RSS Feed

Surat untuk Sahabat [7]

Posted on

repost from multiply Feb 12, ’11 2:32 PM

 

Dear you,

Sebenarnya aku sama sekali tak bermaksud menulis surat ini untukmu, sungguh. Sebab apapun sekarang yang aku hadapi, aku sudah tahu bahwa sebenarnya aku bukanlah sahabatmu. Seperti aku pernah mengganggapmu sahabat.

Aku juga tak pernah berniat membuatmu membaca suratku ini, sebab sampai atau tidak, surat ini memang dan mungkin semestinya tidak layak engkau baca. Seperti aku melihatmu siap dengan pisau berkilauan.

Dear you,

Mungkin aku membutuhkan ucapan terima kasih darimu, atau penghiburan, yang sewaktu-waktu selalu aku merasa, itu mungkin menyita waktumu. Namun sebenarnya tidak. Aku tidak pernah mengharapkan apapun, kecuali kau mau berbagi cerita, sedikiitt saja. Tentang cuaca, tentang hujan, tentang kursi tempatmu duduk yang semakin lama semakin membuatmu sakit pinggang.

Sepertinya kau memang terlalu sibuk. Bahkan sepotong singkongpun tak pernah kau antar lagi padaku. Atau sebuah kait juga tak pernah kau pasang lagi di antara pelangi sehingga kita bisa benar-benar bermain rollercoaster seperti dahulu.

Apakah aku sakit? Apakah aku sedih? Ya, aku pernah, bahkan aku pernah terkapar tanpa secuilpun tanyamu datang, sementara aku terus berdoa pada Tuhan, semoga Dia menjagakanmu selalu, menjadikanmu sahabat yang tak akan pernah lupa mengirimiku kata “apa kabar nduk?”

Dear you,

Aku pernah marah, sangat marah. Sebab kecewa pada itu semua. Kau yang tak pernah lagi sama. Tapi aku siapa? Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri. Entahlah, aku memang bukan siapa-siapa, selain lampu yang berwarna hijau di dalam kotak.

Aku tak pernah menganggapmu matahari, tanah, angin bahkan udara, bukan. Tapi sebenar-benarnya adalah kau sepertiku, hanya rangkaian kata yang sambut menyambut menalikan sesuatu di dalam relung kita masing-masing. Aku tidak bohong.

Seperti aku selalu berterima kasih padamu, telah melengserkan sesuatu, sesuatu yang tiba-tiba membuatku merasakan pahit, seperti ketika aku tiba-tiba menuliskanmu pada bait-bait puisi dan sajakku, di sanalah aku pernah merasakan degupku kembali pada rasa percaya, percaya pada diriku sendiri dan percaya pada dunia.

Aku selalu berdoa pada Tuhan kau tahukan?! Hanya karena aku berharap kunci apapun yang aku serahkan padamu tetap terjaga. pecahnya rasa percaya menjadi kecewa, amarah dan sedih adalah sesuatu yang benar-benar membuatku sakit.

Kupikir kau lebih memahami aku, dari pada aku sendiri, meski apa-apa yang kuceritakan padamu hanyalah sebagian. Meskipun terkadang aku lebih suka melihatmu akhirnya memberikan penilaian yang salah padaku, aku tak pernah protes, diam. Aku suka kau meracau.

Dear you,

Tahukah kau, aku pernah merasa gembira mendapati kawan yang mau mendengarkanku, mendengarkan ceritaku yang mungkin lebih banyak tak memberikan manfaat apapun bagimu. Meski suatu ketika aku selalu berharap, kau juga mau menjadikanku telinga yang mendengarmu bercericip panjang lebar.

Akhirnya, aku hanya tahu. Ternyata aku bukanlah sahabatmu, persis sama seperti aku pernah menganggapmu sahabatku.

Maka, aku merelakanmu, melepaskanmu. Patah hatiku sudah pernah cukup. Amarahku juga, demikian juga kecewaku. Hatiku lapang selapang-lapang. Tak ada yang perlu kuperbaiki lagi, sebab aku sudah pernah mencoba namun usahaku itu seperti menyatakan aku adalah seorang pemimpi di siang hari.

May all happiness be with you…

Cheerio!

the nightingale in me
bwi.18012011

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: