RSS Feed

Category Archives: curcol

[curcol] Wu Xing

Posted on
setelah ngedumel berulang kali, “aku itu gak ngerti apa yang dibahas bunda dengan orang-orang tadi, rasanya kepalaku pusing!”
.
mendengarnya ngomong begitu, aku jadi geli sendiri.
“iya, nanti kalau sudah besar, lalu mau belajar ini, nanti kamu juga akan ngerti, in syaa Allah.”
.
pagi ini, buku pelajarannya ketinggalan
turun dari kendaraan, berlari cepat-cepat ke pintu kelas, lalu balik lagi berlari kencang menujuku
.
“bunda, bukuku ketinggalan!”
“tadi sudah diperiksakan?! kalau cuma diktat, nanti nebeng teman aja. balik lagi ke sini kan jauh, rin.”
“aduh, tapi bukunya harus dikumpulkan hari ini. tolong ya, jam 9 bunda balik ke sini lagi bawakan bukuku.” bicaranya cepat-cepat sambil ngos-ngosan
“bunda, jawab, cepetan…?!”
“iyalah, nanti bunda pikirkan.cepat masuk kelas. sudah terlambat tuh!”
“bukumu di sebelah mana?”
“di atas meja belajar!” teriaknya sambil berlari kembali menuju pintu kelasnya, cepat-cepat.
.
sampai rumah. memeriksa mejanya dan buka-buka bukunya.
kontan aku tertawa. yang awalnya dia mengeluh pusing mendengarnya, ternyata dia mencatat! hihihihi…
amazing!
maasyaa Allah. mirip sama aslinya kok hihihi…..
WhatsApp Image 2017-06-13 at 09.31.37

coretan Karin

Hasil gambar untuk titik akupuntur cin yung su cing he

teori Wu Xing . sumber gambar : adikupuntur(dot)blogspot

Advertisements

[curcol] terompet tahun baru

Posted on

Semalam, lepas isya’ Karin pamit untuk tidur lebih dulu. aku mengiyakan tanpa mengantarnya tidur seperti biasa, sibuk menginstal software yang dibutuhkan leptopku yang baru saja jebol beberapa hari lalu, hehe
tanpa menoleh, aku mendengar Karin menutup pintu kamarnya. tentu saja membuatku berasumsi, ia tidur di kamarnya sendiri, bukan di kamarku, seperti malam-malam lainnya ketika abi-nya harus menginap di kantor.

pukul 21:00 kira-kira, petasan pertama meledak kencang di depan rumah. Yaa Salaam, spontan beristigfar lalu lari ke kamar Karin, mengeceknya apakah ia terbangun dengan gelisah dan terkejut, kepanikan bertambah, saat pintu kamar yang terbuka itu tidak menyodorkan sosok Karin di atas tempat tidurnya. Yaa Allah, anak ini dimanaaa?
cepat-cepat saja kucari di bawah, di samping kasur, di sudut kamar, tempat biasanya dia membuat tempat tidurnya sendiri seolah kemping! hihihi

hasilnya? none!

lari deh, aku ke kamarku. bersyukur dia ternyata tidur pulas di sana dengan menyalakan kipas angin mini warna kuning hadiah pamannya/amminya(adik bungsuku). bersyukur ia nyenyak tak terganggu bunyi petasan. 🙂
pagi ini, ia bangun seperti biasa, lebih segar dari kemarin, melompat dari tempat tidur, meminta ijin memakai laptopku dan mencium pipiku lamaaaaaaaa sekali sampai kami berdua sama-sama kehabisan nafas dan tergelak bersama. ciuman itu kami namakan ciuman tempel! hihihi
sebab selain menciumnya nempel lama banget, pasti salah satu dari kami akan berkata “aduh! aduh! nempel nih! gak bisa lepas!” hihihi

beberapa saat memakai laptop, teman-temannya bersepeda di luar rumah sambil meniup terompet mereka. dan Karin lari ke jendela, sembari kutegur,
“Karin, jangan usil, biarin ah. lagian malu auratmu kelihatan!”
“gak, cuma mau ngomong dikit sama temen-temenku dari sini.”
“mas! dimas! gak usah tiup-tiup terompet! berisiiiikkk taauuukk! gak bisa niup terompet aja gitu, huu….!”
*tepok jidaaaddhh* haduuuh …
si Karin pasti berpikir, niup terompet tahun baru harus berirama seperti meniup terompet alat musik. yaelaaahh…
*ngikik sendiri* :p ;))

dan teman-temannya pun semakin kencang meniup terompet, sementara Karin sudah mencari baju mainnya untuk lari keluar. halaaah..halaaaah… padahal belum mandi 😦 😦

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

[curcol] mengenang Banyuwangi

bismillahirrahmanirrahimm…

Dari Abu Sa'id Al Khudri ra, Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat akan diberikan cahaya baginya di antara dua Juamat." (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahishkan oleh Syaikh Al Albani)

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat akan diberikan cahaya baginya di antara dua Juamat.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahishkan oleh Syaikh Al Albani)

Sebelum mengetahui hadist sahih tentang sunnah Rasulullah yang layak dikerjakan di malam Jumat (mulai hari Kamis ba’da Ashar sampai hari Jumat habis), yaitu membaca surat Al Kahfi, aku pernah menangis kali pertama ketika menyadari, surat yang kubaca lepas magrib waktu awal-awal sampai di kotaku yang baru ini, adalah surat Al Kahfi. Tepat di tengah surat, ada selipan selembar kertas, yang ketika di Banyuwangi kubiasakan menyelipkannya di antara halaman-halaman Qur’an. Menulisi kertas itu dengan ayat terakhir yang kubaca bersama teman-teman ibu-ibu masjid Ahmad Dahlan.

LAST (READ)! 27/5/2012 QS. Al Kahfi : 44

290920131769

Awalnya tidak begitu paham, namun setelah kubolak-balik selembar kertas notes itu, tiba-tiba hatiku disergap perasaan rindu. bu Yeni yang selalu duduk di sebelah kananku, karena selalu datang paling awal, bu Yuka yang selalu di sebelah kiriku, bu Endah, bu Narti, bu Susi, bu Darul, mbak Enfi, bu Tyas, bu Hasnah, bu Yuyun, dan yang lain yang kadang bisa hadir kadang tidak. Iya, aku rindu duduk di antara mereka di dalam masjid dengan bangku-bangku kayu, tawa yang renyah, obrolan-obrolan yang selalu positif membuatku merasa kuat. yang terakhir bergabung, bu Tatik yang akhirnya pindah mengikuti suaminya juga, ibu lucu yang selalu membuatku grogi ketika tiba giliranku tilawah. beliau pasti duduk mendempet di dekatku, katanya ingin bisa membaca sepertiku, padahal, bagiku, bacaan tilawahnya sangat eksotik. kekentalan cengkok Osing-nya membuatku menganga dalam paduan bacaannya.

Jauh setelah kurenungkan sekali lagi, sergapan rasa rindu itu kupikir juga sebab adanya Ustadz Abdallah yang santun, yang lemah lembut, yang ringan tegurannya tapi sangat menampar, ustadz yang membimbingku dan ibu-ibu waktu itu.

Sampai hari ini, sejak mengetahui hadist tentang pembacaan surat Al Kahfi di malam jumat, aku tetap menyelipkan selembar kertas notes itu tepat di surat Al Kahfi, dengan harapan, bacaanku kelak bisa memulyakan Ustadz Abdallah dan kawan-kawanku kala itu. Mengenangnya dalam doa-doa yang khusyuk.

Sekarang, ketika malam Jumat tiba dan Al Kahfi menjadi bacaanku, rinduku semakin sarat, sedalam hati kehilangan Ustadz kami, ayah dan kakek kami tercinta bapak Abdallah memang telah berpulang.

Allahummagh firlahuu, warhamhu, wa’aafiihi wa’fuanhu.

Yaa Allah, ampunilah segala dosa beliau, kasihanilah dia, dan hapuskanlah kesalahan-kesalahannya. aamiin.

Sesampainya di kota ini, kenangan dan taman surga yang kudapati di banyuwangi kala itu, tak rela kubiarkan hilang, dan Allahurobbul’alamin selangkah demi selangkah membimbing kakiku mempertemukan satu per satu taman-taman surga di kota ini.

Kedatanganku di kota ini membawa keinginan, bertemu ustadz yang mampu mentransfer ilmu seperti beliau. pelajaran tajwid, kisah-kisah teladan sahabat nabi, menulis arab, memperbaiki muamallah melalui fiqih, hadist-hadist, paket paling komplit. namun, bertemu orang yang sama tentulah bukan sesuatu yang mudah.

Setahun sudah perjalananku di kota ini, yang jika setiap malam hari Senin aku mengenangkan masa di Banyuwangi, selalu menjadi waktu kritis mengerjakan tugas menulis bahasa arab. Sambil sesekali berkirim sms ke bu Yeni atau bu Yuka yang isinya, betapa aku rindu mengerjakan tugas menulis arab di malam hari senin. Setahun ini pula, akhirnya aku dipertemukan dengan ustadz yang memberikan pelajaran menulis arab. Alhamdulillah, malam Senin ini, sambil mengenang malam senin banyuwangi, aku menulis kembali huruf-huruf Qur’an.

tehnik berbeda, tapi tetep juga untuk memperbaiki tulisan hijaiyahku hehe

tehnik berbeda, tapi tetep juga untuk memperbaiki tulisan hijaiyahku hehe

290920131768

tehnik menulis di Banyuwangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meski tidak bisa bertemu dengan ustadz yang sepaket seperti almarhum ustadz Abdallah, aku tetap bersyukur, menjadi lebih banyak majelis, taman-taman surga yang bisa kuhadiri, dengan kajian khususnya masing-masing. lelah harus ke sana ke mari itu tiada apa-apanya, aku yakin, malaikat-malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya bagi mereka yang berjalan menuju majelis-majelis ilmu. 🙂

Semoga rahmat Allah untuk teman-teman di Banyuwangi yang masih gigih menegakkan risalah, semoga Allah menghadiahkan sebesar-besar ampunan dan menjadikan kita semakin tawadu’. aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

—————————eon.

shelter721030929

[curcol] Namaku, Jono.

Posted on

images (7)

dulu, ketika keluarga besar kami berkumpul. ibu mertuaku bercerita tentang si Alin, saudara sepupu Karin, keponakanku dari adik suami.

“papa, aku gak mau jadi besar!” begitu katanya suatu ketika pada papanya.

“lho, kenapa? anak-anak nanti pasti jadi tambah besar.”

“soalnya aku gak mau wajahku berubah jadi jelek seperti papa.”

kontan semua yang mendengar ibu bercerita waktu itu tertawa. kabarnya, Alin berkata begitu setelah dia melihat-lihat album foto masa kecil papanya. besar kemungkinan, kemudian dia membandingkan dan menganalisa perbedaan yang dilihatnya dari foto papanya ketika masih kecil dan saat ini.

lalu keputusan untuk tidak menjadi besar itulah yang diambilnya kemudian.

singkat cerita. Karin berada di sana ketika ibu, eyang putrinya itu bercerita. tentu dia belum paham benar maksud dari perbincangan kami saat itu, namun dia ikut tersenyum waktu kuamati.

jauh sejak kejadian itu, sebuah pertanyaan yang selalu diulang-ulangnya adalah;

“kalau aku besar nanti, namaku diganti apa, Bunda?”

“hah? kenapa ganti? nama Karin akan tetap Karin sampai bunda jadi tua, nanti.”

“tapi wajahku nanti kan berubah? aku harus ganti nama!”

begitu terus percakapan kami. dan berbagai alasan rasional selalu kuajukan padanya, supaya dia menerima dengan baik, bahwa tidak ada yang perlu diubah dari nama, sampai kapan pun.

“kalau Karin ganti nama waktu SD, teman-teman Karin yang TK pasti bingung nanti carinya. kalau Karin ganti nama lagi waktu SMP, teman TK dan SD Karin pasti juga bingung lagi jika ingin ketemu dan main lagi sama Karin. semakin banyak orang yang bingung dong nanti.”

dia mesti terdiam saat jawaban-jawabanku meluncur.

tapi dia tak kapok! hahaha

kali lain pertanyaannya akan samaaa lagii, lagiii, lagiiii dan lagiiiiii…!

woolalaaaa….! :p

akhirnya kuganti siasat.

“bunda, kalau besar nanti namaku ganti apa? kan wajahku berubah. apa namaku?”

“memang Karin pengen ganti nama apa?”

“gak tau!”

aku terkikik, dia terdiam. begitu berkali-kali.

sampai kemudian

“bunda, aku mau ganti nama. dan sekarang aku tahu nanti jika besar namaku jadi apa?”

“apa?”

“namaku JONO SARI JONO!”

wuahahahhaaa…! tepok jidah berjamaah yuk!

lalu, ketika adikku menelepon, Karin pun bercerita namanya akan berubah jadi itu. lantas, adikku (tantenya Karin) dan keponakanku memanggilnya “KAKAK JONO” :)))

siang ini, dia bilang boneka beruang yang diberinya nama Bear juga punya nama baru.

“nah! jadi siapa nama Bear sekarang?”

“TIKA SARIA BEA BEAR! itu namanya sekarang. sudah panjang sekarang. tinggal namaku yang kurang dipanjangin lagi.”

“nama yang mana? Jono Sari Jono?”

“iya. nama itu kurang panjang. nanti kutambahi, sekarang masih mikir.”

jiaaaaahhh!!!!dangsaaaarr anak-anak! :))

^_^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

—————————eon

kabkdr210320131347

%d bloggers like this: