RSS Feed

Muhasabah: indahnya berbagi.

Posted on

Rabu siang, perutku lapar sudah dangdutan. Mau beli makanan tentu saja malu karena…emm..aku perempuan. Menurut ibuku, saru,kurang baik. Jadi tetap saja kutahan laparku. Sebab pagi tadi, meski sarapan selesai tepat waktu dan semua anggota keluargaku, sudah sarapan, aku yang selalu ketinggalan. Rabu pagi memang agak sibuk, aku harus datang lebih awal untuk menyiapkan keperluan pengajian di masjid dalam kompleks sekolahnya Karin. Alhasil..siangnya tentu kelaparan. Hihiihi…
Pukul 11 WIB, Karin keluar dari kelas dan seperti biasa, kami melewati kerumunan penjual makanan dan mainan yang aduhai menggoda segala rentang umur. Hihiihihi..
Karin kuijinkan untuk membeli telur dadar goreng mini yang di beri kecap. Lama menunggu antrian teman-teman Karin, konser dangdut dalam perutku semakin riuh. Alaaahmaakjaaang… Hiks!
Apalagi ada seorang ibu yang mengajakku sedikit mengobrol karena sama-sama menunggui anak-anak mengantri mendapatkan layanan penjual. Kepalakupun terus berpikir, hatiku terus saja berhitung, beli makanan atau enggak.
Baiklah, tak tertahankan laparku, segera setelah ibu tadi beralih, aku menghampiri tukang siomay. Nah! Hihihi.. “Dibungkus saja satu ya, pak” ucapku ke penjualnya sambil tersenyum ramah.
“Dibungkus plastik atau kertas?” tanyanya. Hih! Kalau dibungkus plastik pasti akan dimakan sambil berjalan seperti yang dilakukan orang-orang itu. Yak! Langsung saja terbayang wajah ibu dan almarhum kakek siap dengan sendal kelompen, sendal dari kayu yang siap ditimpukkan ke arahku. Huhuhuhihiih… “Kertas saja, ya pak,” sambungku kemudian. Aku akan memakannya di rumah. Bukan sambil jalan menuju parkiran atau sambil mengobrol dengan ibu-ibu sembari menunggu anak-anak selesai dengan urusannya.
Sambil memotong-potong jualannya, pejual siomay itu bercerita. Bahwa baru saja, anak-anak yang dulu pernah bersekolah di sini (kebetulan kompleks sekolah Karin satu area dengan MAN atau setingkat SMU) datang membeli siomaynya. Mengatakan mereka kangen dengan siomay dan berbincang dengan bapak penjual siomaynya. Anak-anak yang sudah hendak bekerja di kota-kota jauh, hendak berangkat study di luar daerah jauh, mereka datang sekedar membeli siomay seharga empat ribu rupiah yang notabene bisa mereka dapatkan di mana saja di seluruh tebaran kota di Indonesia kurasa.

Awalnya tentu saja aku mendengarkan dengan pura-pura tertarik pada cerita bapak penjual siomay. namun tetap menunjukkan wajah yang antusias demi menghargai si bapak. Semakin kusimak, otakku semakin bekerja dengan cepat. Merangkai hipotesa dan konklusi. Sampai kemudian membawaku keperenungan selama berkendara pulang, bahkan sampai esok harinya ketika tulisan ini kubuat.

Bahwa setiap orang membutuhkan sosok untuk panutan, meskipun itu hanya sekedar tukang siomay, dan anak-anak itu melakukannya. Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka mendatangi penjual siomay untuk meminta pendapat, nasehat, atau sebagai tempat berbagi mereka yang nyaman?

Di sinilah kemudian cerita kukaitkan, si bapak penjual siomay bercerita tentang nasehat-nasehat apa saja yang diberikan kepada anak-anak itu. Simple, nasehat seperti yang kebanyakan diberika seorang dewasa kepada anak-anak yang tentu saja masih labil. Satu hal, tidak banyak nasehatnya, yaitu “berbaik hatilah kepada orang tuamu, minta doa mereka, maka ridho mereka akan ada untuk keberhasilanmu.”

Lantas apa yang dilihat anak-anak ini pada nilai sebuah keberhasilan? Bukankan penjual siomay hanya sekedar penjual siomay? Bukan selebritis, pejabat terkenal, saudagar kaya bahkan presiden yang berkelimpahan harta?

Maka sekali lagi otakku bekerja, mungkin sebuah keberhasilan itu bernilai relatif. Bagi anak-anak itu, penjual siomay ini adalah saudagar kaya raya. Berhasil. Sebaliknya ketika kuteliti setiap kata yang diucapkan penjual siomay inipun, aku tahu dia memang kaya raya, bukan secara materi, namun hatinya bercahaya.

Apa sebenarnya yang membuatku mengambil kesimpulan atau konklusi ini? Si bapak penjual siomay ini tidak segan berbagi kebaikan seperti nasehat yang diberikannya kepada anak-anak itu. Pertama.

Kedua, sejak pertama kali aku membeli siomaynya, sebuah kalimat yang selalu sama yang diucapkannya ketika memberikan bungkusan siomay kepadaku dan pembeli lainnya: “Barokallahu..alhamdulillah rejeki saya, terima kasih, semoga suka.”

Perutku mulas! Hatiku berteriak! Satu dari sekian banyak penjual yang kutemui seumur hidupku. Ada penjual yang mendoakan apa yang kubeli dan akan kumakan berikutnya menjadi sesuatu yang berkah dalam tubuhku. Subhanallah.

Si bapak juga bersyukur, meski sebungkus yang diserahkannya pada pembeli.

“orang yang beriman adalah orang yang pandai bersyukur meski dengan nikmat yang sedikit.”

Maka kemudian aku mengamini relatifitas yang dipikirkan anak-anak itu, bapak penjual sioamy ini adalah orang yang berhasil. Sedikit doa yang dibagi nampaknya, tapi banyak sekali dampaknya, hatinya begitu kaya raya. Si bapak membagi doa itu dengan tulus. Satu hal, wajah si bapak penjual sioamy ini memang terlihat begitu tenang dan bahagia.

Kita, insyallah memiliki lebih banyak dari sekedar doa untuk dibagikan. Dan, semoga, dimasukkanNya lah kita ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur. Aamiin.

————-eon.

renungan sepanjang nopember 2012.kab.kediri

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: