RSS Feed

[cerpen anak] Tik-Dong Tik-Dong

Posted on

repost from multiply Apr 25, ’11 12:23 PM

Hari minggu adalah hari yang selalu ditunggu Mocil, si marmut kecil yang lucu. Sebab, di hari minggulah ayahnya yang setiap hari sibuk bekerja, pasti mempunyai banyak waktu luang untuk mengajak Mocil dan kakak-kakaknya berjalan-jalan, atau sekedar bermain ayunan di taman kota yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah mereka. Biasanya untuk pergi ke taman kota, Mocil bersama ayahnya dan kakak-kakaknya cukup dengan berjalan kaki, memakai sepatu favorit mereka, dan sepatu Mocil berwarna hijau.

Selama perjalanan menuju taman kota, Mocil senang sekali. Sebab, bisa memperhatikan ayah yang begitu sopan dan ceria memberikan salam pada setiap orang yang mereka jumpai di jalan. Pada akhirnya Mocil tahu, jika bersikap ramah dengan semua orang, termasuk tetangga-tetangga yang mereka jumpai di jalan adalah sangat menyenangkan.

Terkadang mereka, tetangga-tetangga Mocil itu bahkan menawari mereka untuk mampir minum teh dan mencicipi kue yang mereka miliki sambil duduk-duduk bersenda gurau di beranda. Mocil senang sekali bersama ayah dan mengenal semua tetangga-tetangga mereka dengan baik. Namun, ayah tidak selalu menerima ajakan semua tetangga untuk mampir dan mencicipi setiap kue yang ditawarkan tetangga-tetangga mereka itu, sebab Mocil tahu, ayah juga sangat ingin menemani Mocil dan saudara-saudaranya bermain ayunan di taman.

Hari ini, hari minggu, dan seperti biasa, pagi-pagi benar ketika Mocil, ayah, ibu dan kakak-kakaknya sudah mandi, membersihkan diri dan sarapan. Mocil bersiap memakai sepatu hijau kesayangannya lagi. Mocil sudah bisa memakai sepatunya sendiri tanpa dibantu. Demikian juga kakak-kakak Mocil. Tak lama setelah itupun mereka berangkat dan berjalan kaki seperti biasa menuju taman kota untuk bermain ayunan, perusutan, jungkat-jungkit atau bermain kejar-kejaran. Taman kotanya luas, penuh dengan pepohonan rindang, mainan, air mancur dan tentu saja keluarga-keluarga yang juga sedang berlibur. Nanti, setelah lelah bermain, ibu sudah menyiapkan air minum yang segar dan buah-buahan yang lezat untuk mereka.

Sementara, pagi itu mereka masih setengah perjalanan menuju taman kota, tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam yang besar sekali, mendekat ke arah mereka, berbunyi “tik-dong-tik-dong-tik-dong..” dan ketika kaca jendela mobilnya dibuka, ternyata itu adalah mobil baru bapak dan ibu Kelinci yang tinggal di ujung jalan.

“Selamat pagi pak Mung? Pasti hendak ke taman kota seperti biasanya ya?” Tanya pak Kelinci kepada ayah Mocil.

“Ah! Selamat pagi juga pak Kelinci. Ya, benar, bersama anak-anak tentunya” jawab ayah Mocil ramah.

“Wah! Mobil baru rupanya” tambah ayah kemudian.

“Benar. Dan kami berdua hendak mengunjungi air terjun di seberang kota. Maukah kalian semua bergabung bersama kami? Berdua saja sepertinya kurang menyenangkan”

“Bapak dan ibu Kelinci sungguh murah hati, tapi kami khawatir jika nanti malah menggangu” jawab ayah.

“Tentu saja tidak, ayolah bergabung bersama kami. Kalian mau kan anak-anak?”

Namun, Mocil dan saudara-saudaranya tidak langsung dan serta merta begitu saja menjawab pertanyaan pak Kelinci. Menyetujui ajakan pak Kelinci. Mereka memandangi ayah. Meminta ijin pada ayah, untuk dengan senang hati menerima ajakan pak Kelinci.

Melihat itu, tentu saja ayah tertawa. “Baiklah, pak Kelinci, nampaknya anak-anak ingin sekali berkunjung ke tempat baru. Kami bergabung!”

“Horeeeee…….!!” Begitulah teriak mocil dan saudara-saudaranya serempak, ayah dan ibu cukup tersenyum-senyum saja melihat itu. Sementara, bapak dan ibu Kelincipun hampir ikut bersorak-sorak gembira karena akhirnya mereka akan beramai-ramai bertamasya.

Setelah itu dipaculah mobil pak Kelinci menuju air terjun di seberang kota. Selama perjalanan. Mocil dan saudara-saudaranya sungguh takjub dengan pemandangan gunung, sawah, pepohonan yang tentu saja semuanya baru bagi mereka. Tetapi lebih aneh lagi ketika setiap kali mobil hendak berbelok, Mocil selalu mendengar bunyi-bunyi lucu dari mobil yang mereka tumpangi. Mocil tentu saja tak tahu dari mana asalnya bunyi-bunyi itu.

Begitu seterusnya. Setiap mobil pak Kelinci hendak berbelok lagi, selalu ada bunyi itu. Mocil diam, dengan seksama, waspada, sangat waspada dia mendengarkan, mengamati apa yang sedang didengarnya. Kemudian Mocil melihat ada lampu kecil di bawah kemudi pak Kelinci berwarna hijau berkedi-kedip.

“Ayah, itu bunyi apa? Dan lampu apa itu?” tunjuk Mocil pada lampu kedip itu, tepat ketika pak Kelinci hendak berbelok sekali lagi.

“Ah! Itu namanya lampu tanda, dan bunyi itu, adalah bunyi lampunya” jawab ayah.

“Oh..Mocil tahu, lampu itu selalu dinyalakan pak Kelinci ketika hendak berbelok”

“Benar. Supaya kendaraan yang ada di depan atau di belakang kita tahu hendak kemana kendaraan kita akan dilajukan. Selain, supaya kendaraan lain itu, tidak mendahului kita di sisi yang salah” jawab ayah menjelaskan.

Mocilpun mengerti, dan sekarang dia tak perlu khawatir lagi pada bunyi itu. Setiap kali pak Kelinci hendak berbelok, akhirny Mocil selalu menirukan bunyinya dengan lantang.

“Tik-dong-tik-dong-tik-dong….!”

Seluruh penumpang mobilpun tertawa mendengarkan suara tiruan Mocil itu. Sungguh perjalanan yang menyenangkan! []****

 

 

 

———eon.
bwi.31032011.

cerita ini bisa juga di download gratis dalam bentuk podcast (mp3) di Indonesia Bercerita (klik di sini)

 

 

About dkaekas

Hamba nan faqir yang mengharap sebaik-baik takdir; keridhoan Robbul'alamin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: