RSS Feed

Living Proof, Sebuah Review

Posted on

repost from multiply Apr 6, ’11 11:43 PM

Image

sumber: internet

 

Seperti ketika film ini dibuat, untuk didedikasikan kepada penemu Herceptin, Dr. Dennis Slamon dan para wanita pemberani. Tulisan inipun saya dedikasikan kepada seluruh wanita di dunia.

Living Proof, adalah sebuah judul film yang sebenarnya saya tonton dua hari yang lalu, melalui salah satu saluran tv kabel. Film yang disutradarai oleh Dan Ireland dan dibintangi oleh Harry Connick, Jr. sebagai tokoh utamanya yaitu Dr. Dennis Slamon. Seperti biasa, pada mulanya, saya selalu tidak memperhatikan judul filmnya, siapa sutradaranya, siapa pemain yang berperan di dalamnya, semuanya tidak menarik perhatian saya, sampai film itu benar-benar membuktikan kepada saya jika film tersebut layak saya tonton sampai tuntas. Saya termasuk penonton yang sangat selektif pada film. Kualitas gambar, kualitas suara, animasi, alur cerita, dan sebagainya.

Cerita bermula di laboratorium kecil milik Dr. Slamon di universitas UCLA, Los Angels. Hari itu ternyata Dr. Slamon sedang menunggu seorang asisten laboratoriumnya, yang diperlukan untuk membantu banyak proses penelitian yang sudah dilakukannya selama enam tahun. Sebenarnya dia mengharapkan seorang asisten dengan latar belakang pendidikan sains, tetapi ternyata yang didapatinya malah seorang mahasiswi lulusan sastra Inggris. Tidak mudah mengopreasikan dan membantu segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitiannya, maka tentu saja Dr. Slamon mengharapkan seorang asisten yang cakap dan berpengalaman di laboratorium. Namun setelah melihat kecakapan sang asisten baru dalam mewakilinya bicara dengan pengunjung laboratorium, telepon dan ketekunannya mencatat hasil riset, Dr. Slamon akhirnya mempekerjakan asisten barunya tersebut selama kurun waktu dua tahun ke depan atau hingga penelitiannya selesai.

Dibantu oleh ilmuwan dan sekaligus seorang teman yang bekerja di Genetech, sebuah perusahan bioteknologi yang mendanai dan memegang satu-satunya hak penelitiannya, Blake Roger, adalah seorang juru bicara bagi Dr. Slamon di Genetech.

Penelitian Dr. Slamon ini berkisah tentang pengembangan obat bagi penderita kanker payudara. Her-2 adalah nama gen dari protein antibody yang terdapat dipermukaan sel kanker payudara. Dr. Slamon mengambil gen ini, menelitinya untuk kemudian dikembangkan menjadi obat yang pada mulanya hanya bertujuan menghambat pertumbuhan sel kanker dan memperkecil sel kankernya .

Dalam penelitianny di tahun ke enam, Dr. Slamon ternyata menghadapi masalah, dikuranginya dana penelitiannya oleh Genetech. Dan dalam waktu dekat jika penelitian tersebut tidak juga menghasilkan obat yang diharapkan, Genetech akan mencabut pendanaanya. Hal ini akan menghentikan seluruh penelitian Dr. Slamon, mejadikan enam tahun kemarin sia-sia dan Dr. Slamon tidak akan mendapatkan perusahaan bioteknologi pengganti Genetech sebab seluruh hak penelitian dimiliki oleh pihak Genetech. Namun, tentu saja Dr. Slamon tidak menyerah begitu saja. Sebab, setiap tahun, terdapat dua ratus ribu orang baru, yang terdiagnosa mengidap kanker payudara. Setiap minggu Dr. Slamon menyerah dan berbicara kepada pasien penderita kanker payudara untuk menghitung mundur waktu hidupnya. Pembicaraan yang tidak mudah bagi seorang dokter yang memiliki dedikasi tinggi atas kesembuahn pasien-pasiennya.

Perjuangannya meyakinan pihak dewan Genetechpun dilakukan dengan sulit disela-sela penelitiannya yang terus-menerus mengalami kegagalan. Setelah beberapa bulan berlangsung, dewan Genetechpun akhirnya memutuskan akan menghentikan sama sekali pendanaan terhadap penelitian Dr. Slamon, sebab diperkirakan produsen obat tidak akan mampu menjualnya dan Genetech akan merugi.

Di tengah kemelutnya itu Dr. Slamon hanya menceritakan masalah penelitiannya itu kepada istrinya Donna yang diperankan oleh Paula Cale. Sambil menangis dan meminta maaf kepada istrinya, sebab merasa bersalah kepada keluarga yang selalu ditinggalkannya hanya untuk sekedar meneliti tentang Her-2 ini, berlama-lama di dalam laboratorium, Dr. Slamon juga menyesal, impiannya untuk menyelamatkan para wanita penderita kanker payudara di dunia gagal. Mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan alternatif pengobatan. Sebab, sampai penelitian itu dilakukan, penanganan dengan cara kemoterapi yang menimbulkan banyak efek samping tersebut masih menjadi satu-satunya jalan. Meskipun sebenarnya kemoterapi tidak menimbulkan dampak penyembuhan signifikan seperti yang diharapkan.

Keberuntungan Dr. Slamon didapati ketika secara tidak sengaja istrinya bercerita kepada Lily Tartikoff (Angie Harmon), istri Brandon Tartikoff sang presiden televisi NBC, tentang akan diberhentikannya penelitian suaminya oleh pihak Genetech. Lily, yang sudah merasa menjadi bagian dari keluarga Dr. Slamon, merasa tergerak. Karena rasa terima kasihnya kepada Dr. Slamon, dahulu telah berhasil membantu Brandon Tartikoff, suaminya, mendapatkan kesembuhan total dari penyakitnya, yang di dalam film ini tidak disebutkan penyakit apa yang dideritanya. Lily kemudian menawarkan bantuan dengan memberikan uang pribadinya untuk mendanai penelitian Dr. Slamon. Namun karena kedekatan hubungan mereka layaknya keluarga Dr. Slamon menolak.

Pada akhirnya, Lily mendapatkan ide untuk mengadakan gala dinner bagi semua pesohor, artis-artis dan semua kolega suaminya untuk menggalang dana bagi penelitian Dr. Slamon. Acara tersebut sukses dan mengumpulkan ratusan ribu dolar dalam semalam. Dalam acara tersebut, Lily bertemu Ronal Perelman, pemimpin sekaligus pemilik perusahan kosmetik terbesar di Amerika, Revlon. Keberanian Lily akhirnya mendapat sambutan baik dari Perelman. Disusul kemudian Lily diminta untuk mempresentasikan penelitian yang sedang dilakukan Dr. Slamon di depan dewan Revlon. Semuanya berhasil melebihi apa yang diharapkan. Revlon pada akhirnya memberikan sebesar dua juta empat ratus dolar untuk penelitian Dr. Slamon, dengan konsekuensi Lily diminta untuk terus mengadakan acara penggalangan dana dengan mempromosikan Revlon sampai penelitian selesai.

Penelitianpun akhirnya selesai. Setelah melalui uji coba pada tikus, di tahun 1992, obat inipun dicobakan kepada lima belas orang relawan, wanita-wanita penderita kanker payudara sadium empat, positif Her-2. Percobaan fase pertama ini memakan waktu berminggu-minggu. Minggu pertama pasien tetap mendapatkan cleseptin atau yang biasa disebut kemoterapi, dan tentu saja setelahnya para penderita ini akan mengalami semua efek sampingnya, termasuk mual, muntah, kerontokan rambut dan sebagainya. Diminggu berikutnya pasien diberi terapi herceptin, nama yang kemudian ditetapkan menjadi nama produk obat yang dipasarkan sampai sekarang sebagai obat kanker payudara.

Tidak semua relawan akhirnya berhasil. Satu-persatu dari kelima belas wanita-wanita tersebut kemudian meninggal, bukan karena herceptin namun memang karena kankernya sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Hanya lima orang yang kemudian diijinkan untuk melalui tahap percobaan fase dua. Wanita-wanita yang tidak lolos menuju ke fase dua percobaan ini frustrasi dan semuanya memohon untuk mendapatkan treatmen herceptin di fase berikutnya. Dr. Slamon tentu saja tidak bisa mengijinkan mereka semua ikut dalam percobaan fase keduanya. Ada standar-standar yang harus dipenuhinya dari FDA (Food and Drugs Administration) supaya herceptin ini kelak akan benar-benar disetujui sebagai obat.

Barbara yang diperankan oleh Bernadette Peters, adalah pasien pertama penderita kanker payudara stadium empat, sembuh total setelah berhasil melalui percobaan fase kedua. Sebuah keajaiban, sebab seluruh sel kanker yang ada di dalam tubuh Barbarapun hilang. Tidak lagi berpotensi mengidap kanker dikemudian hari.

Setelah keberhasilan di fase kedua, Dr. Slamon mengartikan bahwa penelitianny sudah selesai dan segera FDA akan mengeluarkan ijin untuk pembuatan obat herceptin ini. Kenyataannya, pihak FDA menginginkan pengulangan percobaan sekali lagi untuk mendapatkan bukti signifikan tentang pengaruh herceptin bagi penderita kanker payudara. Percobaan ini disebut-sebut sebagai fase tiga, dimana di dalamnya Dr. Slamon harus mengulang semua prosedur yang dia lakukan dalam percobaan fase pertama dan kedua.

Kendala berulang kembali. Sebab tidak mudah untuk menemukan relawan, wanita-wanita penderita kanker payudara stadium empat positif Her-2. Pada umumnya wanita-wanita penderita distadium ini sudah tidak lagi memikirkan tentang segala upaya penyembuhan kecuali berserah pada vonis yang mereka dapat.

Dr. Slamon memang seorang yang beruntung. Dia akhirnya secara tidak sengaja bertemu dengan kawan lamanya ketika dia mengunjungi rumah sakit tempatnya bekerja. Fran Visco, yang ternyata adalah presiden NBCC (National Breast Cancer Coalition). Disanalah Dr. Slamon kemudian mendapatkan dukungan penelitiannya. Bantuan bagi Dr. Slamon untuk mendapatkan relawan dan meyakinkan pihak FDA untuk memproduksi herceptin lebih banyak.

Kisah mengharukan terjadi lagi ketika Elli (Regina King) seorang desainer baju, adalah jugang penderita stadium empat. Meskipun sudah pernah melakukan pengangkatan payudara dan kemoterapi serta dinyatakan sembuh, namun sel kanker dalam tubuhnya kembali aktif setelah beberapa tahun kemudian. Dokter yang menangani kasusnya menyerah dan menawarkan untuk mencoba pengobatan herceptin yang notabene masih dalam tahap uji coba. Diantara kemelut Elli, untuk mendapatkan persetujuan dia layak menjadi relawan herceptin fase ketiga, dia harus memberikan berkas riwayat penyakitnya ke rumah sakit tempat Dr. Slamon melakukan penelitian, ternyata seluruh berkasnya hilang. Vonis hidupnya tinggal empat bulan, dan selama dua bulan dia hanya mengurus kembali kehilangan seluruh berkas riwayat penyakitnya tempat dia pernah dirawat. Di sinilah kemudian Elli ternyata datang satu minggu lebih cepat dari percobaan fase tiga dijadwalkan. Ditolak perawat dibagian resepsionis untuk pulang dan datang kembali satu minggu lagi.

Elli yang merasa hidupnya sudah tidak lagi panjang, dan kelelahan emosional dalam mencari berkas-berkasnya sebelum itu, merasa sangat marah. Dia berpidato kepada sang resepsionis sambil menetesakan air mata dimana dia sedang sekarat dan rumah sakit hanya menanggapi bahwa mereka belum siap untuk menerimanya sebagai pasien yang layak mendapatkan pengobatan untuk sembuh.

Di luar dugaan Elli, sang perawat di meja resepsionis tersebut akhirnya menelepon Dr. Slamon. Maka Dr. Slamon dan Ellipun bertemu hari itu juga. Elli adalah relawan pertama di fase ketiga. Mereka berdua saling berterima kasih. Dr. Slamon akhirnya mendapatkan relawan dan itu berarti mempercepat proses persetujuaan diproduksinya herceptin sebagai obat dan bisa dijual secara bebas. Sementara Elli berterima kasih sebab merasa nyawanya akan diselamatkan.

Beberapa relawan kemudian menyusul dan herceptin akhirnya di produksi menjadi obat hingga kini.

Ditengah-tengah film yang pada mulanya saya tidak mengetahui maksud film ini, sudah berpikir. Jika film ini hanya fiksi belaka, maka saya sangat menyayangkan dan sangat melaknat film ini. Film yang sudah menipu memberikan pengharapn kepada wanita-wanita penderita kanker payudara di seluruh dunia. Di akhir film, saya mendapati jika film ini ternyata adalah benar-benar terjadi. Saya browsing dan membaca banyak artikel tentang herceptin. Saya bersyukur atas penemuan herceptin. Sebagaimana saya, sebagai wanita juga berterima kasih kepada Dr. Slamon telah begitu gigih pada apa yang dia kerjakan.

Film ditutup dengan adegan Dr. Slamon sedang berlari mengelilingi tread mild, seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi sebelum beraktivitas di laboratorium dan rumah sakit. Pada kursi-kursi di tribune, di sana dipenuhi oleh wanita, termasuk diantaranya wanita-wanita yang meninggal saat fase pertama percobaan dilakukan. Semuanya berdiri dan memberikan tepuk tangan penghormatan kepada Dr. Slamon.

Secara pribadi, film ini sangat informatif bagi saya. Sebab, selama ini saya belum sedikitpun memahami dan mengetahui alternatif pengobatan lain, selain kemoterapi. Film yang layak ditonton. Serta patut disebarluaskan, pada mereka, wanita-wanita penderita kanker payudara untuk mendapatkan pengharapan.

Di Indonesia, hak produksi herceptin dimiliki oleh Roche, dan sampai saat ini pengobatan herceptin hanya bisa diperoleh di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Semoga review pertama yang pernah saya tulis ini bermanfaat.[]****

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: