RSS Feed

Category Archives: cerpen

Damaiku, kupu-kupu…

Posted on

Hasil gambar untuk white butterflies

Pagi yang indah di pekarangan belakang rumah. Segar udara sehabis hujan dan mentari yang masih enggan dan malu-malu bertandang. Semburat kuning keemasan yang hangat. Sebentar lagi pasti kita saksikan pelangi mencipta dirinya melengkung dibalik rerimbunan semak perdu yang diam-diam menyimpan embun. Lalu, setiap embun itu pasti akan pecah juga menjadi pelangi kecil-kecil untuk mata kita yang jeli-jeli berjongkok mengintip menyapa dengan senyum. Embun yang membutir di pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring.

Pagi yang merdu, dengan cericip burung-burung perdu. Nyanyian prenjak dan celoteh bondol. Kepak-kepak sayap burung gereja dan dengkur kipasan yang melompat-lompat diantara dahan. Derik tenggerek dan lengking cipoh yang menyayat merdu, melahirkan rasa rindu geli yang ajaib, jauh di puncak-puncak pohon tinggi. Lalu apalagi? Ah… suara gemericik air di sungai kecil yang ada diantara kejauhan perdu-perdu ini, masuk diantara pekarangan belakang dan tepian hutan.

Pagi yang damai dengan kakiku yang telanjang membelai tanah basah, jalanan yang becek selepas guyur hujan semalam. Membuatku melupakan segala penatku, masalahku antara uang dan waktu, antara ambisi dan nafsu, antara cita-cita dan mimpi, juga antara kita yang selalu berjauh-jauhan dan bertengkar.

Tidak! Kulupakan saja itu semua sekarang. Sebelum segar udara pagi ini menguap dan mentari semakin kejam menyengat. Kaki telanjangku dingin, menikmati lembut lempung tanah berair. Betapa nyaman. Menyaksikan daun-daun kecil mengangguk-angguk. Hendak membelaikukah? Ah…aku begitu damai dan terbitlah senyumku yang tulus.

Lalu ketika aku melaju mengayun kaki semakin jauh menuju tepian hutan. Aku mendapati segerombol kupu-kupu putih cantik hinggap di bebatuan di tengah jalan. Sedang apakah mereka? Berkerumun pada batu-batu kecil disekitar kubangan air keruh. Hati damaiku melonjak, berjingkrak serta merta ingin menjelma kupu-kupu. Berkumpul bersama kawan-kawan dan keluarga, sahabat-sahabat dan kekasih. Bersama tertawa, terkikik, berdendang membicarakan kubangan keruh dan batu dingin tempat aku hinggap bersama mereka.

Kupu-kupu kecil putih yang jernih, betapa membuat kuning keemasan warna udara menjadi lebih terang namun tak menyilaukan. Betapa aku ingin bersama mereka. Maka, segera aku berlari. Berlari menuju batu tempat mereka hinggap. Jalan licin yang becek ini membuat kakiku selip, dan aku terpeleset jatuh berdebam.
”Tuhan…!” teriakku, entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Lalu, kulihat kerumunan kupu-kupu itu berhamburan. Jatuh debamku beresonansi, menggetarkan udara, mengalirkan energi besar mengusik dingin udara, menggemparkan kerumunan kupu-kupu putih mungil yang tak jauh dari mataku. Mereka terbang menjauh.

”Tunggu aku..!” pekikku, sekali lagi entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Aku bangkit, berdiri, berlumpur. ”Tunggu aku…”

Mereka mendengarkah? Atau tak peduli lagi dengan gelombang udara yang tiba-tiba berubah? Sekarang mereka hinggap lagi. Tenang. Berkerumun. Begitu indah gemerlap tertimpa cahaya mentari keemasan mengurai pelangi baru lagi.

Berkerumun di tempat yang sama ketika pertama kali aku melihat mereka. Sekarang aku tak berlari, kakiku nyeri. Namun, aku mengendap, mengangkat kaki perlahan yang seharusnya kuseret sebab sakit. Semoga kupu-kupu itu tak hirau hadirku mendekat.

Tepat ketika sampai di dekat mereka, aku melompat diantara batu-batu kecil tempat mereka hinggap dan kubangan-kubangan keruh.
”Horeee…!!!” teriakku lantang dari mulutku sekarang. Aku tahu. Dan mereka, kupu-kupu putih kecil itu semburat, menghambur terbang berkeliling diantara tinggi rendah tubuhku. Mereka tak pergi, tapi di sekitarku. Putih mungil. Kecil-kecil.

Aku menari berputar-putar. Melompat ke kanan kiri menghentaki bumi becek di bawahku. Aku bahagia. Aku damai. Menjadi kupu-kupu. Terus, aku menari. Terus. Terus. Terus. Hingga mentari meninggi, embun-embun singkap dari pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring. Hingga pelangi pudar kikis dan kicau burung-burung perdu merendah lalu satu-persatu kupu-kupu putih mungil itu terbang menjauh.
Aku lelah dan aku rindu.

Nightingale just sing you a song
10012010.1534

Advertisements

[cerita] Si Karin Jadi Bolang

Posted on
hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

hari ini aku jadi si Bolang, begitu katanya. ;))

seperti siang biasanya, selepas Karin pulang sekolah, di rumah dia pasti akan menyibukkan dirinya dengan mainan dan berbagai variasi. sedang aku, seperti ibu rumah tangga lainnya yang tak memiliki asisten rumah, tentu saja berkutat dengan pekerjaan rumah dan membaca-baca literatur untuk bahan menulis.

secara kontinyu, meski aktivitas kami berdua berbeda, kontak personal masih juga kujaga dengannya. menengoknya sedang bermain di bagian rumah yang mana, melihat mainannya, atau sekedar berbicara dari tempatku duduk, bertanya “Karin di mana?” atau “Karin sedang apa?” sambil tanganku bekerja.

siang kemarin, jenuh dari tempatku duduk, aku bangkit, berjalan menuju ruang mainan Karin di sebelah. kosong. dan pintu samping yang langsung menuju pintu pagar terbuka lebar. sedangkan beberapa saat yang lalu kututup rapat sebab khawatir debu dari rumah tetangga yang sedang direnovasi tepat di seberang rumah, masuk.

“Karin di mana?” tanyaku sambil celingukan.

tak ada sebuah jawaban pun. melihat pintu samping terbuka, aku langsung bergegas keluar. dan ternyata, kudapati karin sudah nongkrong dengan asyiknya di atas pagar!

hiyaaaaa…..!

lalu sambil cengar-cengir, dia bergegas turun, berlari ke arahku.

“Ada apa, Bunda?”

“Kamu ngapain di situ? neropongin pak tukang?”

dia tertawa tergelak sambil malu-malu. di lehernya memang tergantung teropong kecil mainan yang di belinya dengan harga seribu rupiah. dulu, waktu masih di banyuwangi.

tentu saja aku tertawa kegelian. dasar anak-anak! ;))

“Bunda bantu aku menabung ya, supaya aku bisa membeli teropong yang mahal, teropong untuk bisa melihat bintang.” begitu katanya kemudian.

“Hmm! Kita nabung terus tak perlu jajan jika begitu.”

“Okey!” kemudian dia berlari lagi keluar, meneropong kembali pekerjaan pak tukang. hihihii..

—————eon.

kabkdr140320132348

[cerita pagi] ketupat

Posted on

penjor

“wih, bunda! ada ketupat!” begitu teriak karin ketika pagi tadi kubonceng dia berangkat sekolah.

di depan perumahan, memang sedang dipasang penjor. hiasan dari janur atau daun kelapa yang masih muda untuk menandai ada orang yang sedang memiliki hajat di dekat-dekat penjor dipasang.

mendengar teriakan karin yang spontan, tentu saja aku tergelak. masa ketupat diberdirikan di pinggir jalan begitu. hihihi…

ya, seperti setiap pagi lainnya, aku selalu menikmati waktu ketika mengantar karin berangkat sekolah. setiap pagi dia akan melontarkan pertanyaan tentang apa saja yang ada dalam jangkauan pengamatannya sepanjang jalan. dan waktu itulah aku merasa sangat nyaman untuk memulai bercerita.

di sinilah kekuatan cerita yang aku yakin akan dikenangnya sepanjang hidupnya. seperti ketika kecil, ketika dibonceng ayah pergi ke mana saja, lalu aku meminta berhenti karena melihat sesuatu yang tak biasa kujumpai, ayahku akan selalu senantia dengan senang hati memutar kembali laju motornya dan berhenti di mana sebuah objek yang kutanyakan sebelumnya berada. lalu ayah akan bercerita dan aku membawa ceritanya seumur hidupku. ^_^

cerita tidak sekedar kita membacakan dongeng dari buku-buku, atau mengulang cerita-cerita rakyat yang telah turun temurun diulang dari mulut ke mulut. tapi cerita adalah tentang apa saja. semakin rasional dan masuk akal cerita kita, semakin kita terikat semakin dekat dengan anak-anak dan dengan benar memberikan mereka pengetahuan yang bisa jadi luar biasa membantu mereka berpikir dan membuat kesimpulan-kesimpulan yang benar dan baik.

“itu bukan ketupat, kariiinn…!” ;))

“itu penjor dan keduanya sama-sama dibuat dari daun kelapa yang masih muda, janur namanya.”

“janur juga biasa dibuat bungkus kue yang biasa titi (eyang putri) buat, misalnya lepet.”
“daun kelapa yang sudah tua dinamakan blarak, dan blarak tidak biasa dipakai daunnya, kecuali tulang daunnya yang diambil untuk dijadikan penebah (sapu pembersih tempat tidur/ kebyok) atau dibuat sebagai sapu lidi yang biasa bunda pakai untuk membersihkan halaman itu lho.”

“kenapa yang tua tidak dipakai?” tanya karin.

“blarak sudah tidak lentur lagi dilipat-lipat, dilengkung-lengkungkan untuk bikin hiasan.”

“oooh…iya, yang masih muda itu masih lembuuut.” begitu katanya menutup pembicaraan.

dan lagi-lagi aku tergelak.

setiap pagi, sepanjang perjalanan menuju sekolah adalah waktu yang sangat menyenangkan bagiku, demikian bagi karin juga. pengetahuan baru pasti membuatnya lebih percaya diri ketika bergaul dengan teman-temannya. dan memang, dia anak yang sangat percaya diri dan adaptif.

Maha Suci Allah, yang selalu mengirimkan kenyamanan dalam kehidupan kita. aamiin.

jadi? siapa yang mau makan ketupat yang dipajang di pinggir jalan itu? hihihii…

kamu ya? ngaku ajalah! 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

———-eon.

kdr090105032012

 

[prosa] mengantarmu menghilang..

Posted on

aku duduk di atas gundukan bukit di antara gerumbulan semak longgar yang lapang. memandang langit yang berubah temaram, perlahan. air, seperti dihamburkan. turun cepatcepat bersama angin dalam derainya, halus….

lagilagi matahari seperti beringsut. enggan terus berada di dekatku, di dekatku…..

aku duduk di atas gundukan bukit di antara gerumbulan semak longgar yang lapang. memandang langit yang berubah temaram, perlahan. seperti tangisku yang dihamburkan. turun cepat-cepat mengejar angin, mencoba mengiringnya rapat, hingga menyatu berpuntir. lalu bersama angin memegangi matahari senja agar tak bernar-benar lelah, merosot, menghilang ke balik cakrawala digantikan rindu yang merajalela. ah!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

…………………………………….eon.
kdr13to2801131918

[cerpenpen] Catatan Harian Kapten

Posted on
nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

Perjalanan bintang di tahun cahaya ke empat. Aku terbangun masih di dalam kamar pesawat antariksaku. Kesehatanku, kurasakan membaik. Sementara tak ada seorangpun di kapal ini bisa kumintai pertolongan, kalian tahu tentunya bahwa di jaman ini, semua dikerjakan dari satu pusat kendali, aku, di bawah sana, robot-robotlah yang bergerak.

Namaku, kapten Nightingale, dan aku sedang perada di pesawat antariksa yang kami beri nama Haliaeetus leucogaster. Kami, iya, kami, pesawat ini milik kami berdua, aku dan kapten Blue Wishtle-trush. Kami sedang dalam misi mencari planet yang penuh gunung dan lembah, planet yang penuh bukit-bukit hijau yang ketika matahari ruyup di timur, ranting-ranting pohon, lingir-lingir daun-daun berkilauan sangat cemerlang. Planet yang bersamudra dengan debur ombak yang terdengar terus bernada sama namun tidak. Misi berat yang rupanya membuat iri banyak golongan di planet kami. Maka berjarak tahun cahaya ketiga dari planet kami, Haliaeetus leucogaster diserang saat transit di dermaga satelit Nebula. Sebuah black hole jadi-jadian dari acakan energy gelombang electromagnet berhasil menyedot sebagian satelit Nebula, separuh badan pesawat dan kapten Blue Wishtle-thrush, patner, kawan seperjalanan, sahabat galaksi dan sang kekasih bintang. Reaksi reflex satelit Nebula yang kemudian melepaskan tembakan proton ke arah sumber acakan energi  gelombang electromagnet itulah yang menyelamatkanku dan anjungan sekunder pada bagian pesawat kami. Aku tak bisa menyelamatkan bagian pesawatku yang lain, tidak pula menyelamatkan kapten Blue Wishtle-thrush. Sejak itu, aku tak punya alasan melanjutkan misi dengan pesawat yang cacat kecuali kembali ke planet kami, dan kesehatankupun menurun seiring perjalanan cahaya kembali menuju rumah.

Aku bergegas turun dari tabung peraduanku. Menuju anjungan dan mengecek sampai sejauh mana robot-robot pesawat antariksaku bergerak mendekati pusat planet tujuan terdekat perjalananku ini. Aku berjalan kaki cepat-cepat.

Pintu anjungan mengayun terbuka dengan halus begitu aku sampai di depannya. Tiga langkah setelah pintu, di sebelah kanan, terdesain sebuah cabinet laminar air flow yang menempel dan menyatu dengan badan pesawat, kecuali permukaan interaksinya yang berpenutup kaca sampai enam per delapan ruangan cabinet. Aku menurunkan tiga atau empat biji-bijian ke dalam glass plate yang ada di dalam cabinet dengan menekan sebuah tombol, kemudian merangkai beberapa tombol lagi dengan berbagai kode untuk mengubah partikel-partikel dalam biji-bijian itu menjadi makanan yang dibutuhkan tubuhku. Tidak rumit. Sebab seperti itulah memang kehidupan dalam pesawat antariksa manapun.

Cabinet laminar air flow bekerja seperti tidak dalam kecepatan biasanya, ataukah aku yang masih belum stabil benar. Tiba-tiba tubuhku merosot ke bawah, ke lantai anjungan pesawat yang begitu luas dengan berbagai mesin kendalinya dan belum kusentuh semua. Pesawat ini masih luas meski telah kehilangan sebagian tubuhnya dan hanya aku makhluk hidup yang berdiam di dalamnya, maka demi bintang-bintang yang gemerlap di saat fajar, aku memaksa diriku bangkit dan berdiri. Namun tubuhku terlalu berat..

“Sea Hawk, transformasi kapten ke pusat kendali!” perintahku pada robot pentransform.

Tubuhku tersentak sedetik, lalu merasakan sensasi menggelitik panjang yang membuat mual dan pusing saat kali pertama dulu aku bertransformasi, berpindah tempat. Rasa yang lebih pekat dari kekuatan gravitasi yang pernah kurasakan di planet kami. Menyesakkan dan berat. Tapi setelahnya terbayar dengan kelegaan luar biasa, setelah aku berada di tempat tujuan, di kursi anjungan.

Kuhirup sejenak udara, yah! Beginilah rasanya mensyukuri udara.

Aku tak lagi memperdulikan makanan yang sudah terbentuk di dalam cabinet laminar, aku seperti tak punya banyak lagi waktu. Dengan tone suara yang kubuat stabil seperti saat kesehatanku belum terganggu, aku kembali mengatur kecepatan pesawat, memperhitungan kecepatannya sampai di pusat planet tujuan terdekat. Mengecek seberapa jauh lagi jarak tempuhnya dan menghitung semua persediaan hydrogen pendorong pesawat. Satu lagi yang mesti kuperhitungkan, aku memerlukan energi yang lebih besar untuk membuat pesawatku berada di luar jangkauan radar pesawat antariksa manapun. Kondisiku sedang tidak cukup baik menerima kunjungan ramah tamah bahkan serangan invasi sekalipun.

Tenagaku terkuras habis setelahnya. Tubuhku semakin merosot ke lantai.

“Pusat bintang Iliera, ribuan tahun cahaya akan kutempuh, walau nyawaku tebusannya, tidak ada tempat paling membahagiakan di alam semesta ini kecuali tempat kekuatanku dan kekasihku di lahirkan,” bisikku.

“Sea Hawk, tranformasi kapten ke tabung peraduan!”

Sedetik kemudian tubuhku merasakan sensasi kembali dan telah terbaring di tabung peraduan detik berikutnya. Kaca tabung mengayun tertutup begitu tubuhku telah rapi berada di piringan tabungnya. Seiring kaca tabung merapat, merapat pula lah mataku, pejam.[]***

———————eon

Kdr1059301212

terinspirasi dari patahan-patahan gambar film startrex yang masih mengendap di kepala, dan novel-novel fantasi Ursula K.  Le Guin dan ketakjubanku pada antariksa. selamat berlibur bagi yang merayakan! hehe ^_^

[cerita] Sambal Pertama Karin

Posted on

Karin yang sedang serius menguleg sambal pertamanya. ;))

Hari minggu yang lalu, seperti biasa Abi-nya Karin mendapatkan tugas keluar kota. Sepi dong rumah, lebih lagi ga bisa jalan-jalan atau sekedar keliling kota sebab aku sendiri kebetulan sedang tidak memiliki jadwal kegiatan di luar rumah.

Maka, supaya tetap bisa terkena sinar matahari yang hangat, menghirup udara yang segar, sebab hari minggu adalah hari jalan-jalan di kota menjadi lengang, sepi dari kendaraan, aku berencana mengajak Karin ke pasar. Membeli bumbu dan sayuran, juga lauk untuk stok beberapa hari ke depan. Padatnya kegiatan yang kupunya setiap hari memang tidak memungkinkan untuk bisa jalan-jalan ke pasar setiap pagi.

Siang hari sebelumnya, setelah pulang sekolah, Karin memang agak gaya. Berlagak dewasa dengan aksi mencocolkan kerupuk di sambal yang ada di piringku. Katanya “Nih, kubuktikan, aku sudah jago makan sambalkan, bunda.”

Aku tergelak saja. Lalu malam harinya, ketika kuajukan rencana jalan-jalan menemaniku ke pasar, dia langsung menyetujui. “Aku mau beli cabe, pokoknya!” begitulah dia berseru lantang penuh semangat. Dia ingin membuat sambalnya sendiri. Kupikir, ya mengapa tidak memberinya kesempatan bersenang-senang di pasar dengan membeli cabe lalu menyaksikannya membuat sambal.

Berbekal cerita dari ibu mertua dahulu, Abi-nya Karin waktu kecil sudah pernah dibikinkan sambal yang isinya hanya tomat dan terasi. Hihihi… nah! Apakah sambal Karin nanti isinya juga itu?

Esok paginya, sesuai janjinya, Karin tidak bangun dengan malas-malasan. Dia bersemangat untuk menemaniku ke pasar. Segera setelah mandi dan rumahku bersih aku mengajaknya ke luar menuju pasar yang tidak jauh dari rumah menggunakan motor. Di tengah perjalan aku bertanya lagi. “Karin pengen dimasakkan apa sama bunda? Soto? Rawon? Atau apa?”

Tapi dengan ceriwis dan bawelnya dia masih juga menjawab dengan jawaban yang sama dengan semalam. “Iiiih bunda ini, aku kan mau beli cabe, aku mau masak sambal saja dengan tempe goreng!”

“Woo..oke! oke! Nanti kita beli cabe dan tempe saja kalau begitu,” gelakku mengalah.

Sesampainya di pasar, tentu saja aku tak langsung membeli cabe, masih ke sana ke mari membeli berbagai macam bahan. Tapi Karin terus saja ingin buru-buru, menarik-tarikku dan merengek-rengek meminta untuk membeli cabe setiap kali melewati penjual cabe. Hihihi…

Aku terus memintanya bersabar tentu saja. Cabe dan bumbu akan kubeli paling terakhir.

Setelah semua terbeli, akhirnya sampai juga kami ke pedagang cabe. Biasanya aku membeli ‘cabe campur’ yang isinya cabe rawit, cabe merah dan tomat sekaligus dalam satu bungkus, satu hitungan harga. Lebih menghemat.

“Lombok campur, bu, tigang ewu kemawon,” ucapku pada penjual cabe. Sayangnya karena ramai, penjualnya tak begitu jelas mendengarku. Maka dia bertanya lagi.

“Lombok ingkang menopo, mbak?”

“Bunda! Yang kecil-kecil itu sajalaah…” sahut Karin cepat sambil menarik-tarik bajuku.

“Iya..iya..” sahutku, sambil tersenyum mengkode si ibu penjual cabe. Kami berdua tertawa sama-sama kegelian tentu saja.

Tidak jadi dapat cabe campur dong akhirnya. Hihihi.. tak mengapa, sebab kemudian aku meminta untuk dibungkuskan cabe merah dan tomatnya juga.

Sesampai di rumah, setelah semua bahan kucuci bersih, menunggu tiris untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Kembali Karin merengek, menagih janji padaku untuk diijinkan menguleg sambalnya sendiri.

Okelah. Sebagi orang tua, harus tepat janji dong, memberikan contoh, bahwa kita mesti bertanggung jawab atas apa yang sudah pernah kita utarakan kepada orang lain. Kelak, dia pasti memahami bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab. Simplekan apa yang orang tua kerjakan? 😉

“Sudah ambil layahnya* sekalian ulegnya,” pintaku pada Karin.

Dengan semangat disiapkannya cobek dan ulegnya. Kusiapkan sedikit garam dan gula di atasnya kemudian.

“Oke, Karin mau bikin sambal pakai cabe yang besar atau yang kecil?”

“Yang kecil!”

“Mau berapa banyak?”

“Emmm….empat saja!”

“Mau pakai tomat?”

“He em! Mau!”

“Ya sudah ambil satu tomat juga sana.”

“Sudah siap semua ini, bunda. Terus?”

“Terus ya tinggal diuleng.”

Kemudian dengan antusiasnya dia menguleg sambal pertamanya.

“Uleg cabenya dulu, setelah halus semua, baru Karin uleg tomatnya, oke?”

“Iya!” jawabnya mantab. Hihihi…

Aku senang sekali dengan antusias belajarnya. Dan lagi-lagi tugas kita sebagai orang tua adalah memberinya kepercayaan penuh, kesempatan optimal untuk mengeksplorasi hal baru, agar anak-anak belajar, mendapatkan pengalaman, ilmu yang kelak tidak hanya tentang bagaimana menguleg sambal, namun juga menjadi percaya diri atas dirinya sendiri yang lantas kemudian akan membuatnya mengerti bagaimana berbagi, menghargai orang lain, mengapresiasi kemampuannya dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Begitulah yang terpikir olehku. Atau bahkan mungkin masih banyak lagi yang bisa kita kupas satu persatu dari itu. Kawan-kawan bahkan lebih tahu. 🙂

Selamat mengispirasi, mari berbagi. 🙂

——-eon.

Kabupaten Kediri, 27102012.2155

[surat] Salam Ceria untuk Semua Pecinta Anak di Indonesia

Posted on

dok. pribadi: seorang ibu yang berusaha membacakan buku cerita untuk anakknya di dekat mobil perpustakaan keliling (banyuwangi, maret 2012)

sudah membaca surat Takita ini  kan, kak? nah, ini surat balasan saya untuk Takita.

Salam ceria untuk semua pecinta anak di Indonesia,

Hallo Takita, saya Kak Dini. Sebuah nama lucu yang saya ketahui artinya kemudian dari sebuah cerita yang diberikan ayah ibu saya ketika kecil. Begitu indah dan masih tergambar jelas wajah bahagia ayah ibu saya ketika itu. Bahkan suara gelakan tawa kami sekeluargapun masih juga terdengar jelas di dalam benak saya.

Membalas suratmu, Takita, Kak Dini pun ingin sekali berbagi. Melekatkan suara gelak tawa dan wajah bahagia di benak anak-anak di seluruh Indonesia. Pekerjaan yang menyenangkan dan selalu membuat Kak Dini bahagia. meski tidak bisa melihat semua anak-anak di Indonesia secara langsung, namun kebahagian itu jelas terasa seperti ketika Kak Dini bisa melihat dan mendengar langsung suara gelak tawa mereka dengan mata yang berbinar-binar menggelandot manja dan memeluk ayah ibu mereka.

Kak Dini juga seorang ibu, Takita. Maka bercerita dan berbagi tawa dengan anak-anak akan selalu membuat Kak Dini merasa bisa membagikan sesuatu. Meski bukan selalu permen yang manis, makanan yang enak, baju-baju indah yang mahal, namun Kak Dini percaya, dengan Kak Dini terus bercerita bersama Takita untuk anak-anak Indonesia, Kak Dini sedang menyematkan sebuah lidi. Sebuah lidi yang kelak akan teranyam menjadi sebuah perahu, sebuah kapal, sebuah rumah, sebuah pesawat terbang, atau bahkan mungkin sebuah dunia, dimana anak-anak Indonesia akan memiliki dirinya dengan kebebasan imajinasi penuh untuk menyebarkan kebaikan dan kekuatan. Sebuah dunia dimana anak-anak Indonesia akan memiliki banyak jalan, kritis mengenali tantangan dan memberikan pemecahan-pemecahan masalah untuk dunia saat mereka dewasa kelak.

Anak-anak akan selalu riuh di dalam kepala kita, menghidupkan hati kita dan memberikan penghiburan yang indah bukan, Takita? Maka, seramai itu anak-anak di antara kita, Kak Dini juga memiliki pengharapan yang sama seperti Takita. Menghidupkan rumah-rumah yang hangat dengan cerita, menghidupkan komunitas, kelompok, sekolah, dan ataupun lembaga yang begitu terbuka memberikan kemewahan cerita untuk anak-anak. Bangsa kita bisa bersatu untuk berperang melawan penjajahan, bersatu untuk menentang keburukan tawuran, traffic king, korupsi, bahkan bersatu untuk mendukung sebuah grup musik tanah air yang memberikan kesenangan bagi kita. Maka Kak Dini sangat optimis, bahwa bangsa kita, orang-orang tua dimana saja, guru-guru, aktivis-aktivis kelompok, siapapun akan tersentuh hatinya dan lalu bersatu, bersama Takita, menjadikan bangsa kita menjadi bangsa pencerita, membekali anak-anak Indonesia dengan ilmu, wawasan, pengetahuan yang menjadikan anak-anak Indonesia menjadi manusia kuat dan bertanggung jawab kelak. Menjadikan bangsa kita bangsa yang besar seperti yang selalu kita tuntut dan impikan dari siapapun yang memimpin negara kita.

Mari Kak Dini gandeng tangan Takita di sebelah, dan sebelah lagi tangan Kak Dini akan terbuka, bagi siapa saja yang akan bersama kita, mendidik, membebaskan dan membahagiakan anak-anak Indonesia melalui cerita.

Salam hangat yang penuh semangat selalu untuk semua 🙂 🙂

Dini Kaeka Sugito

Ibunda perinya Karin di rumah, penulis, pendongeng, kontributor @IDcerita, koordinator @IDceritaBWI

baca juga ya kak surat Takita di sini, balas suratnya juga yuk! 😉

——–eon.

Kabupaten Kediri, 2226.28092012

%d bloggers like this: