkumpulnya kembali keluarganya, yang tentu bukan di tempat yang tidak kita inginkan.

2. Menghadirkan suasana yang hangat dalam rumah

Setiap anggota keluarga yang paham dirinya sebagai rahmat bagi anggota keluarga yang lain, langkah berikutnya adalah dan otomatis akan tercipta atmosfir yang hangat dan saling dukung. Kalau pun belum, maka suasana yang hangat di dalam keluarga haruslah diupayakan oleh orang tua-orang tua, sebagai media pendidik Allah kepada anak-anaknya.

Dibanyak kasus yang terungkap, di Kediri, anak-anak yang sulit dikendalikan, anak-anak yang melakukan tindak kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya, Lembaga Perlindungan Anak Kediri menyatakan, mereka memiliki keluarga yang dingin, suasana yang tidak mendukung dirinya (anak) dihargai sebagai individu yang berharga.

Anak-anak yang secara terus menerus mendapatkan suasana yang tidak membuat diri mereka nyaman, dengan orang tua-orang tua yang sibuk sendiri-sendiri, menjadikan mereka anak-anak yang tidak pula peduli dengan sesamanya, lingkungannya.

Berikut doa yang dianjurkan:

1

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” [QS. Al Furqaan : 74]

Menurut ustad Muhammad Hatta, inilah doa yang mesti kita minta secara istimror (berkelanjutan, tak putus) sehingga senantiasa kita akan mendapati pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati. Beliau juga menyampaikan, doa ini adalah sebagai salah satu bentuk usaha yang wajib untuk diwujudkan. Dalam artian, mewajibkan diri untuk mewujudkan pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati, selain dengan berdoa, di dalamnya terkandung makna, diri, sebagai individu anggota keluarga akan bergerak sesuai porsinya menjadi rahmat bagi anggota keluarga yang lain, saling mengingatkan kebaikan dan ketaqwaan.

“…dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

Masih menurut ustadz Hatta, kalimat itu adalah kalimat visioner. Kalimat yang memacu diri untuk bergerak lebih dahulu dalam kebaikan, lalu menginspirasi orang-orang baik lainnya. Sebagai stimulus untuk terus berinovasi dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Sehingga dari sanalah kita akan melihat betapa ghiroh (kekuatan azzam), keras dan bulatnya tekad untuk memacu diri menjadi orang yang bertaqwa. Banyangkan saja, jika sikap ini sudah dicontohkan oleh suami kepada istri, dicontohkan ayah dan bunda kepada anak-anak. Kebaikan-kebaikan dalam jalan taqwa akan membentuk karakter anak-anak yang kuat dan nyaman, lantas di jaman kemudian mereka mandiri tanpa orang tua, mereka mampu pula menginspirasi sekitarnya untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Segala puji bagiNya pemilik semesta alam, yang bersemayam di ‘Arsy yang angung.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian Ibu Kurnia Lestari, Koordinator Program Lembaga Perlindungan Anak Kota Kediri

Dan tokoh Tarbiyatul Aulad fil Islam (Parenting dalam keIslaman) Kediri, Ustadz Muhammad Hatta.

—————————-eon

Shelter7.3to15102013.1056

[review buku] Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe — Olivier Johannes Raap

Posted on

Alhamdulillah, akhirnya, saya senang sekali mendapatkan kesempaan berkunjung ke Museum Airlangga yang satu lokasi dengan goa Selomangleng. Berkali-kali diundang kawan-kawan dari berbagai komunitas saya selalu saja mendapati halangan untuk datang, kebanyakan karena sakit, hehe, alhamdulillah sakit. 😉

Hari itu, Sabtu, tanggal 22 September 2013, dengan kondisi kaki yang baru saja pulih dari trauma, Allah akhirnya mengijinkan saya berjumpa dengan kawan-kawan dari komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah Khadiri, beberapa komunitas sejarah dan budaya dari kota lain, pengrawit dan sinden dari siswa-siswi SMPN 6, dan banyak pengunjung kawasan wisata Selomangleng dari berbagai latar belakang kepentingan dan komunitas.

Tugas saya pagi itu, menjadi narasumber pe-riview, halah, padahal pekerjaan mereview dengan serius sering sekali saya abaikan, hehe.. tapi kehormatan itu saya terima dengan senang hati, dengan niatan semoga Allah menambahkan wawasan dan membuka pintu-pintu segala macam informasi yang saya butuhkan kelak dalam proses kerja dan belajar saya berikutnya.

dan beginilah review saya: ………

cover

Pertama kali yang menjadikan saya takjub saat menerima buku ini adalah tampilannya. Cover yang eksklusif dan kertas isi yang glossy menimbulkan kesan mewah dan kesan ekspensif. Hehe.. namun saya yakin, setelah membuka isinya dan membaca dengan kecintaan, buku ini sepadan dan sangat rekomended dijadikan salah satu koleksi dalam rak buku kita di rumah.

Seperti biasa, kata pengantar adalah menjadi sorotan utama saya sebelum mengubek-ubek isi buku. Pengantar yang ditulis Seno Gumirah Ajidarma, penulis favorit saya tentu saja menyedot perhatian. Memaksa saya untuk tinggal di sana agak lama agar saya tidak tersesat ketika menikmati isi sebuah buku.

Ketakjuban berikutnya, ketika membuka halaman daftar isi. Wow! Saya bilang. Ternyata Mr. Olivier membuat pemetaan yang luar biasa di luar apa yang sedang saya pikirkan. Ini kejutan. Sejarah memang bisa dibaca dari kebudayaan, tradisi dan kebiasaan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kesukaan saya pada pemandangan alam, yang lantas kemudian saya pikir, jika saja dibukukan, mungkin tidak akan menjadi sumber bacaan sejarah, galian detail tentang apa yang pernah terjadi pada nenek moyang kita jauh di tahun-tahun sebelumnya.

Buku ini yang sebenarnya sangat saya sayangkan sebab bukan saya yang menulisnya, atau kawan-kawan dari Jawa sendiri yang menulisnya membuat saya semakin ingin untuk membaca. Namun lantas, disinilah keeksotikan wacana yang diberikan buku ini. Sorotan yang berbeda akan muncul berbeda pula jika penulisnya berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Di luar itu, saya berusaha menelaah, keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh dengan hadirnya buku ini, yang pertama, menduniakan keberadaan bangsa indonesia. Ah itu kan sudah. Iya! Namun ekspos terhadap sesuatu yang secara terus menerus akan memberikan efek lebih dalam, pengenalan yang lebih pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Yang kedua, lewat penjelasan, cara Mr Olivier menyajikan gambar dan cerita yang menunjukkan bahwa memang deskripsi yang dihadirkan melalui studi panjang dan sangat serius, berdampak dengan lebih menasionalkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi di jawa.

Yang ketiga, bagi orang-orang Jawa sendiri, buku ini sepeti bisa dijadikan acuan, bacaan, dan bahan tambahan wawasan untuk lebih mengenali indentitas dirinya sebagai bagian dari sejarah. Untuk kemudian menjadi telaah maju atau sebagi sumber cerita bahwa kecintaan kepada diri pasti akan berdampak pasa pemahaman terhadap apa yang harus dikerjakan di masa berikutnya.

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

Ke empat, buku ini menjadi sumber analisis bacaan sejarah yang menyenangkan. Dengan adanya gambar, kartu pos-kartu pos yang atraktif dan eksotik, sedikit banyak memberikan atau menggugah minat untuk lebih menikmati dalam mempelajari sejarah bangsa.

Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi saya, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Nama-nama fotografer dan penerbit kartu pos-kartu pos yang teridentifikasi juga bukan kerja yang mudah. Ini pun menjadi daya tarik yang unik. Meskipun, secara personal saya berpikir pastilah masih banyak fotografer dan penerbit yang mencetak kartu pos-kartu pos ini, namun pembatasan dalam rangka memberikan gambaran latar belakang yang jelas untuk memberikan dukungan pada sebab lahirnya kartu pos, bisa dianggap cukup elegan.

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

Satu hal yang perlu dicermati dan diwaspadai dari buku ini adalah, adanya gambar yang berkesan agak vulgar. Bagi penulis Belanda ini, mungkin hal tersebut bermakna biasa dan eksotik, namun tidak dalam khasanah batasan norma bagi penduduk Jawa. Akhirnya, buku ini rekomended bagi pembaca dewasa yang bijak.

Terima kasih, kepada @blusukanPASAK (komunitas muda Pelestari Sejarah dan Budaya Khadiri) atas undangannya. ^^

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

 

 

——————————————-eon.

shelter722092013

[curcol] mengenang Banyuwangi

bismillahirrahmanirrahimm…

Dari Abu Sa'id Al Khudri ra, Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat akan diberikan cahaya baginya di antara dua Juamat." (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahishkan oleh Syaikh Al Albani)

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat akan diberikan cahaya baginya di antara dua Juamat.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahishkan oleh Syaikh Al Albani)

Sebelum mengetahui hadist sahih tentang sunnah Rasulullah yang layak dikerjakan di malam Jumat (mulai hari Kamis ba’da Ashar sampai hari Jumat habis), yaitu membaca surat Al Kahfi, aku pernah menangis kali pertama ketika menyadari, surat yang kubaca lepas magrib waktu awal-awal sampai di kotaku yang baru ini, adalah surat Al Kahfi. Tepat di tengah surat, ada selipan selembar kertas, yang ketika di Banyuwangi kubiasakan menyelipkannya di antara halaman-halaman Qur’an. Menulisi kertas itu dengan ayat terakhir yang kubaca bersama teman-teman ibu-ibu masjid Ahmad Dahlan.

LAST (READ)! 27/5/2012 QS. Al Kahfi : 44

290920131769

Awalnya tidak begitu paham, namun setelah kubolak-balik selembar kertas notes itu, tiba-tiba hatiku disergap perasaan rindu. bu Yeni yang selalu duduk di sebelah kananku, karena selalu datang paling awal, bu Yuka yang selalu di sebelah kiriku, bu Endah, bu Narti, bu Susi, bu Darul, mbak Enfi, bu Tyas, bu Hasnah, bu Yuyun, dan yang lain yang kadang bisa hadir kadang tidak. Iya, aku rindu duduk di antara mereka di dalam masjid dengan bangku-bangku kayu, tawa yang renyah, obrolan-obrolan yang selalu positif membuatku merasa kuat. yang terakhir bergabung, bu Tatik yang akhirnya pindah mengikuti suaminya juga, ibu lucu yang selalu membuatku grogi ketika tiba giliranku tilawah. beliau pasti duduk mendempet di dekatku, katanya ingin bisa membaca sepertiku, padahal, bagiku, bacaan tilawahnya sangat eksotik. kekentalan cengkok Osing-nya membuatku menganga dalam paduan bacaannya.

Jauh setelah kurenungkan sekali lagi, sergapan rasa rindu itu kupikir juga sebab adanya Ustadz Abdallah yang santun, yang lemah lembut, yang ringan tegurannya tapi sangat menampar, ustadz yang membimbingku dan ibu-ibu waktu itu.

Sampai hari ini, sejak mengetahui hadist tentang pembacaan surat Al Kahfi di malam jumat, aku tetap menyelipkan selembar kertas notes itu tepat di surat Al Kahfi, dengan harapan, bacaanku kelak bisa memulyakan Ustadz Abdallah dan kawan-kawanku kala itu. Mengenangnya dalam doa-doa yang khusyuk.

Sekarang, ketika malam Jumat tiba dan Al Kahfi menjadi bacaanku, rinduku semakin sarat, sedalam hati kehilangan Ustadz kami, ayah dan kakek kami tercinta bapak Abdallah memang telah berpulang.

Allahummagh firlahuu, warhamhu, wa’aafiihi wa’fuanhu.

Yaa Allah, ampunilah segala dosa beliau, kasihanilah dia, dan hapuskanlah kesalahan-kesalahannya. aamiin.

Sesampainya di kota ini, kenangan dan taman surga yang kudapati di banyuwangi kala itu, tak rela kubiarkan hilang, dan Allahurobbul’alamin selangkah demi selangkah membimbing kakiku mempertemukan satu per satu taman-taman surga di kota ini.

Kedatanganku di kota ini membawa keinginan, bertemu ustadz yang mampu mentransfer ilmu seperti beliau. pelajaran tajwid, kisah-kisah teladan sahabat nabi, menulis arab, memperbaiki muamallah melalui fiqih, hadist-hadist, paket paling komplit. namun, bertemu orang yang sama tentulah bukan sesuatu yang mudah.

Setahun sudah perjalananku di kota ini, yang jika setiap malam hari Senin aku mengenangkan masa di Banyuwangi, selalu menjadi waktu kritis mengerjakan tugas menulis bahasa arab. Sambil sesekali berkirim sms ke bu Yeni atau bu Yuka yang isinya, betapa aku rindu mengerjakan tugas menulis arab di malam hari senin. Setahun ini pula, akhirnya aku dipertemukan dengan ustadz yang memberikan pelajaran menulis arab. Alhamdulillah, malam Senin ini, sambil mengenang malam senin banyuwangi, aku menulis kembali huruf-huruf Qur’an.

tehnik berbeda, tapi tetep juga untuk memperbaiki tulisan hijaiyahku hehe

tehnik berbeda, tapi tetep juga untuk memperbaiki tulisan hijaiyahku hehe

290920131768

tehnik menulis di Banyuwangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meski tidak bisa bertemu dengan ustadz yang sepaket seperti almarhum ustadz Abdallah, aku tetap bersyukur, menjadi lebih banyak majelis, taman-taman surga yang bisa kuhadiri, dengan kajian khususnya masing-masing. lelah harus ke sana ke mari itu tiada apa-apanya, aku yakin, malaikat-malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya bagi mereka yang berjalan menuju majelis-majelis ilmu. 🙂

Semoga rahmat Allah untuk teman-teman di Banyuwangi yang masih gigih menegakkan risalah, semoga Allah menghadiahkan sebesar-besar ampunan dan menjadikan kita semakin tawadu’. aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

—————————eon.

shelter721030929

[muhasabah] meletakkan harap

Posted on

Betapa harapan akan selalu terbentur dengan tembok raksasa, kuat dan kokoh, sulit dan kian susah ditembus diri.
Betapa harapan akan selalu menemui jalan buntu, sangat sulit bahkan melihat celah cahaya sekali pun.
Betapa harapan akan selalu menyesakkan, mendatangkan sakit di tubuh dan hati, membawa kepada putus asa hingga mengakhiri hidup adalah pilihan satu-satunya.
Betapa kesulitan akan terus bertambah-tambah, mengapa?

Sebab kami lupa, merendahkan diri.
Sebab kamu lupa, menundukkan diri.
Sebab kami lupa, di mana semestinya harap diletakkan.
Harapan bukan diletakkan di diri, diletakkan pada kekasih, suami, istri, anak, keluarga, bahkan bukan di tempat kami mencurah segala energi. Dimana semestinya?

Allahurobbi, kekasih para hamba yang shalih. Yaa Latif Yaa Nuur
Pada-Mu lah tempat harapan disandarkan, diletakkan, diserahkan, ditumpukan.
Maka cahaya akan selalu tampak.
Maka jalan yang penuh kelegaan, keluasaan, kelapangan akan selalu terbentang.
Yaa Allah Yaa Baatin Yang mengetahui segala rahasia
Yaa Fattah Yang membukakan segala pintu jalan keluar dari kesulitan
Yaa Allah Yaa Raafi’ yang mengangkat segala kesusahan
Yaa Allah Yaa Haadi yang maha memberikan petunjuk
kami letakkan harap kami padaMu, sungguh, kami yakin tak ada secuil pun harap kami yang akan sia-sia di hadapanMu.

[muhasabah] risalah kematian

Posted on
taken from bedhesbiroe.blogspot.com

taken from bedhesbiroe.blogspot.com

awal tahun ini, Allah memberikan lagi tanda kasih sayangnya yang begitu luar biasa kepadaku. sungguh, aku bersyukur melampaui masa itu. beberapa hari lalu, di sebuah lobi apotek, aku bertemu seorang perempuan yang wajahnya familiar. tak berapa lama aku kemudian mengajaknya berbincang dan benar, perempuan itu ternyata perawat baik hati yang awal tahun ini sudah banyak membantuku ketika harus menginap di rumah sakit.

pertemuan itu mengingatkanku pada hutang pada diriku sendiri untuk menuliskan, ini. 🙂

jauh dari sanak famili dan belum seberapa akrab dengan teman-teman di tempat tinggal baru, terkadang memang sebuah kendala. tapi bagaimana kemudian menjadikan kendala itu jalan meraih sabar itulah kemudian yang kupelajari dengan hebatnya.

awal tahun ini, rumah sakit adalah tempat menginap keluargaku di top of list. hehe kelelahan sangat, lalu jatuh sakit, diagnosa dokter yang salah, dokter yang tidak komunikatif, banyak aktivitas dan kegiatan yang tertinggal, dan banyak lagi, dan sangat banyak lagi.

namun kesemuanya itu bukan lagi penting saat ini, sebab satu hal yang paling menyentuh, mengisnpirasi dan akan kuingat terus adalah, ketika teman-teman majelis menengok kami di rumah sakit, setelah perbincangan ringan ala kadarnya, 7 sampai 8 orang kira-kira waktu itu, bersama-sama menengadahkan tangan, bersama-sama memanjatkan doa yang aku tahu sangat khusyuk sampai aku menangis mendengarkan ucapan doa-doa mereka.

subhanallah, Allah mengirimkan, kawan-kawan yang luar biasa. namun, lepas dari itu. aku juga yakin, di luar kawan-kawan yang sedang membezuk itu pula, banyak kawan-kawanku yang luar biasa juga di luar sana.

yang menjadi muhasabahku, perenunganku kemudian, secara pribadi, tidak pernah memang aku memjenguk kawan yang sakit lalu terang-terangan mengajak semua yang datang bersamaku mengangkat tangan lalu terang-terangan membacakan doa. paling sering yang kulakukan mengucapkan “semoga lekas sembuh, ya.” atau “syafakillah” bagiku, sekarang yang kulakukan itu sangatlah kurang dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan kawan-kawanku tadi. sehingga kemudian menjadi tekadku kemudian akan melakukan hal yang sama dengan mereka suatu saat jika pergi membezuk.

Duhai Illah pememberi kekuatan, semoga Engkau berikan kekuatan pada hamba melakukan itu.

beberapa minggu sepulang dari rumah sakit. aku kembali ke aktivitas biasa. membaca buku-buku baru salah satunya. di kurun waktu yang bersamaan, biasanya aku membaca dua buku sekaligus. namun kali ini bukan buku baru salah satunya, tapi buku lama tentang kematian.

beberapa hari di rumah sakit, terus mengingatkanku pada kematian. semakin larut, semakin larut aku merenungkannya dari waktu ke waktu.

hingga suatu siang, aku menerima sms dari ibu. seorang tetanggaku, yang berlekatan tembok rumahnya dengan rumah ibuku, berpulang.

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. QS 7:34

lepas ashar, masih di atas sajadah, aku menelepon ibu. menanyakan detail peristiwa yang mengantarkan tetanggaku itu pada ajalnya.

beliau, meninggal di kemoterapi yang ke-9 dari 12 kemoterapi yang dijadwalkan, sebab memnderita kanker getah bening.

berita meninggalnya tetanggaku itu membuatku sangat terpukul. di antara larutku pada kematian dan di antara kenangan, bahwa beliaulah guru ngajiku yang pertama. yang mengenalkanku pada banyak sekali pengetahuan agama, tidak hanya sekedar mengajari alif ba’ ta’

usianya masih tergolong muda. awal 40-an. ustadzah Sri Rahayu, namanya. semoga ilmu yang beliau ajarkan padaku dan terus kuamalkan, memberikannya kenikmatan di kuburnya sampai hari akhir kelak. aamiin.

betapa kemudian aku bertambah larut dalam mengingat kematian itu sendiri, lantas aku menjadi rindu pada guru ngajiku di kota singgah sebelumnya, Banyuwangi. Ustadz Abdallah, namanya. sebab kerinduanku itu kemudian aku memasang status di facebook dan mengundang teman-teman semajelis, dahulu. menanyakan kabar ustadz dan kawan-kawan.

kabar yang kuterima kemudian tidak lantas membuatku ringan. sebab rinduku itu berbalas kabar yang semakin dan semakin dalam larut dalam mengingat kematian. seorang kawan berkabar, sebab usia beliau yang semakin senja dan penyakit gula yang dideritanya, pandangan (mata) beliau sudah tak bisa lagi melihat.

tangis mana yang tak mengunjungiku kemudian. teringat suara dan bacaan Al Quran beliau yang merdu. tutur teguran yang lembut. kukembalikan lagi pada diriku, merefleksi, bermuhasabah.

sungguh, bagaimana jika nikmat melihat itu dicabut dariku, sementara hafalan Quranku jauh dari nol. bagaimana jika nikmat melihat, mampu membacaku dicabutNya dariku yang setiap hari hanya sedikit bacaannya. pasti aku menjadi orang yang menyesal di hari akhir kelak. menjadi orang yang paling rugi setelah kematianku. menjadi golongan orang-orang yang jauh dari berkahNya, naudzubillah tsumma naudzubillah.

Yaa Goffar, Yang Maha Pemberi Ampunan, ampuni kami yang jauh dari ikhtiar merajuk-rajuk mendekat padaMu. Kehendaki kami menjadi orang-orang mukmin yang mukhlis. Kehendaki wajah kami selalu basah sebab khawatir kematian menjemput kami tiba-tiba ketika kami tak berbekal sedikitpun. Kehendaki umur kami yang tersisa memberikan manfaat (khasanah akhirat) bagi kami dan semua makhluk. aamiin.

dan memang, setiap kematian yang datang pada orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang kita kenal, membawa hikmah bagi kita yang tertinggal di fana dunia ini, agar semakin tunduk runduk, menyadari betapa kecilnya kita di mata Allah SWT.

semoga tulisan ini memberikan manfaat dan mengispirasi kawan-kawan.

selamat berjihad! 🙂

——————————eon

kabkdr073604052013

[muhasabah] motivasi istiqomah

Posted on

pagi selepas subuh, membuka buku yang di halaman depannya menuliskan ini sebagai mottonya. dalam perenungan, mottonya ini pun menyemangatiku.  semoga ini menjadi pengingat kita, untuk terus termotivasi dan istiqomah, bukan sekedar mengejar surga, namun menjadi makhluk yang dikehendaki oleh Al Malikul Qudus, sebagai makhluk yang terridhoi.

 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

(QS. Al Ahzab  : 35)

 

bahkan kisah Robi’atul Adawiyah, konon kabarnya, beliau mengatakan “tidak apa-apa jika Allah memasukkanku ke dalam neraka, asalkan aku mendapatkan ridhonya.”

sebuah penggambaran, betapa ridho Allah itu lebih utama dari surga.

selamat pagi, selamat berjihad, kawan-kawan. ^_^

 

 

%d bloggers like this: