RSS Feed

Category Archives: review

[curcol] Wu Xing

Posted on
setelah ngedumel berulang kali, “aku itu gak ngerti apa yang dibahas bunda dengan orang-orang tadi, rasanya kepalaku pusing!”
.
mendengarnya ngomong begitu, aku jadi geli sendiri.
“iya, nanti kalau sudah besar, lalu mau belajar ini, nanti kamu juga akan ngerti, in syaa Allah.”
.
pagi ini, buku pelajarannya ketinggalan
turun dari kendaraan, berlari cepat-cepat ke pintu kelas, lalu balik lagi berlari kencang menujuku
.
“bunda, bukuku ketinggalan!”
“tadi sudah diperiksakan?! kalau cuma diktat, nanti nebeng teman aja. balik lagi ke sini kan jauh, rin.”
“aduh, tapi bukunya harus dikumpulkan hari ini. tolong ya, jam 9 bunda balik ke sini lagi bawakan bukuku.” bicaranya cepat-cepat sambil ngos-ngosan
“bunda, jawab, cepetan…?!”
“iyalah, nanti bunda pikirkan.cepat masuk kelas. sudah terlambat tuh!”
“bukumu di sebelah mana?”
“di atas meja belajar!” teriaknya sambil berlari kembali menuju pintu kelasnya, cepat-cepat.
.
sampai rumah. memeriksa mejanya dan buka-buka bukunya.
kontan aku tertawa. yang awalnya dia mengeluh pusing mendengarnya, ternyata dia mencatat! hihihihi…
amazing!
maasyaa Allah. mirip sama aslinya kok hihihi…..
WhatsApp Image 2017-06-13 at 09.31.37

coretan Karin

Hasil gambar untuk titik akupuntur cin yung su cing he

teori Wu Xing . sumber gambar : adikupuntur(dot)blogspot

Advertisements

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

[Kajian parenting 1] : Darimana Anak-anak Shalih Berasal?

Posted on

[hadist qudsi]

Dari Abu Hurairah Ra., dia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “ Sesungguhnya Allah Swt. Akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga; hamba itu kemudian berkata, ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini?’ Maka Allah Swt. Berfirman, ‘Dari istigfar anakmu.’”

[HR Imam Ahmad] (Mustafa bin ‘Adawi, As-Shahiihul Musnad minal Ahaaditsul Qudsiyyatu, t.t.: 198)

Betapa perkembangan jaman sekarang ini semakin mengkhawatirkan bagi orang tua-orang tua yang peduli dan berpikir pada keselamatan anak-anak mereka jauh di depan. Dan betapa orang tua-orang tua jaman ini dituntut lebih keras berusaha menjadikan anak-anak yang siap menghadapi jamannya beberapa tahun lagi sepanjang hidupnya dan menjadikan anak-anak shalih, yang ketika di hari akhir nanti bisa menjadi penolong orang tuanya, ter-entas dari siksa neraka, termuliakan dengan naiknya derajat orang tua dari lapis surga paling bawah menuju surga tertinggi.

Berangkat dari kondisi jaman yang terus dan semakin menawarkan kekacauan, dan berpegang pada hadist qudsi di atas, anak-anak yang bisa beristigfar yang dimaksud tentu bukanlah istigfar yang biasa. Namun istigfarnya anak yang shalih, yang tunduk kepada Rabb-nya, dan begitu dalam mencintai orang tuanya.

Itulah tugas kita, para orang tua kepada anak-anaknya, ladang amalan-pahala negeri akhirat, membawakan dan menghadirkan cinta kepada Rabb-nya, mengenalkan anak-anak pada Rabb-nya sehingga mereka kelak menjadi anak-anak shalih pemulia orang tuanya.

Pertanyaan berikutnya yang lahir adalah;  bagaimana menjadikan anak-anak pandai beristigfar dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri bahkan sampai jauh ketika kita (orang tua) telah kembali berpulang ke rahmatullah? Sampai jauh ketika kita tidak lagi bersama mereka?

1. Memperbaiki komitmen dan niat pernikahan

Bagi yang belum menikah, point ini crusial. Meluruskan niat, bahwa menikah disebabkan karena kecintaannya pada Allah Swt dan Rasulnya. Menyempurnakan setengah diin (agama). Bukan sebab ingin memperbaiki keturunan saja, memperbaiki kemampuan finansial saja, dan sebagainya, dan seterusnya.

Lalu bagimana dengan yang sudah terlanjur menikah tapi jika di-flash back niatannya hanya bersifat duniawi saja? Point ini juga penting. Bagaimana kemudian antara suami dan istri mendiskusikan kembali MoU (memorandum of understanding) atau aturan pokok kesepahaman dalam kerjasama, begitu gurau bu Nia menyampaikan. Perjanjian yang jelas dengan melibatkan Allah di dalamnya, akan jelas pula apa yang akan dikerjakan suami, apa yang dikerjakan istri dan apa yang mesti dilakukan anak-anak.

Screenshot_2013-10-15-09-32-00

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahriim : 6]

Semua tujuannya jelas; keselamatan diri dan keluarga dari siksa neraka. Maka setiap individu anggota keluarga akan bergerak ke arah yang sama, menjadi rahmat (petunjuk) satu sama lain demi keselamatan dan berkumpulnya kembali keluarganya, yang tentu bukan di tempat yang tidak kita inginkan.

2. Menghadirkan suasana yang hangat dalam rumah

Setiap anggota keluarga yang paham dirinya sebagai rahmat bagi anggota keluarga yang lain, langkah berikutnya adalah dan otomatis akan tercipta atmosfir yang hangat dan saling dukung. Kalau pun belum, maka suasana yang hangat di dalam keluarga haruslah diupayakan oleh orang tua-orang tua, sebagai media pendidik Allah kepada anak-anaknya.

Dibanyak kasus yang terungkap, di Kediri, anak-anak yang sulit dikendalikan, anak-anak yang melakukan tindak kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya, Lembaga Perlindungan Anak Kediri menyatakan, mereka memiliki keluarga yang dingin, suasana yang tidak mendukung dirinya (anak) dihargai sebagai individu yang berharga.

Anak-anak yang secara terus menerus mendapatkan suasana yang tidak membuat diri mereka nyaman, dengan orang tua-orang tua yang sibuk sendiri-sendiri, menjadikan mereka anak-anak yang tidak pula peduli dengan sesamanya, lingkungannya.

Berikut doa yang dianjurkan:

1

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” [QS. Al Furqaan : 74]

Menurut ustad Muhammad Hatta, inilah doa yang mesti kita minta secara istimror (berkelanjutan, tak putus) sehingga senantiasa kita akan mendapati pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati. Beliau juga menyampaikan, doa ini adalah sebagai salah satu bentuk usaha yang wajib untuk diwujudkan. Dalam artian, mewajibkan diri untuk mewujudkan pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati, selain dengan berdoa, di dalamnya terkandung makna, diri, sebagai individu anggota keluarga akan bergerak sesuai porsinya menjadi rahmat bagi anggota keluarga yang lain, saling mengingatkan kebaikan dan ketaqwaan.

“…dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

Masih menurut ustadz Hatta, kalimat itu adalah kalimat visioner. Kalimat yang memacu diri untuk bergerak lebih dahulu dalam kebaikan, lalu menginspirasi orang-orang baik lainnya. Sebagai stimulus untuk terus berinovasi dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Sehingga dari sanalah kita akan melihat betapa ghiroh (kekuatan azzam), keras dan bulatnya tekad untuk memacu diri menjadi orang yang bertaqwa. Banyangkan saja, jika sikap ini sudah dicontohkan oleh suami kepada istri, dicontohkan ayah dan bunda kepada anak-anak. Kebaikan-kebaikan dalam jalan taqwa akan membentuk karakter anak-anak yang kuat dan nyaman, lantas di jaman kemudian mereka mandiri tanpa orang tua, mereka mampu pula menginspirasi sekitarnya untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Segala puji bagiNya pemilik semesta alam, yang bersemayam di ‘Arsy yang angung.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari kajian Ibu Kurnia Lestari, Koordinator Program Lembaga Perlindungan Anak Kota Kediri

Dan tokoh Tarbiyatul Aulad fil Islam (Parenting dalam keIslaman) Kediri, Ustadz Muhammad Hatta.

—————————-eon

Shelter7.3to15102013.1056

[review buku] Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe — Olivier Johannes Raap

Posted on

Alhamdulillah, akhirnya, saya senang sekali mendapatkan kesempaan berkunjung ke Museum Airlangga yang satu lokasi dengan goa Selomangleng. Berkali-kali diundang kawan-kawan dari berbagai komunitas saya selalu saja mendapati halangan untuk datang, kebanyakan karena sakit, hehe, alhamdulillah sakit. 😉

Hari itu, Sabtu, tanggal 22 September 2013, dengan kondisi kaki yang baru saja pulih dari trauma, Allah akhirnya mengijinkan saya berjumpa dengan kawan-kawan dari komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah Khadiri, beberapa komunitas sejarah dan budaya dari kota lain, pengrawit dan sinden dari siswa-siswi SMPN 6, dan banyak pengunjung kawasan wisata Selomangleng dari berbagai latar belakang kepentingan dan komunitas.

Tugas saya pagi itu, menjadi narasumber pe-riview, halah, padahal pekerjaan mereview dengan serius sering sekali saya abaikan, hehe.. tapi kehormatan itu saya terima dengan senang hati, dengan niatan semoga Allah menambahkan wawasan dan membuka pintu-pintu segala macam informasi yang saya butuhkan kelak dalam proses kerja dan belajar saya berikutnya.

dan beginilah review saya: ………

cover

Pertama kali yang menjadikan saya takjub saat menerima buku ini adalah tampilannya. Cover yang eksklusif dan kertas isi yang glossy menimbulkan kesan mewah dan kesan ekspensif. Hehe.. namun saya yakin, setelah membuka isinya dan membaca dengan kecintaan, buku ini sepadan dan sangat rekomended dijadikan salah satu koleksi dalam rak buku kita di rumah.

Seperti biasa, kata pengantar adalah menjadi sorotan utama saya sebelum mengubek-ubek isi buku. Pengantar yang ditulis Seno Gumirah Ajidarma, penulis favorit saya tentu saja menyedot perhatian. Memaksa saya untuk tinggal di sana agak lama agar saya tidak tersesat ketika menikmati isi sebuah buku.

Ketakjuban berikutnya, ketika membuka halaman daftar isi. Wow! Saya bilang. Ternyata Mr. Olivier membuat pemetaan yang luar biasa di luar apa yang sedang saya pikirkan. Ini kejutan. Sejarah memang bisa dibaca dari kebudayaan, tradisi dan kebiasaan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kesukaan saya pada pemandangan alam, yang lantas kemudian saya pikir, jika saja dibukukan, mungkin tidak akan menjadi sumber bacaan sejarah, galian detail tentang apa yang pernah terjadi pada nenek moyang kita jauh di tahun-tahun sebelumnya.

Buku ini yang sebenarnya sangat saya sayangkan sebab bukan saya yang menulisnya, atau kawan-kawan dari Jawa sendiri yang menulisnya membuat saya semakin ingin untuk membaca. Namun lantas, disinilah keeksotikan wacana yang diberikan buku ini. Sorotan yang berbeda akan muncul berbeda pula jika penulisnya berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Di luar itu, saya berusaha menelaah, keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh dengan hadirnya buku ini, yang pertama, menduniakan keberadaan bangsa indonesia. Ah itu kan sudah. Iya! Namun ekspos terhadap sesuatu yang secara terus menerus akan memberikan efek lebih dalam, pengenalan yang lebih pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Yang kedua, lewat penjelasan, cara Mr Olivier menyajikan gambar dan cerita yang menunjukkan bahwa memang deskripsi yang dihadirkan melalui studi panjang dan sangat serius, berdampak dengan lebih menasionalkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi di jawa.

Yang ketiga, bagi orang-orang Jawa sendiri, buku ini sepeti bisa dijadikan acuan, bacaan, dan bahan tambahan wawasan untuk lebih mengenali indentitas dirinya sebagai bagian dari sejarah. Untuk kemudian menjadi telaah maju atau sebagi sumber cerita bahwa kecintaan kepada diri pasti akan berdampak pasa pemahaman terhadap apa yang harus dikerjakan di masa berikutnya.

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

Ke empat, buku ini menjadi sumber analisis bacaan sejarah yang menyenangkan. Dengan adanya gambar, kartu pos-kartu pos yang atraktif dan eksotik, sedikit banyak memberikan atau menggugah minat untuk lebih menikmati dalam mempelajari sejarah bangsa.

Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi saya, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Nama-nama fotografer dan penerbit kartu pos-kartu pos yang teridentifikasi juga bukan kerja yang mudah. Ini pun menjadi daya tarik yang unik. Meskipun, secara personal saya berpikir pastilah masih banyak fotografer dan penerbit yang mencetak kartu pos-kartu pos ini, namun pembatasan dalam rangka memberikan gambaran latar belakang yang jelas untuk memberikan dukungan pada sebab lahirnya kartu pos, bisa dianggap cukup elegan.

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

Satu hal yang perlu dicermati dan diwaspadai dari buku ini adalah, adanya gambar yang berkesan agak vulgar. Bagi penulis Belanda ini, mungkin hal tersebut bermakna biasa dan eksotik, namun tidak dalam khasanah batasan norma bagi penduduk Jawa. Akhirnya, buku ini rekomended bagi pembaca dewasa yang bijak.

Terima kasih, kepada @blusukanPASAK (komunitas muda Pelestari Sejarah dan Budaya Khadiri) atas undangannya. ^^

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

 

 

——————————————-eon.

shelter722092013

[muhasabah] meletakkan harap

Posted on

Betapa harapan akan selalu terbentur dengan tembok raksasa, kuat dan kokoh, sulit dan kian susah ditembus diri.
Betapa harapan akan selalu menemui jalan buntu, sangat sulit bahkan melihat celah cahaya sekali pun.
Betapa harapan akan selalu menyesakkan, mendatangkan sakit di tubuh dan hati, membawa kepada putus asa hingga mengakhiri hidup adalah pilihan satu-satunya.
Betapa kesulitan akan terus bertambah-tambah, mengapa?

Sebab kami lupa, merendahkan diri.
Sebab kamu lupa, menundukkan diri.
Sebab kami lupa, di mana semestinya harap diletakkan.
Harapan bukan diletakkan di diri, diletakkan pada kekasih, suami, istri, anak, keluarga, bahkan bukan di tempat kami mencurah segala energi. Dimana semestinya?

Allahurobbi, kekasih para hamba yang shalih. Yaa Latif Yaa Nuur
Pada-Mu lah tempat harapan disandarkan, diletakkan, diserahkan, ditumpukan.
Maka cahaya akan selalu tampak.
Maka jalan yang penuh kelegaan, keluasaan, kelapangan akan selalu terbentang.
Yaa Allah Yaa Baatin Yang mengetahui segala rahasia
Yaa Fattah Yang membukakan segala pintu jalan keluar dari kesulitan
Yaa Allah Yaa Raafi’ yang mengangkat segala kesusahan
Yaa Allah Yaa Haadi yang maha memberikan petunjuk
kami letakkan harap kami padaMu, sungguh, kami yakin tak ada secuil pun harap kami yang akan sia-sia di hadapanMu.

saya bertanya tentang baksos di bulan ramadhan.

Posted on
sumber gambar: walpapapersus.com

sumber gambar: walpapapersus.com

masuk di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, saya semakin bersemangat untuk mengerjakan ibadah di rumah saja (tidak jauh dari rumah jika memang urgent). sejauh ini, alhamdulillah tidak sekali pun saya memenuhi undangan berbuka puasa di luar, persis yang seperti yang saya komitmenkan sejak memasuki ramadhan. semua kegiatan yang tidak berhubungan dengan mendekatkan diri kepada Allah dan rutinitas formal dengan ibu-ibu di instasi juga terang-terangan saya liburkan. dengan harapan, setiap ibu akan bisa lebih fokus pada men-shalihkan sekitarnya.

sekali setahun, ramadhan menjadi pitstop. titik balik bagi kita untuk berbenah nafsu, berbenah sistem tubuh, berbenah benak dan berbenah komitmen kita untuk memenuhi janji kepada Allah ‘Azza wajalla ketika ruh belum ditiupkan ke dalam tubuh, janji ketika ruh kita masih dalam kefitrahan yang mulia. yaitu, bertauhid, melakukan semua semata-mata sebab Allah Ta’ala.

saya berusaha, demikian kawan-kawan, pasti juga berusaha.

berikut percakapan saya tentang kegiatan yang rencananya (yang menurut saya) akan mengusik waktu-waktu bermesra-mesra dengan Allah Ta’ala di sepuluh hari terakhir ramadhan.

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

Dini Kaeka Sari

tanya boleh, ya, kak Arie Png Adadua? sedang galau beberapa hari ini..
di sebuah instansi saya berada di bawah koordinasi ketua, minggu depan beliau mengadakan acara dadakan untuk melakukan baksos ramadhan dengan membagi-bagikan amplop secara langsung di pinggir-pinggir jalan (yang bagi saya ini akan banyak menyia-nyiakan waktu ramadhan), tidak terkoordinir secara optimal dan tidak ada muatan syiar yang padat dan efektif.
selain itu saya berkeyakinan, lebih utama bagi muslimah untuk lebih banyak di rumah atau tempat-tempat tertutup yg syar’i lainnya.
pertanyaanya, lebih utama mana siy, bagi muslimah untuk mengadakan baksos langsung di jalan atau menyalurkannya lewat kelompok/yayasan/pondok pesantren/dsj?
mohon saran..jazakumullah khoiron katsir.

Like · · Unfollow Post · Share · July 26 at 2:46am

Seen by 14

Arie Png Adadua

Langsung ya Dini :
1. Dalil pokok : QS Al Bayyinah : 5, bahwa ibadah itu harus dipangkali dengan “ikhlash” dan “hanif” (yaitu mengikuti aturan Islam sebagaimana yang dituntunkan Kitabullah dan Sunnah Rasul saw).
2. Muslimah itu apapun alasannya adalah lebih baik di rumah, kalaupun harus keluar rumah harus ada izin suami atau setidaknya suami mengetahui, kecuali shalat jamaah di masjid, itu hak istri untuk beribadah (vertical kepada Allah).
3. Amplop yang dibagikan itu :
a. Kalau uang instansi maka tidak akan bermanfaat di sisi Allah, sebab yang mengeluarkan harus uang pribadi agar bernilai ibadah;
b. Kalau uang pribadi maka niat mengeluarkannya berupa ibadah apa :
– Kalau zakat : maka harus melalui amil zakat (yang akan membaginya kepada 8 ashnaf,.
– Kalau infak : maka harus ke lembaga/yayasan/masjid yang sifatnya untuk syiar Islam
– Kalau sedekah : maka harus mendahulukan faqir miskin dari kalangan keluarga dahulu, kalau telah selesai keluarga baru boleh pada faqir miskin sekitar (tetangga) kemudian ke masyarakat yang lebih luas
– Kalau Ukhuwah : pemberian sebagai tanda ukhuwah Islamiah (bersifat antarpribadi Muslim, bukan massal).
– Kalau ta’awun : maka berupa pinjaman kepada saudara Muslim yang akan dikembalikan.

Jadi, kalau melihat keterangan di atas maka :
1. Kalau uang instansi, maka tinggalkanlah itu. Sia-sia bagi Dini di mata Allah.
2. Kalau uang pribadi maka masuk kriteria mana bentuk pengeluaran itu. Arie yakin akan tidak tepat dari rel/aturan yang tersebut di atas. Sebab akan menjurus sedekah, namun kalau tidak didahului dengan faqir miskin keluarga maka tidak memenuhi syarat “hanif”. Akan jatuh sia-sia amplop yang dibagikan itu. Maksudnya tidak ada penilaian ibadah di sisi Allah.
3. Kesimpulan : Masih ada waktu sepekan untuk menanyakan maksud dan tujuan program ini dengan sebenarnya. Dengan begitu Dini dapat mengambil sikap, akan ikut serta atau memberi alas an secara hormat dan santun kepada ketua coordinator untuk lebih khusyuk/konsentrasi ibadah shiyam di rumah dengan keluarga.
Mungkin begitu dahulu…
Sembari mendengar kabar dari ketua coordinator.
Kita saur dulu…

July 26 at 3:13am · Unlike · 4

Dini Kaeka Sari

Baiklah, terima kasih, pencerahannya.
Mari saur..

July 26 at 3:41am via mobile · Like · 2

Netha Dienny

Maz tanya DaliLnya Maz………..

Saturday at 10:59pm · Like · 1

Sofia Aja

Arie ,,, bkn nya lebih tepat klo tanya jawab seperti ini di bawa ke Forum tanya jawab TMI2 aja bkn disini ASM ,, :)) sekedar usul ,,,, !!

Sunday at 1:11pm · Unlike · 1

Dini Kaeka Sari

Saya yg bertanya, mb Sofia. Mohon maaf jika terganggu. Saya lupa ada grup TMI. Anggap saja sekedar lewat, ya. Silahkan melanjutkan yg memang diurgensikan grup ini.
Selamat ramadhan

Sunday at 1:39pm via mobile · Like · 1

Sofia Aja

Dini ,,, bener nya g terganggu cuman di arah kan ke Forum yg lebih tepat aja Mbak ,,lam kenal salam sejahtera ,, n selamat Ramadhan juga ,, :))

Sunday at 1:42pm · Unlike · 1

Arie Png Adadua

Saudara Netha yang berbahagia…
Insya Allah dalil-dalilnya sbb :
1. Zakat
Ayat-ayat Qur-an banyak sekali merangkaikan antara perintah pendirian shalat dan penunaian zakat (aqimus shalah wa atuz zakah), a.l. QS 2 : 110.
Maksudnya di samping perintah shalat untuk pembenahan diri juga zakat untuk pembersihan harta.
Sedangkan khusus pelaksanaannya diatur di dalam QS 9 : 60, yaitu melalui badan amil zakatlah zakat kita akan tersalur kepada 8 ashnaf
2. Infak a.l. berdasarkan QS 2 : 261 dan HR Bukhari
: “Wahai anak Adam berinfaqlah, maka Aku akan memberi infaq kepadamu.”.
3. Sedekah, harus mendahulukan kaum kerabat (dzawil qurba), a.l. QS 2 : 177; QS 24 : 22
4. Ukhuwah : QS 49 : 10 dan 42 23, bahwa Muslim itu bersaudara : dan berkasih sayang dalam kekeluargaan (mawaddata fii alqurbaa)
5. Ta’awun adalah berdasar dalil a.l. QS 5 : 2 yaitu tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam taqwa (wata’aawanuu ‘alaa albirri waalttaqwaa).
Saya rasa cukup segitu dulu…
Semoga bermanfaat.

Yesterday at 1:55am · Like

tersesatwalaupundengangps1

 

Sementara itu, saya juga menerima inbox tentang hal yang berhubungan dengan pertanyaan saya di atas.

Bambang Irawan

Sekedar urun rembug tentang bagi-bagi sedekah dipinggir jalan. Kalau instansinya itu milik swasta berarti yang bersedekah adalah yang punya instansi/perusahaan tersebut, karyawan membantu. Seringkai kegiatan seperti itu dilakukan untuk dakwah dan pendidikan. Contoh pendidikan agama yang lain adalah: hewan korban itu sebetulnya satu orang setara dengan satu ekor kambing/domba, tetapi di SD biasanya dianjurkan beberapa siswa berpatungan membeli seekor kambing korban. Secara syari tentu tidak tepat disebut korban, sebab anak SD juga belum mampu, tetapi itu adalah usaha mendidik. Dalam hal karyawan membantu memberikan sedekah milik perusahaan menurut saya sangat baik untuk pendidikan dan mengingatkan. Tidak semua karyawan sadar agama dan tidak semua yang sadar agama mampu bersedekah. Kegiatan ter menurut saa baik saja untuk pendidikan dan menimbulkan kebiasaan karyawan untuk bersedekah. Mungkin bagi yang sudah terbiasa menjadi tampak kurang bermanfaat, tetapi harap diingat tidak semua kawan kita memiliki kesadaran beragama yang sama.

ghg

Bagi saya pribadi, kedua jawaban tersebut tentu sama baiknya. Dan tidak perlu kita perselisihkan. Sebab bagaimana kita beribadah adalah berdasarkan keyakinan dan niat kita, yang dikembalikan kepada Allah SWT.

Besar harapan saya, copy paste percakapan  saya ini menjadi wacana bagi kawan-kawan untuk semakin bersemangat berbagi keshalihan.

Selamat meryakan ramadhan! ^_^

 

 

 

 

 

——————————————eon

kabkdr.shelter7.080730072013

 

 

 

 

Sekilas tentang narasumber (yang saya ketahui):

  1. Arie Png Adadua : adalah salah satu penulis sastra senior sekaligus moderator grup Asal Suka Menulis dan grupTanya Jawab Mengenai Islam di Facebook.
  2. Bapak Bambang Irawan, adalah dosen senior jurusan Biologi, fakultas Sains dan Teknologi Unair, sekaligus penulis buku-buku genetika.

*sumber gambar, semuanya adalah hasil browsing internet.

KEISTIMEWAAN SHOLAT TARAWIH DI BULAN RAMADHAN

Posted on

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

 

Tahun lalu, ketika tiba di kota yang saya tinggali sekarang, saya beserta suami tentu saja sibuk membuka jalur akses ke rumah sewa kami yang baru. Mulai dari memasang tv kabel, layanan internet, jasa kurir dan pos, dan lain sebagainya.

Suatu ketika saya sekeluarga mengunjungi sebuah kantor layanan jasa, sambil menunggu di lobi untuk mengatri di panggil ke meja customer service, seperti biasa saya yang kadang suka susah duduk diam, mengacak-acak isi lobi. Dari koran-koran yang digantung di sudut, brosur-brosur layanan jasa, mengobrol dengan petugas satpam dan menelusuri mejanya. Hihihi… iya, saya ingat saya sangat aktif tak bisa diam.

Saya juga ingat, waktu itu menjelang bulan Ramadhan. Satu yang menarik saya dari meja pak satpam ini, ada booklet mini berwarna merah. Tinggal 2 (buah) saja, sepertinya memang dicetak terbatas. Setelah menanyakannya bolehkah saya ambil untuk dibawa pulang, ternyata petugas itu mengijinkan. Saya senang sekali. Sangat senang bahkan, sebab booklet itu berisi tentang keistimewaan sholat tarawih.

fgc

sumber gambar: internet

Nah! Mumpung ini juga Ramadhan, pasti pengetahuan ini akan berguna bagi kawan-kawan, sekaligus menambah semangat kita untuk melakukan sholat tarawih selama Ramadhan. Tanpa putus sampai malam terakhir.

Berikut Keistimewaan Sholat Tarawih yang diambil dari riwayat Ali bin Abi Tholib Radliyallahu’anhu:

Hari 1    : Seorang mukmin akan dikeluarkan dari dosanya seperti ia dilahirkan dari perut ibunya.

Hari 2    : Diampunkan baginya dan bagi kedua ibu bapaknya jika keduanya itu beriman.

Hari 3    : Berserulah seorang malaikat dari bawah; Arasy: mulailah olehmu dengan beramal, Allah SWT telah mengampunkan apa-apa yang terdahulu daripada dosa-dosamu

Hari 4    : Baginya pahala seperti membaca Taurat, Injil dan Furqaan

Yaitu kitab-kitab Tauhid yang murni, yang diturunkan sebelum Al Quran, bukan yang telah ditambahi dan atau dikurangi isinya seperti di jaman ini.

Hari 5    : Allah berikan kepadanya seperti pahala orang yang sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjidil Aqsha.

Yaitu masjid-masjid yang menyertai perjalanan sejarah Islam bersama Rasulullah. Masjid Madinah adalah masjid tertua di dunia, majidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam, yang kemudian oleh Rasulullah dipindahkan ke masjidil Haram pada bulan ke-17 Hijriyah.

Hari 6    : Allah berikan kepadanya pahala orang yang thawaf pada Albaitul Ma’mur dan memohonkan ampunan baginya oleh segala batu dan lumpur.

Waaah.. jelas ini untung besaaaaarr…! hehe apalagi yang belum pernah pergi berhaji dan melakukan thawaf seperti saya.

Hari 7    : Maka seolah-olah dia mengalami zaman Nabi Musa as dan menolongnya dalam melawan Fir’aun dan Haamaan.

Subhanallah….bayangkan kita di jaman itu, berjihad, ada ribuan pahala, rahmat dan keberkahan luar biasa pasti yang disediakan Allah untuk kita.

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

Hari 8    : Allah berikan kepadanya akan apa-apa yang diberikan kepada Nabiyallah Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As adalah ayah bagi seluruh umat, Nabi yang Hanif (lurus) dan begitu tunduknya kepada Allah Ta’ala. Ujian Allah yang begitu berat jika saja kita berada di posisi beliau, beliau kerjakan dengan ikhlas. Sebab beliau yakin bahwa kebesaran, kekayaan, dan kuasa Allah lah satu-satunya yang patut diimani.

Hari 9    : Maka seolah-olah ia menyembah Allah SWT seperti ibadahnya Nabi Muhammad SAW.

Subhanallah…subhanallah….

Hari 10  : Allah berikan rizki kepadanya akan kebaikan dunia dan akhirat.

Hari 11  : Keluar ia dari dunia seperti hari lahir ia dilahirkan oleh ibunya.

Maksudnya adalah, mati, meninggal dalam keadaan suci. Subhanallah, saya membayangkan surga memangil-manggil orang-orang yang mati dalam keadaan suci.

Hari 12  : Datang ia pada hari kiamat pada wajah laksana bulan di malam empat belas.

Tengah bulan adalah tanggal 13, 14 dan 15 (hitungan bulan Hijriyah). Sehingga ada puasa sunnah tengah bulan di setiap tanggal itu. Puncak sinar bulan yang paling indah. Siapakah yang tidak ingin menghadap Robb nya setelah hari kita dibangkitkan kembali, menghadap dengan wajah yang bersinar-sinar terang namun penuh kelembutan?

Hari 13  : Datang ia di hari kiamat dengan keadaan aman daripada tiap kejahatan.

Hari 14  : Datanglah para malaikat menyaksikan bahwa dia telah melakukan sholat tarawih.

Indahnyaaaa…malaikat yang datang menjadi saksi kita mengerjakan tarawih tentu tidak hanya diam, mereka pasti akan mendoakan kita, berapa banyak malaikat yang turun? Berapa banyak doa mereka akan terlantun? Dan malaikat akan menjadi saksi yang meringankan kita kelak di hari pembalasan.

Hari 15  : Para malaikat dan para pemikul-pemikul ‘Arasy dan kursi memintakan ampun untuknya.

‘Arasy tempat Allah bersemayam, kursinya dipikul oleh ribuan malaikat, jika satu malaikat saja bentangan sayapnya sepanjangn ufuk timur dan barat, sungguh kerajaan Allah lah yang paling besar. Tidak hanya malaikat pemikul ‘Arasy, kursiNya pun memintakan ampun untuk kita.

Hari 16  : Dituliskan Allah baginya kebebasan selamat dari neraka dan kebebasan untuk masuk ke dalam surga.

Subhanallah ya? Ini luar biasa menakjubkan! Siapa yang tidak bangga menjadi seorang muslim dan mukmin?

Hari 17  : Diberikan kepadanya seperti pahala Nab-Nabi.

Hari 18  : Berserulah seorang malaikat: wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah telah ridho kepadamu dan kedua ibu bapakmu.

Hari 19  : Diangkatkan oleh Allah derajatnya pada surga Firdaus.

Hari 20  : Diberikan kepadanya pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh.

Hari 21  : Allah buatkan kepadanya sebuah rumah daripada nur di dalam surga.

Hari 22  : Datang ia pada hari kiamat dalam keadaan aman dalam duka cita.

Hari 23  : Allah buatkan kepadanya sebuah kota di dalam surga.

Hari 24  : Ada baginya 24 macam doa yang mustajab.

Hari 25  : Allah angkatkan daripada adzab kubur.

Hari 26  : Allah SWT angkatkan baginya pahala 24 tahun.

Hari  27 : Ia akan dimudahkan melalui jembatan Shirotal Mustaqim secepat kilat menyambar.

Hari  28 : Allah angkatka baginya seribu derajat di dalam surga.

Hari  29 :  Allah berikan pahala seribu haji yang diterima.

Di setiap malam, terdapat keistimewaan sholat tarawih yang berbeda-beda, dan begitu menakjubkan buat saya, sehingga setiap saya menuliskan satu keistimewaan, saya bertasbih berkaca-kaca, dan hampir hendak menuliskannya di setiap akhir kalimat. Namun saya tahan agar kawan-kawan pembaca merasakan ketakjuban sendiri di dalam dada.

index

sumber gambar: internet

                Atas keterbatasan pengetahuan saya, saya mohon maaf, semoga artikel ini mampu menggugah semangat kawan-kawan pembaca untuk istiqomah. Allah benar-benar sedang mengobral hadiah, tak kalah dengan big sale yang di gelar mall-mall di seluruh dunia, saya yakin, bahkan big sale itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan big sale yang ditawarkan Allah.

Iya, saya katakan “BIG SALE” juga, sebab pasti imbalan yang diberikan Allah itu tidak Cuma-Cuma, bukan sekedar tarawih kita yang harus benar, puasa sehari kita pun pasti menentukan nilainya.

Allahu’alam Bishowab, Allah akan selalu mendengar doa-doa kita, melihat usaha-usaha kita dari yang paling kecil sekali pun.

Salam bahagia di Ramadhan mulia. ^_^

 

 

 

 

——————————–eon.

Kabkdr.shelter7.10072013

%d bloggers like this: