RSS Feed

[cerpen] But Autumn Leaves Start to Fall.

Posted on

repost from multiply Mar 12, ’11 5:34 PM

 

Akhirnya dia memutuskan pergi. Perpisahan yang menyakitkan meskipun dilakukan baik-baik. “Kau yakin, tak lagi mau tinggal? Nanti siapa yang bantu aku benerin komputer?” tanyaku dengan konyolnya waktu itu. “Yes, I have to, soal komputer masih banyak kok yang bisa selain aku.” Speachless, aku tak bisa berkata-kata lagi, kecuali menangis. Diapun terdiam. Kami berdua sama-sama tak berkata apapun di telepon pagi-pagi selepas subuh waktu itu. Hanya isak tangisku yang terus saja sepertinya terdengar semakin rapat. Bahkan diapun tak berani memutuskan suara tangisku pagi itu, berpamitan. Sampai akhirnya aku sendiri yang berkata “Kapalmu berangkat jam berapa?”

“Dua jam lagi,” jawabnya datar. Lama aku terdiam, kemudian, “Aku tutup teleponnya ya, kamu hati-hati.” Dadaku sesak, menahan tangis, menguatkan diri tak hendak mengucapkan sampai jumpa bahkan selamat tinggal.

Sebulan kemudian, datang sebuah amplop besar berisi surat darinya, bukan surat sebenarnya, tetapi catatan perjalanannya selama di kapal, diary-nya. Dikirimkan padaku. Aku membacanya dan kembali menangis. Ternyata kami sama-sama saling menyayangi, tetapi entah kenapa semuanya begitu sulit diwujudkan menjadi sebuah kesatuan. Dia bersamaku. Aku bersamanya. Tak bisa. “Setahun lagi uangku cukup. Maukah kau menikah denganku?” katanya. Aku sangat menyayanginya, ingin bersamanya, tetapi bukan menikah, belum. Aku belum siap saat itu. Sementara, aku tak pernah mengerti itu menyakitinya, hingga aku tahu dia benar-benar pergi dariku, menghilang. Dan tahun-tahun yang berjalan kemudian membuatku semakin merindukannya, tanpa tahu apapun yang bisa kuperbuat. Komputer rusak penyimpan data-datanya, nomer kontak yang tak bisa lagi dihubungi, alamat yang entah, aku kehilangan jejak. Otakku berpikir keras bagaimana menemukannya kembali, sampai mimpi-mimpikupun bertahu-tahun keudian hanya dipenuhi labirin-labirin untuk mencarinya.

Tahun-tahun penantian yang lama dan sekalipun aku tak hendak berpaling. Aku masih mencari, menunggu. Perasaan yang aneh, keinginan yang aneh, dan aku memang aneh. Aku menjadi pribadi yang berbeda, tidak lagi menyukai kesendirian. Itu bagus. Tetapi sama sekali hingar bingar tak mengobati rasa hati yang rindu, sakit ditinggalkan, pengharapan dan perasaan yang semakin sayang. Aku tak pernah lagi menyukai kesendirian, untuk menulis, mendengarkan musik yang sama-sama kami sukai seperti dulu. Sebab, saat-saat seperti itu adalah saat paling menguras tenagaku untuk berlagak kuat meskipun tidak. Aku pasti menangis. Jalanan dari rumah ke kantor, tembok-tembok kamar, ruang komputer di rumah, sudut-sudut gedung kantor dimana aku pasti sendirian, adalah saksi dan penampung air mataku.

Hingga suatu pagi, bekas teman kosku berkabar, dia akan menikah. Maka meledaklah seluruh isi dadaku. Sia-sia. Tak percaya dan entah. Aku mengenangnya, menunggunya kembali, tetapi tidak, tak pernah. Dia tak akan pernah kembali lagi padaku. Sampai beberapa hari kemudian, di sebuah pagi akhir pekan. Sebuah nomor aneh memanggil-manggil dari seberang di handphone-ku. Suara yang begitu kurindu, buncahan bahagia dan senang, tangis dan haru, suaranya. Namun kabar berikutnya membenarkan kabar dari temanku sebelumnya. Aku terpukul, tetapi tak lagi menangis. Entah mataku kering, entah ego, aku tak lagi terisak. Meski hatiku menggerung-gerungkan tangis lantang. Mungkin, penantian yang lama membuatku terlatih menangis hanya pada sepi. Bukan lagi padanya di seberang telepon.

Setelahnya, aku menghitung mundur, hari H miliknya. Aku merindukan tatap matanya yang dalam dan teduh, di balik kaca mata oval berframe biru. Aku merindukan ikatan mawar merah yang selalu berhasil diselipkannya di tempat-tempat rahasia yang hanya aku yang bisa menemukannya. Aku merindukan duduk berdua mencolokkan headset handphone-nya, satu di telingaku, satu di telinganya. Lagu kegemaran kami berdua. Aku merindukan mendebatkan buku-buku sastra dan fotografi, atau mendengarnya mendongengkan tentang formula satu yang sama sekali tak aku pahami. Dan, aku rindu cemburu pada penyanyi-penyanyi baru favoritnya. Malam hari H, aku bermimpi, bertemu dengannya dalam sebuah kereta. Aku menjumpainya masih dengan laptop yang selalu dibawanya. “Akhirnya, kita sampai di sini saja,” ucapku sambil menahan tangis dan hati yang terasa begitu berat. Aku merasa tak lagi kuat berdiri. Dia bangkit dari duduknya, dari laptopnya, menghampiriku dan memelukku erat, erat sekali seolah tak hendak lepas. Air mataku deras, namun tanpa suara. Dan keesokan harinya aku terbangun dengan hati yang terlampau sakit untuk bisa diobati.***

 

 

 

——eon.

lupa nulisnya kapan heuheuheu… :p

 

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: