RSS Feed

Category Archives: buah

Tidak Ada yang Bisa Mencegah Bencana kecuali Allah

Posted on

10409277_775789575806791_8271651169512422954_n

Dari Abdullah bin Abbas Ra., beliau berkata, “Pernah saya berada di belakang Nabi Saw., lalu beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu; dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR Tirmizi, Hasan Sahih)

Demikian itu menjelaskan firman Allah,
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al An’aam : 17)

Allah Swt., menegaskan kembali kekuasaanNya, tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudharatan yang ditimpakan Allah kepada seseorang, kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan, dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia, baik lahir maupun batin. Maka, bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun, atau pelindung lainnya selain Allah yang acapkali dipandang oleh orang musyrik yang dapat menghilangkan kemudharatan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan, baik lahir maupun batin.

Allah berkuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendakiNya.

Nabi Muhammad Saw., setiap habis shalat lima waktu membaca doa, “Yaa Allah, tak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi yang Engkau cegah, dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendakMu.” (HR Bukhari)

Ayat ini (Al An’aam : 17) menunjukkan pula bahwa setiap manusia, baik yang menginginkan kebaikan maupun yang menghindari kemudharatan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah Swt., semata dengan cara berusaha mengikuti sunnahNya yang berlaku di alam ini dengan berdoa sepenuhnya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al An’aam : 18)

Sumber:
Penjelasan ayat Al-An’aam :17 dari Al Qur’anulkariim spesial for muslimah, seri Bilqis Cordoba.
Tafsir oleh Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, jilid 7-8, 1998:157.

Semoga manfaat.

———————————-eon.

27 Ramadhan 1435 H, Shelter 8

Ditulis ulang oleh Dini Kaeka Sarii.

Advertisements

saya bertanya tentang baksos di bulan ramadhan.

Posted on
sumber gambar: walpapapersus.com

sumber gambar: walpapapersus.com

masuk di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, saya semakin bersemangat untuk mengerjakan ibadah di rumah saja (tidak jauh dari rumah jika memang urgent). sejauh ini, alhamdulillah tidak sekali pun saya memenuhi undangan berbuka puasa di luar, persis yang seperti yang saya komitmenkan sejak memasuki ramadhan. semua kegiatan yang tidak berhubungan dengan mendekatkan diri kepada Allah dan rutinitas formal dengan ibu-ibu di instasi juga terang-terangan saya liburkan. dengan harapan, setiap ibu akan bisa lebih fokus pada men-shalihkan sekitarnya.

sekali setahun, ramadhan menjadi pitstop. titik balik bagi kita untuk berbenah nafsu, berbenah sistem tubuh, berbenah benak dan berbenah komitmen kita untuk memenuhi janji kepada Allah ‘Azza wajalla ketika ruh belum ditiupkan ke dalam tubuh, janji ketika ruh kita masih dalam kefitrahan yang mulia. yaitu, bertauhid, melakukan semua semata-mata sebab Allah Ta’ala.

saya berusaha, demikian kawan-kawan, pasti juga berusaha.

berikut percakapan saya tentang kegiatan yang rencananya (yang menurut saya) akan mengusik waktu-waktu bermesra-mesra dengan Allah Ta’ala di sepuluh hari terakhir ramadhan.

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

Dini Kaeka Sari

tanya boleh, ya, kak Arie Png Adadua? sedang galau beberapa hari ini..
di sebuah instansi saya berada di bawah koordinasi ketua, minggu depan beliau mengadakan acara dadakan untuk melakukan baksos ramadhan dengan membagi-bagikan amplop secara langsung di pinggir-pinggir jalan (yang bagi saya ini akan banyak menyia-nyiakan waktu ramadhan), tidak terkoordinir secara optimal dan tidak ada muatan syiar yang padat dan efektif.
selain itu saya berkeyakinan, lebih utama bagi muslimah untuk lebih banyak di rumah atau tempat-tempat tertutup yg syar’i lainnya.
pertanyaanya, lebih utama mana siy, bagi muslimah untuk mengadakan baksos langsung di jalan atau menyalurkannya lewat kelompok/yayasan/pondok pesantren/dsj?
mohon saran..jazakumullah khoiron katsir.

Like · · Unfollow Post · Share · July 26 at 2:46am

Seen by 14

Arie Png Adadua

Langsung ya Dini :
1. Dalil pokok : QS Al Bayyinah : 5, bahwa ibadah itu harus dipangkali dengan “ikhlash” dan “hanif” (yaitu mengikuti aturan Islam sebagaimana yang dituntunkan Kitabullah dan Sunnah Rasul saw).
2. Muslimah itu apapun alasannya adalah lebih baik di rumah, kalaupun harus keluar rumah harus ada izin suami atau setidaknya suami mengetahui, kecuali shalat jamaah di masjid, itu hak istri untuk beribadah (vertical kepada Allah).
3. Amplop yang dibagikan itu :
a. Kalau uang instansi maka tidak akan bermanfaat di sisi Allah, sebab yang mengeluarkan harus uang pribadi agar bernilai ibadah;
b. Kalau uang pribadi maka niat mengeluarkannya berupa ibadah apa :
– Kalau zakat : maka harus melalui amil zakat (yang akan membaginya kepada 8 ashnaf,.
– Kalau infak : maka harus ke lembaga/yayasan/masjid yang sifatnya untuk syiar Islam
– Kalau sedekah : maka harus mendahulukan faqir miskin dari kalangan keluarga dahulu, kalau telah selesai keluarga baru boleh pada faqir miskin sekitar (tetangga) kemudian ke masyarakat yang lebih luas
– Kalau Ukhuwah : pemberian sebagai tanda ukhuwah Islamiah (bersifat antarpribadi Muslim, bukan massal).
– Kalau ta’awun : maka berupa pinjaman kepada saudara Muslim yang akan dikembalikan.

Jadi, kalau melihat keterangan di atas maka :
1. Kalau uang instansi, maka tinggalkanlah itu. Sia-sia bagi Dini di mata Allah.
2. Kalau uang pribadi maka masuk kriteria mana bentuk pengeluaran itu. Arie yakin akan tidak tepat dari rel/aturan yang tersebut di atas. Sebab akan menjurus sedekah, namun kalau tidak didahului dengan faqir miskin keluarga maka tidak memenuhi syarat “hanif”. Akan jatuh sia-sia amplop yang dibagikan itu. Maksudnya tidak ada penilaian ibadah di sisi Allah.
3. Kesimpulan : Masih ada waktu sepekan untuk menanyakan maksud dan tujuan program ini dengan sebenarnya. Dengan begitu Dini dapat mengambil sikap, akan ikut serta atau memberi alas an secara hormat dan santun kepada ketua coordinator untuk lebih khusyuk/konsentrasi ibadah shiyam di rumah dengan keluarga.
Mungkin begitu dahulu…
Sembari mendengar kabar dari ketua coordinator.
Kita saur dulu…

July 26 at 3:13am · Unlike · 4

Dini Kaeka Sari

Baiklah, terima kasih, pencerahannya.
Mari saur..

July 26 at 3:41am via mobile · Like · 2

Netha Dienny

Maz tanya DaliLnya Maz………..

Saturday at 10:59pm · Like · 1

Sofia Aja

Arie ,,, bkn nya lebih tepat klo tanya jawab seperti ini di bawa ke Forum tanya jawab TMI2 aja bkn disini ASM ,, :)) sekedar usul ,,,, !!

Sunday at 1:11pm · Unlike · 1

Dini Kaeka Sari

Saya yg bertanya, mb Sofia. Mohon maaf jika terganggu. Saya lupa ada grup TMI. Anggap saja sekedar lewat, ya. Silahkan melanjutkan yg memang diurgensikan grup ini.
Selamat ramadhan

Sunday at 1:39pm via mobile · Like · 1

Sofia Aja

Dini ,,, bener nya g terganggu cuman di arah kan ke Forum yg lebih tepat aja Mbak ,,lam kenal salam sejahtera ,, n selamat Ramadhan juga ,, :))

Sunday at 1:42pm · Unlike · 1

Arie Png Adadua

Saudara Netha yang berbahagia…
Insya Allah dalil-dalilnya sbb :
1. Zakat
Ayat-ayat Qur-an banyak sekali merangkaikan antara perintah pendirian shalat dan penunaian zakat (aqimus shalah wa atuz zakah), a.l. QS 2 : 110.
Maksudnya di samping perintah shalat untuk pembenahan diri juga zakat untuk pembersihan harta.
Sedangkan khusus pelaksanaannya diatur di dalam QS 9 : 60, yaitu melalui badan amil zakatlah zakat kita akan tersalur kepada 8 ashnaf
2. Infak a.l. berdasarkan QS 2 : 261 dan HR Bukhari
: “Wahai anak Adam berinfaqlah, maka Aku akan memberi infaq kepadamu.”.
3. Sedekah, harus mendahulukan kaum kerabat (dzawil qurba), a.l. QS 2 : 177; QS 24 : 22
4. Ukhuwah : QS 49 : 10 dan 42 23, bahwa Muslim itu bersaudara : dan berkasih sayang dalam kekeluargaan (mawaddata fii alqurbaa)
5. Ta’awun adalah berdasar dalil a.l. QS 5 : 2 yaitu tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam taqwa (wata’aawanuu ‘alaa albirri waalttaqwaa).
Saya rasa cukup segitu dulu…
Semoga bermanfaat.

Yesterday at 1:55am · Like

tersesatwalaupundengangps1

 

Sementara itu, saya juga menerima inbox tentang hal yang berhubungan dengan pertanyaan saya di atas.

Bambang Irawan

Sekedar urun rembug tentang bagi-bagi sedekah dipinggir jalan. Kalau instansinya itu milik swasta berarti yang bersedekah adalah yang punya instansi/perusahaan tersebut, karyawan membantu. Seringkai kegiatan seperti itu dilakukan untuk dakwah dan pendidikan. Contoh pendidikan agama yang lain adalah: hewan korban itu sebetulnya satu orang setara dengan satu ekor kambing/domba, tetapi di SD biasanya dianjurkan beberapa siswa berpatungan membeli seekor kambing korban. Secara syari tentu tidak tepat disebut korban, sebab anak SD juga belum mampu, tetapi itu adalah usaha mendidik. Dalam hal karyawan membantu memberikan sedekah milik perusahaan menurut saya sangat baik untuk pendidikan dan mengingatkan. Tidak semua karyawan sadar agama dan tidak semua yang sadar agama mampu bersedekah. Kegiatan ter menurut saa baik saja untuk pendidikan dan menimbulkan kebiasaan karyawan untuk bersedekah. Mungkin bagi yang sudah terbiasa menjadi tampak kurang bermanfaat, tetapi harap diingat tidak semua kawan kita memiliki kesadaran beragama yang sama.

ghg

Bagi saya pribadi, kedua jawaban tersebut tentu sama baiknya. Dan tidak perlu kita perselisihkan. Sebab bagaimana kita beribadah adalah berdasarkan keyakinan dan niat kita, yang dikembalikan kepada Allah SWT.

Besar harapan saya, copy paste percakapan  saya ini menjadi wacana bagi kawan-kawan untuk semakin bersemangat berbagi keshalihan.

Selamat meryakan ramadhan! ^_^

 

 

 

 

 

——————————————eon

kabkdr.shelter7.080730072013

 

 

 

 

Sekilas tentang narasumber (yang saya ketahui):

  1. Arie Png Adadua : adalah salah satu penulis sastra senior sekaligus moderator grup Asal Suka Menulis dan grupTanya Jawab Mengenai Islam di Facebook.
  2. Bapak Bambang Irawan, adalah dosen senior jurusan Biologi, fakultas Sains dan Teknologi Unair, sekaligus penulis buku-buku genetika.

*sumber gambar, semuanya adalah hasil browsing internet.

[cerita] kentang goreng dari bu guru

Posted on

Seperti hari sabtu biasanya, Karin akan selalu bercerita tentang makanan yang dibagikan ibu gurunya di sekolah. Kira-kira seperti ada jadwal makan bersama setiap hari sabtu. Kadang menunya nasi soto, atau lontong sate, atau nasi sop, kadang juga sebungkus kue bahkan sebiji buah-buahan.
Dalam perjalanan pulang menjemputnya sekolah waktu itu, aku bertanya,

“Tadi, makan barengnya gimana? Seru?”
“Eh, Bunda, tadi aku dikasih kentang lho sama bu guru,” jawabnya antusias.
“Oh kentang rebus ya?” sambil bayangin, pasti tak dimakannya sebab Karin memang tak suka jenis makanan rebus.
“Bukan, kentang goreng!”
“Wah! Asyik dong, berarti habis tadi kentangnya.”
“Nggak kumakan tapi, tadi.”
“Lho? Kenapa? Karin kan suka kentang goreng?”
“Gak tahu.”
Begitu kemudian perbincangan berakhir dan berganti topik.

 

Sesampainya di rumah, seperti biasa, aku mengosongkan tasnya. Mengambil botol minum kosong yang harus dicuci, memeriksa tugas sekolah, dan membersihkan tasnya.
Barulah kemudian kutemukan sebiji buah yang menggelinding begitu saja di dasar tasnya.
Kotan aku tertawa cekikikan. Lalu dengan elegan mendekati Karin yang ada di ruang tengah sambil bertanya,
“Jadi, ini kentang goreng yang dimaksud Karin?”
“Iya.”
Hahahahhaahhaa! (ketawa ngakaknya di sini aja) hihiihii :p lhaa yang dia maksud kentang goreng itu ternyata sawo kok. ;))
Wajah Karin siy polos-polos aja, hihiihii :d

sawo (Manilkara zapota), taken from the internet

sawo (Manilkara zapota), taken from the internet

“Emm..ini siy bukan kentang, nak, ini sawo. Besok bunda ajak jalan-jalan ke pasar ya, kita lihat bedanya kentang dan sawo di sana.”
“Yes!” serunya nyaring.
Selesai berberes, lagi-lagi aku bertanya ke Karin,
“Jadi, kenapa Karin mengira itu kentang yang digoreng? Karena warna kulit sawo cokelat?”
Dia mengangguk dan aku kegelian. Hihihiii
Jadi, kalau ada benda yang berwarna cokelat, itu pasti hasil dari digoreng! Hihihii
Misalnya sepatu berwarna cokelat, itu juga digoreng! 😀 😛

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

————————eon.

kabkdr160420131642

%d bloggers like this: