RSS Feed

[cerita] kesalahan prosesing dalam memasak apa bikin makanan tetap enak?

Posted on

Seperti melakukan banyak hal lain, memasakpun kadang-kadang kita dihadapkan pada kesalahan dalam tahapan memasak. Melompati sebuah tahap proses pengolahannya ataupun meninggalkan satu atau dua jenis bumbu sebab lupa, tidak tersedianya bahan, terburu-buru karena waktu yang sempit atau harus menyelesaikan pekerjaan lain, dan sebagainya, dan sebagainya (banyak sebab yang sekarang, saat menulis ini, lupa tidak terpikirkan hihihi :p )

Baiklah, sekarang aku mau bercerita tentang kesalahan proses bikin bandeng pindangan, olahan khas yang banyak dan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional Sidoarjo.

Hari Selasa, adalah ‘hari ke pasar’ bagiku. Bukan sabtu ataupun minggu, itu ‘hari kumpul keluarga’ Mengapa hari selasa? Ya, sebab hanya hari selasa aktivitas pagiku kosong hehe sok gaya dan sok sibuk ya? Bukaaaan…tapi terjadwal. Begitulah!🙂 Sebagai ibu rumah tanggapun, semua detail aktivitas juga harus terjadwal, seperti mereka yang bekerja di kantoran. Keren kan? hehe Ya harus keren. bukankah setiap orang memiliki ke-keren-annya sendiri-sendiri?😉

“Rin, hari ini bunda waktunya ke pasar, mau dibikinkan masakan apa nanti pulang sekolah?” tanyaku ke Karin saat mengantarnya berangkat sekolah.

“Ikan! aku mau ikan, bunda!” serunya semangat sekali seperti biasa.

Di kota yang jauh dari laut dan sumber pendapatan penduduknya bukan petani atau nelayan, tapi mayoritas pekerja pabrik rokok hehe otomatis aku pasrah dengan ikan jenis apa yang akan kudapatkan di pasar nanti. Yang tergambar dibenakku saat itu, ikan mujaer. Ikan budidaya air tawar yang rasanya mirip ikan nila atau gurami dan harganya relatif lebih murah dari kedua jenis ikan itu. selain itu, ikan mujaer tidak terlalu banyak duri seperti jenis bandeng atau bader. Tentunya akan menyusahkan jika Karin harus memakannya sendiri tanpa bantuanku.

Segera setelah mengantar Karin sampai di sekolah, aku bergegas ke pasar. pasar kecamatan tidak terlalu besar yang posisinya ada di antara sekolah Karin dan rumah adalah tempat yang paling mudah dijangkau, meski sayangnya memiliki jam tayang yang pendek. hehe sinetron kalee.. ya begitulah, pasar pasti sudah hampir kosong ketika aku datang di sekitar jam 9 (sembilan) pagi.

Supaya kebagian ikan, tentu saja aku harus lebih pagi dari itu bukan?

Pukul 7 (tujuh) pagi lewat sedikit. Bergegas saja aku ke stand penjual ikan di bagian belakang pasar. yah! kecewa ternyata aku kehabisan. tinggal udang dan bandeng saja di meja si penjual. Setelah menanyakan harga, aku pamit pergi tak jadi membeli. hihihi… bukan curang, tapi seperti itulah transaksi akan ditentukan. Agak jauh dari stand pertama ada stand ikan kedua yang sayangnya hanya menjual ikan lele, dan aku sama sekali tidak berminat untuk mengolah ikan ini. Maka kulewati saja stand ikan kedua. Lebih ke belakang lagi, ada stand penjual ikan ketiga. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Lagi-lagi, sepagi itu aku sudah telat.

“Kantun niki, pak, ulamipun?” (tinggal ini, pak, ikannya?) tanyaku.

“Nggih, mbak, kantun bandeng, ulam lautipun sampun telas.” (iya, mbak, tinggal bandeng, ikan lautnya sudah habis.)

Kutanyakan hargannya. Ternyata lebih murah dari harga perkilo di stand pertama. bahkan berselisih jauh. keputusan membeli ikan bandeng-pun kubuat. apa daya meski tidak sama dengan angan-angan untuk memasak ikan mujaer, aku harus tetap membeli ikan demi memenuhi tawaranku pada Karin. tidak lucu jika aku membatalkan tawaranku sendiri bukan?

Kota ini bukan tempatnya ikan bandeng dibudidaya seperti di Sidoarjo atau Gresik, maka mendapatkan bandeng dengan ukuran panjang 20-25 cm adalah hal yang harus benar-benar kumaklumi meski sangat tak suka. Di Gresik, aku biasa mendapati bandeng berukuran paling tidak 40cm untuk diolah menjadi berbagai jenis masakan, demikian juga di Sidoarjo. bandeng berukuran kecil seperti yang kujumpai di kota ini biasanya dipresto lalu dipepes atau sekedar digoreng saja setelah dipresto, karena berukuran terlalu kecil. dipresto adalah syarat agar lebih mudah saat memakannya nanti. Duri-durinya yang banyak menjadi lunak dan aman untuk dimakan tanpa rasa was-was tersedak duri.

Nah! sebab sudah memutuskan membeli bandeng dan tidak memiliki alat presto (melas nih) hihihi maka langkah awal pengolahan adalah membuatnya menjadi ikan pindangan. Bandeng adalah jenis ikan yang mudah sekali busuk, atau biasa dikatakan ‘banger’ menjadi lunak (gembuk) dan tentu saja tidak layak konsumsi, jika tidak segera diolah.

“Dibetheti, mbak?” (dibersihkan, mbak?) tanya penjualnya.

Dalam kasus ikan, membersihkan berarti membuang sisiknya, selain membuang isi perut dan insangnya. Aku segera mengiyakan. Sebab membersihkannya sendiri di rumah berarti memuat polusi udara di dalam rumah. Hihihi.. bau amis ikan bandeng lebih kuat dari jenis ikan lain. setelah itu, aku berkeliling sebentar membeli beberapa jenis bumbu dan sayur, juga bahan-bahan lain.

Sesampai di rumah, segera kucuci semua bahan. Termasuk ikan bandeng dan membuat bumbu kuningnya untuk menghilangkan bau amis. Garam, bawang putih, ketumbar, kunyit dan jahe. Kugerus sekaligus dan membalurkannya ke setiap ekor ikan bandeng. Hendak kupindang.

Di sinilah baru kusadari aku salah merunut tahapan pembuatan pindang bandeng. huhuhu..bingung deh! Bagaimana tidak, mestinya ikan bandeng tadi tak perlu disisik, cukup dibuang isi perut dan insangnya. Sebab dengan dibuang sisiknya, ikan bandeng akan mudah hancur saat proses pemindangan. Meski masih ada yang lebih gampang hancur lagi saat dimasak, yaitu ikan lemuru yang biasa kita jumpai di kaleng sanden. Ikan itu pasti masih bersisik.

Setelah dibumbu kunir, bagian perut ikan bandeng mesti disumpal gulungan daun jeruk dan daun salam (ini versi memasakku), beda dengan ikan bandeng pindangan di pasar-pasar tradisional di Sidoarjo, perut ikan pasti diisi gulungan daun pisang. Untuk apa disumpal begitu? Ya, supaya dalam proses pemindangan ikan tidak melengkung, tetap lurus dan kuat seperti ketika masih belum diproses.

ikan bandeng atau Chanos chanos di tahap awal proses pemasakan (doc. pribadi)

ikan bandeng atau Chanos chanos di tahap awal proses pemasakan (doc. pribadi)

Hampir mewek sudah sebab masalah sisik itu. huhu…ikanku pasti hancur! apalagi aku lupa membeli cukup daun jeruk dan daun salam. Jadinya, kubiarkan saja isi perut ikannya kosong. Kesalahan kedua dalam proses! yak! kumplit sodaraaa!  ;))

Mikir dong. Bagaimana agar ikan-ikan bandeng mungil ini tetap aman dari kehancuran! hihihihi..

Nah! ini triknya: memasaknya dengan api kecil dan tidak terlalu lama. Aahayyy!😀

Baik dengan sisik atau tanpa sisik, setelah proses pemindangan (direbus atau dikukus) ikan harus dipindahkan dengan hari-hati. Ikan yang matang mudah sekali hancur bukan?🙂

Setelah dibumbui kuning tadi, ikan dipindang (pemindangan) kali ini kupilih dengan merebusnya. Sebab kukusan masih mengantri. Sedang kugunakan mengukus tahu sebelum proses memasaknya menjadi tahu bacem.🙂

ikan bandeng setelah melalui pemindangan dan tahu yang siap dibacem juga sayuran yang selalu wajib ada di kulkas :D (doc. pribadi)

ikan bandeng setelah melalui pemindangan dan tahu yang siap dibacem juga sayuran yang selalu wajib ada di kulkas😀 (doc. pribadi)

10-15 menit atau sampai terlihat ikan setengah matang saja. Tunggu hingga air rebusan mendingin baru ikan ditiriskan. Setelah itu, ikan bisa disimpan di dalam fresher dalam jangka waktu yang lebih lama daripada menyimpannya dalam kondisi mentah. Atau bisa juga langsung digoreng, setelah tiris, dan ikan sudah berasa gurih. sekalian durinya dimakan? Tentu saja bisa, lebih crunchy! hehe yaa..ini sebab ukuran ikannya kecil. Tapi tidak demikian jika ikannya besar, namun yang jelas, rasa dangingnya lebih lebih terasa sangat gurih.🙂

Nah! Kesalahan prosesing dalam memasak apakah membuat makanan bisa tetap enak? Jawabnya tentu saja iya! Pakai tanda seru! hihihi.. itu semua tergantung bagaimana kita menyiasati tahap atau proses berikutnya.

Bukankan setiap ibu rumah tangga itu chef terhebat di rumah? Wiiihiiyyy! :p

 

 

 

 

 

 

———————eon

kdr1954120113

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: