RSS Feed

[cerpenpen] Kemarilah, Jay, duduk di sampingku.

Posted on

Malam lalu, aku merasa begitu berdosa melihatmu menangis. Mestinya, aku tak perlu bercerita tentang kesedihanku ketika kau jauh, toh pada banyak waktu, seringnya kita memang tak bisa bersama-sama duduk terus berdua sambil membicarakan senja.
Malam ini, bolehkan jika kutebus? Kemarilah, Jay, duduk di sampingku, biar kuceritakan tentang pohon rambutan yang sedang asyik-asyiknya berbuah, kau tahukan, sekarang sedang musim penghujan?
Iya, duduk begitu, merapat padaku sambil memasang senyuman yang indah di wajahmu. Aku suka. Sekarang aku akan bercerita, jika kau bosan, gigit saja pipiku, atau cubit saja hidungku, maka seperti saat sedang mengemudi mobil, aku akan membanting kemudi ke sisi yang lebih lucu, agar senyum di wajahmu itu tak pudar.
Kau tahu pohon rambutan, Jay? Kurasa itu jenis pohon yang terlalu serakah ingin mendapatkan sinar matahari. Kau tahu kenapa? Sebab pohonnya selalu buru-buru membuat dahan dari pokok pohon yang tidak terlalu jauh dari tanah. Dahannya banyak, sama besar, sama rimbun dan akan membuat pohonnya semakin meliuk ke bawah sebab tak tahan menyangga buahnya jika sedang musim berbuah begini. Pasti menyusahkan pemilik pohonnya. Bersusah payah membuat tiang-tiang penyangga agar dahan-dahan yang penuh buah itu tak roboh ke tanah. Sayangkan jika sampai menyentuh tanah, pasti (lagi) akan membuat buah-buah rambutan itu busuk sebelum matang, lalu kita? Mungin juga akan tak sempat mencicipi manisnya.
Aduh! Kenapa kau gigit pipiku? Hihiihi.. baiklah, aku tak akan mengomel soal betapa menyebalkannya pohon rambutan lagi sekarang.
Begini, kau ingat beberapa siang lalu saat kau pergi sendirian, Jay? Emm..hendak memetik bintang sebagai persediaan penerang rumah kita? Nah! Saat itulah aku keluar berjalan-jalan menyusuri lembah di timur, mungkin agak ke tenggara, yang pasti, saat itu aku ingat, aku melihat awan-awan putih yang belakangnya bersinar, berpendar, berkilauan seolah menyimpan seluruh cahaya langit di belakangnya. Langitnya begitu biru jernih, hingga aku tiba-tiba merasakan sangat merindukanmu. Iya, rindu kau bonceng dengan sepeda kayuh kita. Kau pasti mengayuhnya kencang-kencang, sampai gaunku berkibaran ke belakang, lalu aku menjerit-jerit kecil kegirangan sebab merasa seperti dewi Nawangwulan yang sedang terbang melayang-layang di atas tanah. Ah, kau pasti tergelak-gelak jika sudah begitu.
Soal pohon rambutan kembali, di sepanjang lembah yang menuju timur, aku melihat pohon ini tumbuh merindang, berdahan banyak, dan kau tahu, Jay? Setiap dahannya dipenuhi buah-buah rambutan yang bagiku seolah berlomba-lomba lahir ke dunia. Aku senang melihatnya. Senang sekali. Setiap aku berjalan, setiap itu pula aku seperti disambut pohon-pohon ini. Sebab buahnya yang penuh di pohon, pohon-pohon rambutan ini jadi mudah sekali kukenali.
Rambutan muda berwarna hijau kekuningan segar, aku jadi merasa begitu gemas. Sumpah! Bayi-bayi buah rambutan nampak begitu rapuh namun kuat. Mereka menyembul dimana-mana di bagian dahan pohonnya. Tapi lalu saat aku menebarkan pandangan, di samping rambutan-rambutan yang baru memulai hidupnya itu, aku melihat rambutan-rambutan yang berwarna jingga, seperti api anggun yang baru saja kita nyalakan saat gelap, rambutan-rambutan yang berwarna jingga ini seperti sedang bersorak sorai, riuuuh sekali. Entahlah, begitu ramai berkesan di kepalaku. Mereka seolah sedang berpesta pora bernyanyi sambil memainkan musik semalam suntuk, sepanjang musim dengan begitu banyak cahaya. Hihihiihi… Aku jadi tiba-tiba ikut menari berputar-putar sambil menyibak-sibakkan gaunku begini. Menghentakkan kakiku begini, membuat irama. Iya, Jay, aku seperti mendengar musik ketika melihat rambutan-rambutan yang berwarna jingga itu. Hihiihihi…sudah! Jangan memelukku begini, aku mau menari sekali lagi. Rambutan-rambutan yang berwarna jingga itu seolah penuh sihir di dalam kepalaku. Oh! Atau kau berdirilah, kita menari sekarang, hentakkan kakimu begini lalu akan kulanjutkan ceritaku. Ahahahihii..iya begitu, ikuti saja gerakan kakiku, Jay!
Sudah! Kakiku lelah. Kemarilah, Jay, duduklah kembali di sampingku. Masih ada cerita tentang rambutan yang berwarna merah. Iya, kurasa, yang berwarna merah ini siap dipetik untuk dimakan. Iya, siap kita makan. Hihihi..mungkin akan didahului kelelawar, atau tupai, mungkin juga kadal-kadal pohon. Aku jadi tenang melihat rambutan yang berwarna merah itu. Kesiapan mereka untuk dipetik membuatku merasa seperti melihat seorang dewasa yang bijak. Dia merelakan dirinya untuk makhluk hidup yang lain, merelakan dirinya untuk dunia, siapa saja, siapapun. Dia menunjukkan dirinya siap dengan kulit buahnya yang berwarna merah. Memberikan rasa manis dan segar saat dicicipi, dimakan, dari salut bijinya. Sementara bijinya, diapun siap tumbuh dimana saja meski kita melemparkannya dimanapun di atas tanah. Dia mempersiapkan dirinya dengan begitu sempurna.
Sebenarnya, aku ingin menangis, Jay. Sekarang, apakah aku sudah cukup dewasa dan bijak seperti rambutan yang berwarna merah itu? Entahlah, kau akan terus di sampingku bukan? Mengingatkanku, menggigit atau mencubitku saat terlalu kekanakan? Hihihihi…tapi jangan memarahiku saat aku lupa waktu, ketika terlalu lama bermain layang-layang.
Sudahlah, jangan terlalu serius begitu wajahmu. Tersenyumlah lagi. Aku bukan sedih memikiran warna warni rambutan. Aku senang. Sangat senang. Begitu semarak. Dalam satu pohon bisa kulihat warnawarni yang harmonis meski berbeda. Hijau, jingga, merah. Pohon rambutan terlihat begitu cantik saat berbuah. Mungkin, terlihat seperti kita yang serasi saat bersama. Membuat siapa saja yang melihat menjadi senang dan tersenyum.
Aduuh…! Jangan gigit pipiku!
Iya memang tak ada hubungannya antara pohon rambutan dan kita, tapi lihatlah, aku suka sekali melihat wajahmu yang merona-rona menahan geli dan menyembunyikan tawa saat aku terlalu banyak bercerita.
Baiklah. Sudah larut, aku mengantuk, Jay. Esok hari, meski mungkin hujan masih juga datang seperti malam ini, aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Agar aku hidup dan bersinar seterang matahari.
Aduuh…! Hentikan! Jangan menggigit pipiku lagi!

……………………eon
kdr2243060113

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s