RSS Feed

Category Archives: sastra

Damaiku, kupu-kupu…

Posted on

Hasil gambar untuk white butterflies

Pagi yang indah di pekarangan belakang rumah. Segar udara sehabis hujan dan mentari yang masih enggan dan malu-malu bertandang. Semburat kuning keemasan yang hangat. Sebentar lagi pasti kita saksikan pelangi mencipta dirinya melengkung dibalik rerimbunan semak perdu yang diam-diam menyimpan embun. Lalu, setiap embun itu pasti akan pecah juga menjadi pelangi kecil-kecil untuk mata kita yang jeli-jeli berjongkok mengintip menyapa dengan senyum. Embun yang membutir di pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring.

Pagi yang merdu, dengan cericip burung-burung perdu. Nyanyian prenjak dan celoteh bondol. Kepak-kepak sayap burung gereja dan dengkur kipasan yang melompat-lompat diantara dahan. Derik tenggerek dan lengking cipoh yang menyayat merdu, melahirkan rasa rindu geli yang ajaib, jauh di puncak-puncak pohon tinggi. Lalu apalagi? Ah… suara gemericik air di sungai kecil yang ada diantara kejauhan perdu-perdu ini, masuk diantara pekarangan belakang dan tepian hutan.

Pagi yang damai dengan kakiku yang telanjang membelai tanah basah, jalanan yang becek selepas guyur hujan semalam. Membuatku melupakan segala penatku, masalahku antara uang dan waktu, antara ambisi dan nafsu, antara cita-cita dan mimpi, juga antara kita yang selalu berjauh-jauhan dan bertengkar.

Tidak! Kulupakan saja itu semua sekarang. Sebelum segar udara pagi ini menguap dan mentari semakin kejam menyengat. Kaki telanjangku dingin, menikmati lembut lempung tanah berair. Betapa nyaman. Menyaksikan daun-daun kecil mengangguk-angguk. Hendak membelaikukah? Ah…aku begitu damai dan terbitlah senyumku yang tulus.

Lalu ketika aku melaju mengayun kaki semakin jauh menuju tepian hutan. Aku mendapati segerombol kupu-kupu putih cantik hinggap di bebatuan di tengah jalan. Sedang apakah mereka? Berkerumun pada batu-batu kecil disekitar kubangan air keruh. Hati damaiku melonjak, berjingkrak serta merta ingin menjelma kupu-kupu. Berkumpul bersama kawan-kawan dan keluarga, sahabat-sahabat dan kekasih. Bersama tertawa, terkikik, berdendang membicarakan kubangan keruh dan batu dingin tempat aku hinggap bersama mereka.

Kupu-kupu kecil putih yang jernih, betapa membuat kuning keemasan warna udara menjadi lebih terang namun tak menyilaukan. Betapa aku ingin bersama mereka. Maka, segera aku berlari. Berlari menuju batu tempat mereka hinggap. Jalan licin yang becek ini membuat kakiku selip, dan aku terpeleset jatuh berdebam.
”Tuhan…!” teriakku, entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Lalu, kulihat kerumunan kupu-kupu itu berhamburan. Jatuh debamku beresonansi, menggetarkan udara, mengalirkan energi besar mengusik dingin udara, menggemparkan kerumunan kupu-kupu putih mungil yang tak jauh dari mataku. Mereka terbang menjauh.

”Tunggu aku..!” pekikku, sekali lagi entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Aku bangkit, berdiri, berlumpur. ”Tunggu aku…”

Mereka mendengarkah? Atau tak peduli lagi dengan gelombang udara yang tiba-tiba berubah? Sekarang mereka hinggap lagi. Tenang. Berkerumun. Begitu indah gemerlap tertimpa cahaya mentari keemasan mengurai pelangi baru lagi.

Berkerumun di tempat yang sama ketika pertama kali aku melihat mereka. Sekarang aku tak berlari, kakiku nyeri. Namun, aku mengendap, mengangkat kaki perlahan yang seharusnya kuseret sebab sakit. Semoga kupu-kupu itu tak hirau hadirku mendekat.

Tepat ketika sampai di dekat mereka, aku melompat diantara batu-batu kecil tempat mereka hinggap dan kubangan-kubangan keruh.
”Horeee…!!!” teriakku lantang dari mulutku sekarang. Aku tahu. Dan mereka, kupu-kupu putih kecil itu semburat, menghambur terbang berkeliling diantara tinggi rendah tubuhku. Mereka tak pergi, tapi di sekitarku. Putih mungil. Kecil-kecil.

Aku menari berputar-putar. Melompat ke kanan kiri menghentaki bumi becek di bawahku. Aku bahagia. Aku damai. Menjadi kupu-kupu. Terus, aku menari. Terus. Terus. Terus. Hingga mentari meninggi, embun-embun singkap dari pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring. Hingga pelangi pudar kikis dan kicau burung-burung perdu merendah lalu satu-persatu kupu-kupu putih mungil itu terbang menjauh.
Aku lelah dan aku rindu.

Nightingale just sing you a song
10012010.1534

Advertisements

[review buku] Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe — Olivier Johannes Raap

Posted on

Alhamdulillah, akhirnya, saya senang sekali mendapatkan kesempaan berkunjung ke Museum Airlangga yang satu lokasi dengan goa Selomangleng. Berkali-kali diundang kawan-kawan dari berbagai komunitas saya selalu saja mendapati halangan untuk datang, kebanyakan karena sakit, hehe, alhamdulillah sakit. 😉

Hari itu, Sabtu, tanggal 22 September 2013, dengan kondisi kaki yang baru saja pulih dari trauma, Allah akhirnya mengijinkan saya berjumpa dengan kawan-kawan dari komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah Khadiri, beberapa komunitas sejarah dan budaya dari kota lain, pengrawit dan sinden dari siswa-siswi SMPN 6, dan banyak pengunjung kawasan wisata Selomangleng dari berbagai latar belakang kepentingan dan komunitas.

Tugas saya pagi itu, menjadi narasumber pe-riview, halah, padahal pekerjaan mereview dengan serius sering sekali saya abaikan, hehe.. tapi kehormatan itu saya terima dengan senang hati, dengan niatan semoga Allah menambahkan wawasan dan membuka pintu-pintu segala macam informasi yang saya butuhkan kelak dalam proses kerja dan belajar saya berikutnya.

dan beginilah review saya: ………

cover

Pertama kali yang menjadikan saya takjub saat menerima buku ini adalah tampilannya. Cover yang eksklusif dan kertas isi yang glossy menimbulkan kesan mewah dan kesan ekspensif. Hehe.. namun saya yakin, setelah membuka isinya dan membaca dengan kecintaan, buku ini sepadan dan sangat rekomended dijadikan salah satu koleksi dalam rak buku kita di rumah.

Seperti biasa, kata pengantar adalah menjadi sorotan utama saya sebelum mengubek-ubek isi buku. Pengantar yang ditulis Seno Gumirah Ajidarma, penulis favorit saya tentu saja menyedot perhatian. Memaksa saya untuk tinggal di sana agak lama agar saya tidak tersesat ketika menikmati isi sebuah buku.

Ketakjuban berikutnya, ketika membuka halaman daftar isi. Wow! Saya bilang. Ternyata Mr. Olivier membuat pemetaan yang luar biasa di luar apa yang sedang saya pikirkan. Ini kejutan. Sejarah memang bisa dibaca dari kebudayaan, tradisi dan kebiasaan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kesukaan saya pada pemandangan alam, yang lantas kemudian saya pikir, jika saja dibukukan, mungkin tidak akan menjadi sumber bacaan sejarah, galian detail tentang apa yang pernah terjadi pada nenek moyang kita jauh di tahun-tahun sebelumnya.

Buku ini yang sebenarnya sangat saya sayangkan sebab bukan saya yang menulisnya, atau kawan-kawan dari Jawa sendiri yang menulisnya membuat saya semakin ingin untuk membaca. Namun lantas, disinilah keeksotikan wacana yang diberikan buku ini. Sorotan yang berbeda akan muncul berbeda pula jika penulisnya berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Di luar itu, saya berusaha menelaah, keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh dengan hadirnya buku ini, yang pertama, menduniakan keberadaan bangsa indonesia. Ah itu kan sudah. Iya! Namun ekspos terhadap sesuatu yang secara terus menerus akan memberikan efek lebih dalam, pengenalan yang lebih pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Yang kedua, lewat penjelasan, cara Mr Olivier menyajikan gambar dan cerita yang menunjukkan bahwa memang deskripsi yang dihadirkan melalui studi panjang dan sangat serius, berdampak dengan lebih menasionalkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi di jawa.

Yang ketiga, bagi orang-orang Jawa sendiri, buku ini sepeti bisa dijadikan acuan, bacaan, dan bahan tambahan wawasan untuk lebih mengenali indentitas dirinya sebagai bagian dari sejarah. Untuk kemudian menjadi telaah maju atau sebagi sumber cerita bahwa kecintaan kepada diri pasti akan berdampak pasa pemahaman terhadap apa yang harus dikerjakan di masa berikutnya.

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

Ke empat, buku ini menjadi sumber analisis bacaan sejarah yang menyenangkan. Dengan adanya gambar, kartu pos-kartu pos yang atraktif dan eksotik, sedikit banyak memberikan atau menggugah minat untuk lebih menikmati dalam mempelajari sejarah bangsa.

Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi saya, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Nama-nama fotografer dan penerbit kartu pos-kartu pos yang teridentifikasi juga bukan kerja yang mudah. Ini pun menjadi daya tarik yang unik. Meskipun, secara personal saya berpikir pastilah masih banyak fotografer dan penerbit yang mencetak kartu pos-kartu pos ini, namun pembatasan dalam rangka memberikan gambaran latar belakang yang jelas untuk memberikan dukungan pada sebab lahirnya kartu pos, bisa dianggap cukup elegan.

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

Satu hal yang perlu dicermati dan diwaspadai dari buku ini adalah, adanya gambar yang berkesan agak vulgar. Bagi penulis Belanda ini, mungkin hal tersebut bermakna biasa dan eksotik, namun tidak dalam khasanah batasan norma bagi penduduk Jawa. Akhirnya, buku ini rekomended bagi pembaca dewasa yang bijak.

Terima kasih, kepada @blusukanPASAK (komunitas muda Pelestari Sejarah dan Budaya Khadiri) atas undangannya. ^^

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

 

 

——————————————-eon.

shelter722092013

[sajak] khianat

Posted on

 

taken from wallpapersus.com

taken from wallpapersus.com

 

 

hujan berdengung, ada kisahkisah hati berkabung

kepercayaan yang dihilangkan

keyakinan yang dipatahkan

ditolak, diinjak, dimuntahkan dengan cara paling manis; khianat.

hujan berdengung

seperti ribuan lebah yang berkerumun

lengkung rusukku, patah.

 

 

 

———–eon

kdr2140140113

[sajak] quayside and you

Posted on
quayside, taken from http://wallpapersus.com

quayside, taken from http://wallpapersus.com

Saat melihat fotofoto yang melukiskan dermaga, aku mengingatmu, Jay, menggandeng tanganku lalu mengayunayunnya. Angin laut kencang dan suara tawamu yang riang. Semesta kecilku yang cemerlang.

Aku tahu, mataku berbinar, garis bibirku naik berkejaran dan pipiku merona terbakar. Engkaulah langit tempatku pijar.


Saat melihat dermaga, aku mengingatmu, Jay, kita duduk di ujungnya, menjuntaikan kaki dan diam tanpa katakata.


Bisikmu, kita mesti berlomba mendengar desir ombak yang dipecah kayuh kakikaki penyu. Sebab mereka akan mebawa kita ke negeri di dasar laut yang indah. Tempat ikanikan dan mutiaramutiara terserak memendarkan dunia.


Aku tahu kau bohong, sebab kita tak akan bisa masuk ke sana bersama penyupenyu, berlarilari mengejar ikanikan, bahkan memainkan musik dari tubatuba terumbu karang, betapa ramainya.


Aku tahu kau bohong, sebab sebenarnya, sedang kau giring aku menuju pelukmu yang selalu hangat beralun deburdebur ombak.

———————–eon.

kabkdr220126032013

[prosa] mengantarmu menghilang..

Posted on

aku duduk di atas gundukan bukit di antara gerumbulan semak longgar yang lapang. memandang langit yang berubah temaram, perlahan. air, seperti dihamburkan. turun cepatcepat bersama angin dalam derainya, halus….

lagilagi matahari seperti beringsut. enggan terus berada di dekatku, di dekatku…..

aku duduk di atas gundukan bukit di antara gerumbulan semak longgar yang lapang. memandang langit yang berubah temaram, perlahan. seperti tangisku yang dihamburkan. turun cepat-cepat mengejar angin, mencoba mengiringnya rapat, hingga menyatu berpuntir. lalu bersama angin memegangi matahari senja agar tak bernar-benar lelah, merosot, menghilang ke balik cakrawala digantikan rindu yang merajalela. ah!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

…………………………………….eon.
kdr13to2801131918

[cerpenpen] Catatan Harian Kapten

Posted on
nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

Perjalanan bintang di tahun cahaya ke empat. Aku terbangun masih di dalam kamar pesawat antariksaku. Kesehatanku, kurasakan membaik. Sementara tak ada seorangpun di kapal ini bisa kumintai pertolongan, kalian tahu tentunya bahwa di jaman ini, semua dikerjakan dari satu pusat kendali, aku, di bawah sana, robot-robotlah yang bergerak.

Namaku, kapten Nightingale, dan aku sedang perada di pesawat antariksa yang kami beri nama Haliaeetus leucogaster. Kami, iya, kami, pesawat ini milik kami berdua, aku dan kapten Blue Wishtle-trush. Kami sedang dalam misi mencari planet yang penuh gunung dan lembah, planet yang penuh bukit-bukit hijau yang ketika matahari ruyup di timur, ranting-ranting pohon, lingir-lingir daun-daun berkilauan sangat cemerlang. Planet yang bersamudra dengan debur ombak yang terdengar terus bernada sama namun tidak. Misi berat yang rupanya membuat iri banyak golongan di planet kami. Maka berjarak tahun cahaya ketiga dari planet kami, Haliaeetus leucogaster diserang saat transit di dermaga satelit Nebula. Sebuah black hole jadi-jadian dari acakan energy gelombang electromagnet berhasil menyedot sebagian satelit Nebula, separuh badan pesawat dan kapten Blue Wishtle-thrush, patner, kawan seperjalanan, sahabat galaksi dan sang kekasih bintang. Reaksi reflex satelit Nebula yang kemudian melepaskan tembakan proton ke arah sumber acakan energi  gelombang electromagnet itulah yang menyelamatkanku dan anjungan sekunder pada bagian pesawat kami. Aku tak bisa menyelamatkan bagian pesawatku yang lain, tidak pula menyelamatkan kapten Blue Wishtle-thrush. Sejak itu, aku tak punya alasan melanjutkan misi dengan pesawat yang cacat kecuali kembali ke planet kami, dan kesehatankupun menurun seiring perjalanan cahaya kembali menuju rumah.

Aku bergegas turun dari tabung peraduanku. Menuju anjungan dan mengecek sampai sejauh mana robot-robot pesawat antariksaku bergerak mendekati pusat planet tujuan terdekat perjalananku ini. Aku berjalan kaki cepat-cepat.

Pintu anjungan mengayun terbuka dengan halus begitu aku sampai di depannya. Tiga langkah setelah pintu, di sebelah kanan, terdesain sebuah cabinet laminar air flow yang menempel dan menyatu dengan badan pesawat, kecuali permukaan interaksinya yang berpenutup kaca sampai enam per delapan ruangan cabinet. Aku menurunkan tiga atau empat biji-bijian ke dalam glass plate yang ada di dalam cabinet dengan menekan sebuah tombol, kemudian merangkai beberapa tombol lagi dengan berbagai kode untuk mengubah partikel-partikel dalam biji-bijian itu menjadi makanan yang dibutuhkan tubuhku. Tidak rumit. Sebab seperti itulah memang kehidupan dalam pesawat antariksa manapun.

Cabinet laminar air flow bekerja seperti tidak dalam kecepatan biasanya, ataukah aku yang masih belum stabil benar. Tiba-tiba tubuhku merosot ke bawah, ke lantai anjungan pesawat yang begitu luas dengan berbagai mesin kendalinya dan belum kusentuh semua. Pesawat ini masih luas meski telah kehilangan sebagian tubuhnya dan hanya aku makhluk hidup yang berdiam di dalamnya, maka demi bintang-bintang yang gemerlap di saat fajar, aku memaksa diriku bangkit dan berdiri. Namun tubuhku terlalu berat..

“Sea Hawk, transformasi kapten ke pusat kendali!” perintahku pada robot pentransform.

Tubuhku tersentak sedetik, lalu merasakan sensasi menggelitik panjang yang membuat mual dan pusing saat kali pertama dulu aku bertransformasi, berpindah tempat. Rasa yang lebih pekat dari kekuatan gravitasi yang pernah kurasakan di planet kami. Menyesakkan dan berat. Tapi setelahnya terbayar dengan kelegaan luar biasa, setelah aku berada di tempat tujuan, di kursi anjungan.

Kuhirup sejenak udara, yah! Beginilah rasanya mensyukuri udara.

Aku tak lagi memperdulikan makanan yang sudah terbentuk di dalam cabinet laminar, aku seperti tak punya banyak lagi waktu. Dengan tone suara yang kubuat stabil seperti saat kesehatanku belum terganggu, aku kembali mengatur kecepatan pesawat, memperhitungan kecepatannya sampai di pusat planet tujuan terdekat. Mengecek seberapa jauh lagi jarak tempuhnya dan menghitung semua persediaan hydrogen pendorong pesawat. Satu lagi yang mesti kuperhitungkan, aku memerlukan energi yang lebih besar untuk membuat pesawatku berada di luar jangkauan radar pesawat antariksa manapun. Kondisiku sedang tidak cukup baik menerima kunjungan ramah tamah bahkan serangan invasi sekalipun.

Tenagaku terkuras habis setelahnya. Tubuhku semakin merosot ke lantai.

“Pusat bintang Iliera, ribuan tahun cahaya akan kutempuh, walau nyawaku tebusannya, tidak ada tempat paling membahagiakan di alam semesta ini kecuali tempat kekuatanku dan kekasihku di lahirkan,” bisikku.

“Sea Hawk, tranformasi kapten ke tabung peraduan!”

Sedetik kemudian tubuhku merasakan sensasi kembali dan telah terbaring di tabung peraduan detik berikutnya. Kaca tabung mengayun tertutup begitu tubuhku telah rapi berada di piringan tabungnya. Seiring kaca tabung merapat, merapat pula lah mataku, pejam.[]***

———————eon

Kdr1059301212

terinspirasi dari patahan-patahan gambar film startrex yang masih mengendap di kepala, dan novel-novel fantasi Ursula K.  Le Guin dan ketakjubanku pada antariksa. selamat berlibur bagi yang merayakan! hehe ^_^

[sajak] sadis!

Posted on

repost from multiply Mar 13, ’11 11:02 PM

dan ketika aku membutuhkan genggam erat yang ketiga,

ah..!
bukan!

tapi genggam erat yang ketigabelas
kau tak ada

meski bangku itu masih utuh

warnanya telah pudar

bercampur ludah berbusa-busa, lupa dan sia-sia

basi!

merupa kerak!

hanya mengirimkan derak!

retak!

mencipta ilusi

ilusi itu angin

woo….

bukan…bukan…

ilusi itu sekedarnya

tak nyata

racun udara yang tak bisa bergerak

kerancuan otak

seperti pisau besar

lekat erat ujungnya

tepat di aorta.

———————-eon.
bwi.13032011.2302

%d bloggers like this: