RSS Feed

Category Archives: budaya

[curcol] Wu Xing

Posted on
setelah ngedumel berulang kali, “aku itu gak ngerti apa yang dibahas bunda dengan orang-orang tadi, rasanya kepalaku pusing!”
.
mendengarnya ngomong begitu, aku jadi geli sendiri.
“iya, nanti kalau sudah besar, lalu mau belajar ini, nanti kamu juga akan ngerti, in syaa Allah.”
.
pagi ini, buku pelajarannya ketinggalan
turun dari kendaraan, berlari cepat-cepat ke pintu kelas, lalu balik lagi berlari kencang menujuku
.
“bunda, bukuku ketinggalan!”
“tadi sudah diperiksakan?! kalau cuma diktat, nanti nebeng teman aja. balik lagi ke sini kan jauh, rin.”
“aduh, tapi bukunya harus dikumpulkan hari ini. tolong ya, jam 9 bunda balik ke sini lagi bawakan bukuku.” bicaranya cepat-cepat sambil ngos-ngosan
“bunda, jawab, cepetan…?!”
“iyalah, nanti bunda pikirkan.cepat masuk kelas. sudah terlambat tuh!”
“bukumu di sebelah mana?”
“di atas meja belajar!” teriaknya sambil berlari kembali menuju pintu kelasnya, cepat-cepat.
.
sampai rumah. memeriksa mejanya dan buka-buka bukunya.
kontan aku tertawa. yang awalnya dia mengeluh pusing mendengarnya, ternyata dia mencatat! hihihihi…
amazing!
maasyaa Allah. mirip sama aslinya kok hihihi…..
WhatsApp Image 2017-06-13 at 09.31.37

coretan Karin

Hasil gambar untuk titik akupuntur cin yung su cing he

teori Wu Xing . sumber gambar : adikupuntur(dot)blogspot

Advertisements

Tidak Ada yang Bisa Mencegah Bencana kecuali Allah

Posted on

10409277_775789575806791_8271651169512422954_n

Dari Abdullah bin Abbas Ra., beliau berkata, “Pernah saya berada di belakang Nabi Saw., lalu beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu; dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR Tirmizi, Hasan Sahih)

Demikian itu menjelaskan firman Allah,
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al An’aam : 17)

Allah Swt., menegaskan kembali kekuasaanNya, tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudharatan yang ditimpakan Allah kepada seseorang, kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan, dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia, baik lahir maupun batin. Maka, bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun, atau pelindung lainnya selain Allah yang acapkali dipandang oleh orang musyrik yang dapat menghilangkan kemudharatan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan, baik lahir maupun batin.

Allah berkuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendakiNya.

Nabi Muhammad Saw., setiap habis shalat lima waktu membaca doa, “Yaa Allah, tak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi yang Engkau cegah, dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendakMu.” (HR Bukhari)

Ayat ini (Al An’aam : 17) menunjukkan pula bahwa setiap manusia, baik yang menginginkan kebaikan maupun yang menghindari kemudharatan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah Swt., semata dengan cara berusaha mengikuti sunnahNya yang berlaku di alam ini dengan berdoa sepenuhnya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al An’aam : 18)

Sumber:
Penjelasan ayat Al-An’aam :17 dari Al Qur’anulkariim spesial for muslimah, seri Bilqis Cordoba.
Tafsir oleh Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, jilid 7-8, 1998:157.

Semoga manfaat.

———————————-eon.

27 Ramadhan 1435 H, Shelter 8

Ditulis ulang oleh Dini Kaeka Sarii.

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

[review buku] Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe — Olivier Johannes Raap

Posted on

Alhamdulillah, akhirnya, saya senang sekali mendapatkan kesempaan berkunjung ke Museum Airlangga yang satu lokasi dengan goa Selomangleng. Berkali-kali diundang kawan-kawan dari berbagai komunitas saya selalu saja mendapati halangan untuk datang, kebanyakan karena sakit, hehe, alhamdulillah sakit. 😉

Hari itu, Sabtu, tanggal 22 September 2013, dengan kondisi kaki yang baru saja pulih dari trauma, Allah akhirnya mengijinkan saya berjumpa dengan kawan-kawan dari komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah Khadiri, beberapa komunitas sejarah dan budaya dari kota lain, pengrawit dan sinden dari siswa-siswi SMPN 6, dan banyak pengunjung kawasan wisata Selomangleng dari berbagai latar belakang kepentingan dan komunitas.

Tugas saya pagi itu, menjadi narasumber pe-riview, halah, padahal pekerjaan mereview dengan serius sering sekali saya abaikan, hehe.. tapi kehormatan itu saya terima dengan senang hati, dengan niatan semoga Allah menambahkan wawasan dan membuka pintu-pintu segala macam informasi yang saya butuhkan kelak dalam proses kerja dan belajar saya berikutnya.

dan beginilah review saya: ………

cover

Pertama kali yang menjadikan saya takjub saat menerima buku ini adalah tampilannya. Cover yang eksklusif dan kertas isi yang glossy menimbulkan kesan mewah dan kesan ekspensif. Hehe.. namun saya yakin, setelah membuka isinya dan membaca dengan kecintaan, buku ini sepadan dan sangat rekomended dijadikan salah satu koleksi dalam rak buku kita di rumah.

Seperti biasa, kata pengantar adalah menjadi sorotan utama saya sebelum mengubek-ubek isi buku. Pengantar yang ditulis Seno Gumirah Ajidarma, penulis favorit saya tentu saja menyedot perhatian. Memaksa saya untuk tinggal di sana agak lama agar saya tidak tersesat ketika menikmati isi sebuah buku.

Ketakjuban berikutnya, ketika membuka halaman daftar isi. Wow! Saya bilang. Ternyata Mr. Olivier membuat pemetaan yang luar biasa di luar apa yang sedang saya pikirkan. Ini kejutan. Sejarah memang bisa dibaca dari kebudayaan, tradisi dan kebiasaan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kesukaan saya pada pemandangan alam, yang lantas kemudian saya pikir, jika saja dibukukan, mungkin tidak akan menjadi sumber bacaan sejarah, galian detail tentang apa yang pernah terjadi pada nenek moyang kita jauh di tahun-tahun sebelumnya.

Buku ini yang sebenarnya sangat saya sayangkan sebab bukan saya yang menulisnya, atau kawan-kawan dari Jawa sendiri yang menulisnya membuat saya semakin ingin untuk membaca. Namun lantas, disinilah keeksotikan wacana yang diberikan buku ini. Sorotan yang berbeda akan muncul berbeda pula jika penulisnya berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Di luar itu, saya berusaha menelaah, keuntungan dan manfaat yang bisa kita peroleh dengan hadirnya buku ini, yang pertama, menduniakan keberadaan bangsa indonesia. Ah itu kan sudah. Iya! Namun ekspos terhadap sesuatu yang secara terus menerus akan memberikan efek lebih dalam, pengenalan yang lebih pada bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Yang kedua, lewat penjelasan, cara Mr Olivier menyajikan gambar dan cerita yang menunjukkan bahwa memang deskripsi yang dihadirkan melalui studi panjang dan sangat serius, berdampak dengan lebih menasionalkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi di jawa.

Yang ketiga, bagi orang-orang Jawa sendiri, buku ini sepeti bisa dijadikan acuan, bacaan, dan bahan tambahan wawasan untuk lebih mengenali indentitas dirinya sebagai bagian dari sejarah. Untuk kemudian menjadi telaah maju atau sebagi sumber cerita bahwa kecintaan kepada diri pasti akan berdampak pasa pemahaman terhadap apa yang harus dikerjakan di masa berikutnya.

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe

Ke empat, buku ini menjadi sumber analisis bacaan sejarah yang menyenangkan. Dengan adanya gambar, kartu pos-kartu pos yang atraktif dan eksotik, sedikit banyak memberikan atau menggugah minat untuk lebih menikmati dalam mempelajari sejarah bangsa.

Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi saya, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Nama-nama fotografer dan penerbit kartu pos-kartu pos yang teridentifikasi juga bukan kerja yang mudah. Ini pun menjadi daya tarik yang unik. Meskipun, secara personal saya berpikir pastilah masih banyak fotografer dan penerbit yang mencetak kartu pos-kartu pos ini, namun pembatasan dalam rangka memberikan gambaran latar belakang yang jelas untuk memberikan dukungan pada sebab lahirnya kartu pos, bisa dianggap cukup elegan.

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

sok ngobrol seriuuus dengan Mr. Olivier (doc. panitia)

Satu hal yang perlu dicermati dan diwaspadai dari buku ini adalah, adanya gambar yang berkesan agak vulgar. Bagi penulis Belanda ini, mungkin hal tersebut bermakna biasa dan eksotik, namun tidak dalam khasanah batasan norma bagi penduduk Jawa. Akhirnya, buku ini rekomended bagi pembaca dewasa yang bijak.

Terima kasih, kepada @blusukanPASAK (komunitas muda Pelestari Sejarah dan Budaya Khadiri) atas undangannya. ^^

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

selepas acara bedah buku: kawan-kawan @blusukanPASAK

 

 

——————————————-eon.

shelter722092013

%d bloggers like this: