RSS Feed

[cerpenpen] Catatan Harian Kapten

Posted on
nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

nature-outer-space-stars-collision (from wallpapersus.com)

Perjalanan bintang di tahun cahaya ke empat. Aku terbangun masih di dalam kamar pesawat antariksaku. Kesehatanku, kurasakan membaik. Sementara tak ada seorangpun di kapal ini bisa kumintai pertolongan, kalian tahu tentunya bahwa di jaman ini, semua dikerjakan dari satu pusat kendali, aku, di bawah sana, robot-robotlah yang bergerak.

Namaku, kapten Nightingale, dan aku sedang perada di pesawat antariksa yang kami beri nama Haliaeetus leucogaster. Kami, iya, kami, pesawat ini milik kami berdua, aku dan kapten Blue Wishtle-trush. Kami sedang dalam misi mencari planet yang penuh gunung dan lembah, planet yang penuh bukit-bukit hijau yang ketika matahari ruyup di timur, ranting-ranting pohon, lingir-lingir daun-daun berkilauan sangat cemerlang. Planet yang bersamudra dengan debur ombak yang terdengar terus bernada sama namun tidak. Misi berat yang rupanya membuat iri banyak golongan di planet kami. Maka berjarak tahun cahaya ketiga dari planet kami, Haliaeetus leucogaster diserang saat transit di dermaga satelit Nebula. Sebuah black hole jadi-jadian dari acakan energy gelombang electromagnet berhasil menyedot sebagian satelit Nebula, separuh badan pesawat dan kapten Blue Wishtle-thrush, patner, kawan seperjalanan, sahabat galaksi dan sang kekasih bintang. Reaksi reflex satelit Nebula yang kemudian melepaskan tembakan proton ke arah sumber acakan energi  gelombang electromagnet itulah yang menyelamatkanku dan anjungan sekunder pada bagian pesawat kami. Aku tak bisa menyelamatkan bagian pesawatku yang lain, tidak pula menyelamatkan kapten Blue Wishtle-thrush. Sejak itu, aku tak punya alasan melanjutkan misi dengan pesawat yang cacat kecuali kembali ke planet kami, dan kesehatankupun menurun seiring perjalanan cahaya kembali menuju rumah.

Aku bergegas turun dari tabung peraduanku. Menuju anjungan dan mengecek sampai sejauh mana robot-robot pesawat antariksaku bergerak mendekati pusat planet tujuan terdekat perjalananku ini. Aku berjalan kaki cepat-cepat.

Pintu anjungan mengayun terbuka dengan halus begitu aku sampai di depannya. Tiga langkah setelah pintu, di sebelah kanan, terdesain sebuah cabinet laminar air flow yang menempel dan menyatu dengan badan pesawat, kecuali permukaan interaksinya yang berpenutup kaca sampai enam per delapan ruangan cabinet. Aku menurunkan tiga atau empat biji-bijian ke dalam glass plate yang ada di dalam cabinet dengan menekan sebuah tombol, kemudian merangkai beberapa tombol lagi dengan berbagai kode untuk mengubah partikel-partikel dalam biji-bijian itu menjadi makanan yang dibutuhkan tubuhku. Tidak rumit. Sebab seperti itulah memang kehidupan dalam pesawat antariksa manapun.

Cabinet laminar air flow bekerja seperti tidak dalam kecepatan biasanya, ataukah aku yang masih belum stabil benar. Tiba-tiba tubuhku merosot ke bawah, ke lantai anjungan pesawat yang begitu luas dengan berbagai mesin kendalinya dan belum kusentuh semua. Pesawat ini masih luas meski telah kehilangan sebagian tubuhnya dan hanya aku makhluk hidup yang berdiam di dalamnya, maka demi bintang-bintang yang gemerlap di saat fajar, aku memaksa diriku bangkit dan berdiri. Namun tubuhku terlalu berat..

“Sea Hawk, transformasi kapten ke pusat kendali!” perintahku pada robot pentransform.

Tubuhku tersentak sedetik, lalu merasakan sensasi menggelitik panjang yang membuat mual dan pusing saat kali pertama dulu aku bertransformasi, berpindah tempat. Rasa yang lebih pekat dari kekuatan gravitasi yang pernah kurasakan di planet kami. Menyesakkan dan berat. Tapi setelahnya terbayar dengan kelegaan luar biasa, setelah aku berada di tempat tujuan, di kursi anjungan.

Kuhirup sejenak udara, yah! Beginilah rasanya mensyukuri udara.

Aku tak lagi memperdulikan makanan yang sudah terbentuk di dalam cabinet laminar, aku seperti tak punya banyak lagi waktu. Dengan tone suara yang kubuat stabil seperti saat kesehatanku belum terganggu, aku kembali mengatur kecepatan pesawat, memperhitungan kecepatannya sampai di pusat planet tujuan terdekat. Mengecek seberapa jauh lagi jarak tempuhnya dan menghitung semua persediaan hydrogen pendorong pesawat. Satu lagi yang mesti kuperhitungkan, aku memerlukan energi yang lebih besar untuk membuat pesawatku berada di luar jangkauan radar pesawat antariksa manapun. Kondisiku sedang tidak cukup baik menerima kunjungan ramah tamah bahkan serangan invasi sekalipun.

Tenagaku terkuras habis setelahnya. Tubuhku semakin merosot ke lantai.

“Pusat bintang Iliera, ribuan tahun cahaya akan kutempuh, walau nyawaku tebusannya, tidak ada tempat paling membahagiakan di alam semesta ini kecuali tempat kekuatanku dan kekasihku di lahirkan,” bisikku.

“Sea Hawk, tranformasi kapten ke tabung peraduan!”

Sedetik kemudian tubuhku merasakan sensasi kembali dan telah terbaring di tabung peraduan detik berikutnya. Kaca tabung mengayun tertutup begitu tubuhku telah rapi berada di piringan tabungnya. Seiring kaca tabung merapat, merapat pula lah mataku, pejam.[]***

———————eon

Kdr1059301212

terinspirasi dari patahan-patahan gambar film startrex yang masih mengendap di kepala, dan novel-novel fantasi Ursula K.  Le Guin dan ketakjubanku pada antariksa. selamat berlibur bagi yang merayakan! hehe ^_^

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s