RSS Feed

[cerita] Sambal Pertama Karin

Posted on

Karin yang sedang serius menguleg sambal pertamanya. ;))

Hari minggu yang lalu, seperti biasa Abi-nya Karin mendapatkan tugas keluar kota. Sepi dong rumah, lebih lagi ga bisa jalan-jalan atau sekedar keliling kota sebab aku sendiri kebetulan sedang tidak memiliki jadwal kegiatan di luar rumah.

Maka, supaya tetap bisa terkena sinar matahari yang hangat, menghirup udara yang segar, sebab hari minggu adalah hari jalan-jalan di kota menjadi lengang, sepi dari kendaraan, aku berencana mengajak Karin ke pasar. Membeli bumbu dan sayuran, juga lauk untuk stok beberapa hari ke depan. Padatnya kegiatan yang kupunya setiap hari memang tidak memungkinkan untuk bisa jalan-jalan ke pasar setiap pagi.

Siang hari sebelumnya, setelah pulang sekolah, Karin memang agak gaya. Berlagak dewasa dengan aksi mencocolkan kerupuk di sambal yang ada di piringku. Katanya “Nih, kubuktikan, aku sudah jago makan sambalkan, bunda.”

Aku tergelak saja. Lalu malam harinya, ketika kuajukan rencana jalan-jalan menemaniku ke pasar, dia langsung menyetujui. “Aku mau beli cabe, pokoknya!” begitulah dia berseru lantang penuh semangat. Dia ingin membuat sambalnya sendiri. Kupikir, ya mengapa tidak memberinya kesempatan bersenang-senang di pasar dengan membeli cabe lalu menyaksikannya membuat sambal.

Berbekal cerita dari ibu mertua dahulu, Abi-nya Karin waktu kecil sudah pernah dibikinkan sambal yang isinya hanya tomat dan terasi. Hihihi… nah! Apakah sambal Karin nanti isinya juga itu?

Esok paginya, sesuai janjinya, Karin tidak bangun dengan malas-malasan. Dia bersemangat untuk menemaniku ke pasar. Segera setelah mandi dan rumahku bersih aku mengajaknya ke luar menuju pasar yang tidak jauh dari rumah menggunakan motor. Di tengah perjalan aku bertanya lagi. “Karin pengen dimasakkan apa sama bunda? Soto? Rawon? Atau apa?”

Tapi dengan ceriwis dan bawelnya dia masih juga menjawab dengan jawaban yang sama dengan semalam. “Iiiih bunda ini, aku kan mau beli cabe, aku mau masak sambal saja dengan tempe goreng!”

“Woo..oke! oke! Nanti kita beli cabe dan tempe saja kalau begitu,” gelakku mengalah.

Sesampainya di pasar, tentu saja aku tak langsung membeli cabe, masih ke sana ke mari membeli berbagai macam bahan. Tapi Karin terus saja ingin buru-buru, menarik-tarikku dan merengek-rengek meminta untuk membeli cabe setiap kali melewati penjual cabe. Hihihi…

Aku terus memintanya bersabar tentu saja. Cabe dan bumbu akan kubeli paling terakhir.

Setelah semua terbeli, akhirnya sampai juga kami ke pedagang cabe. Biasanya aku membeli ‘cabe campur’ yang isinya cabe rawit, cabe merah dan tomat sekaligus dalam satu bungkus, satu hitungan harga. Lebih menghemat.

“Lombok campur, bu, tigang ewu kemawon,” ucapku pada penjual cabe. Sayangnya karena ramai, penjualnya tak begitu jelas mendengarku. Maka dia bertanya lagi.

“Lombok ingkang menopo, mbak?”

“Bunda! Yang kecil-kecil itu sajalaah…” sahut Karin cepat sambil menarik-tarik bajuku.

“Iya..iya..” sahutku, sambil tersenyum mengkode si ibu penjual cabe. Kami berdua tertawa sama-sama kegelian tentu saja.

Tidak jadi dapat cabe campur dong akhirnya. Hihihi.. tak mengapa, sebab kemudian aku meminta untuk dibungkuskan cabe merah dan tomatnya juga.

Sesampai di rumah, setelah semua bahan kucuci bersih, menunggu tiris untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Kembali Karin merengek, menagih janji padaku untuk diijinkan menguleg sambalnya sendiri.

Okelah. Sebagi orang tua, harus tepat janji dong, memberikan contoh, bahwa kita mesti bertanggung jawab atas apa yang sudah pernah kita utarakan kepada orang lain. Kelak, dia pasti memahami bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab. Simplekan apa yang orang tua kerjakan?😉

“Sudah ambil layahnya* sekalian ulegnya,” pintaku pada Karin.

Dengan semangat disiapkannya cobek dan ulegnya. Kusiapkan sedikit garam dan gula di atasnya kemudian.

“Oke, Karin mau bikin sambal pakai cabe yang besar atau yang kecil?”

“Yang kecil!”

“Mau berapa banyak?”

“Emmm….empat saja!”

“Mau pakai tomat?”

“He em! Mau!”

“Ya sudah ambil satu tomat juga sana.”

“Sudah siap semua ini, bunda. Terus?”

“Terus ya tinggal diuleng.”

Kemudian dengan antusiasnya dia menguleg sambal pertamanya.

“Uleg cabenya dulu, setelah halus semua, baru Karin uleg tomatnya, oke?”

“Iya!” jawabnya mantab. Hihihi…

Aku senang sekali dengan antusias belajarnya. Dan lagi-lagi tugas kita sebagai orang tua adalah memberinya kepercayaan penuh, kesempatan optimal untuk mengeksplorasi hal baru, agar anak-anak belajar, mendapatkan pengalaman, ilmu yang kelak tidak hanya tentang bagaimana menguleg sambal, namun juga menjadi percaya diri atas dirinya sendiri yang lantas kemudian akan membuatnya mengerti bagaimana berbagi, menghargai orang lain, mengapresiasi kemampuannya dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Begitulah yang terpikir olehku. Atau bahkan mungkin masih banyak lagi yang bisa kita kupas satu persatu dari itu. Kawan-kawan bahkan lebih tahu.🙂

Selamat mengispirasi, mari berbagi.🙂

——-eon.

Kabupaten Kediri, 27102012.2155

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s