RSS Feed

[curcol] Wu Xing

Posted on
setelah ngedumel berulang kali, “aku itu gak ngerti apa yang dibahas bunda dengan orang-orang tadi, rasanya kepalaku pusing!”
.
mendengarnya ngomong begitu, aku jadi geli sendiri.
“iya, nanti kalau sudah besar, lalu mau belajar ini, nanti kamu juga akan ngerti, in syaa Allah.”
.
pagi ini, buku pelajarannya ketinggalan
turun dari kendaraan, berlari cepat-cepat ke pintu kelas, lalu balik lagi berlari kencang menujuku
.
“bunda, bukuku ketinggalan!”
“tadi sudah diperiksakan?! kalau cuma diktat, nanti nebeng teman aja. balik lagi ke sini kan jauh, rin.”
“aduh, tapi bukunya harus dikumpulkan hari ini. tolong ya, jam 9 bunda balik ke sini lagi bawakan bukuku.” bicaranya cepat-cepat sambil ngos-ngosan
“bunda, jawab, cepetan…?!”
“iyalah, nanti bunda pikirkan.cepat masuk kelas. sudah terlambat tuh!”
“bukumu di sebelah mana?”
“di atas meja belajar!” teriaknya sambil berlari kembali menuju pintu kelasnya, cepat-cepat.
.
sampai rumah. memeriksa mejanya dan buka-buka bukunya.
kontan aku tertawa. yang awalnya dia mengeluh pusing mendengarnya, ternyata dia mencatat! hihihihi…
amazing!
maasyaa Allah. mirip sama aslinya kok hihihi…..
WhatsApp Image 2017-06-13 at 09.31.37

coretan Karin

Hasil gambar untuk titik akupuntur cin yung su cing he

teori Wu Xing . sumber gambar : adikupuntur(dot)blogspot

Damaiku, kupu-kupu…

Posted on

Hasil gambar untuk white butterflies

Pagi yang indah di pekarangan belakang rumah. Segar udara sehabis hujan dan mentari yang masih enggan dan malu-malu bertandang. Semburat kuning keemasan yang hangat. Sebentar lagi pasti kita saksikan pelangi mencipta dirinya melengkung dibalik rerimbunan semak perdu yang diam-diam menyimpan embun. Lalu, setiap embun itu pasti akan pecah juga menjadi pelangi kecil-kecil untuk mata kita yang jeli-jeli berjongkok mengintip menyapa dengan senyum. Embun yang membutir di pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring.

Pagi yang merdu, dengan cericip burung-burung perdu. Nyanyian prenjak dan celoteh bondol. Kepak-kepak sayap burung gereja dan dengkur kipasan yang melompat-lompat diantara dahan. Derik tenggerek dan lengking cipoh yang menyayat merdu, melahirkan rasa rindu geli yang ajaib, jauh di puncak-puncak pohon tinggi. Lalu apalagi? Ah… suara gemericik air di sungai kecil yang ada diantara kejauhan perdu-perdu ini, masuk diantara pekarangan belakang dan tepian hutan.

Pagi yang damai dengan kakiku yang telanjang membelai tanah basah, jalanan yang becek selepas guyur hujan semalam. Membuatku melupakan segala penatku, masalahku antara uang dan waktu, antara ambisi dan nafsu, antara cita-cita dan mimpi, juga antara kita yang selalu berjauh-jauhan dan bertengkar.

Tidak! Kulupakan saja itu semua sekarang. Sebelum segar udara pagi ini menguap dan mentari semakin kejam menyengat. Kaki telanjangku dingin, menikmati lembut lempung tanah berair. Betapa nyaman. Menyaksikan daun-daun kecil mengangguk-angguk. Hendak membelaikukah? Ah…aku begitu damai dan terbitlah senyumku yang tulus.

Lalu ketika aku melaju mengayun kaki semakin jauh menuju tepian hutan. Aku mendapati segerombol kupu-kupu putih cantik hinggap di bebatuan di tengah jalan. Sedang apakah mereka? Berkerumun pada batu-batu kecil disekitar kubangan air keruh. Hati damaiku melonjak, berjingkrak serta merta ingin menjelma kupu-kupu. Berkumpul bersama kawan-kawan dan keluarga, sahabat-sahabat dan kekasih. Bersama tertawa, terkikik, berdendang membicarakan kubangan keruh dan batu dingin tempat aku hinggap bersama mereka.

Kupu-kupu kecil putih yang jernih, betapa membuat kuning keemasan warna udara menjadi lebih terang namun tak menyilaukan. Betapa aku ingin bersama mereka. Maka, segera aku berlari. Berlari menuju batu tempat mereka hinggap. Jalan licin yang becek ini membuat kakiku selip, dan aku terpeleset jatuh berdebam.
”Tuhan…!” teriakku, entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Lalu, kulihat kerumunan kupu-kupu itu berhamburan. Jatuh debamku beresonansi, menggetarkan udara, mengalirkan energi besar mengusik dingin udara, menggemparkan kerumunan kupu-kupu putih mungil yang tak jauh dari mataku. Mereka terbang menjauh.

”Tunggu aku..!” pekikku, sekali lagi entah dalam hati, entah lantang dari mulutku. Aku bangkit, berdiri, berlumpur. ”Tunggu aku…”

Mereka mendengarkah? Atau tak peduli lagi dengan gelombang udara yang tiba-tiba berubah? Sekarang mereka hinggap lagi. Tenang. Berkerumun. Begitu indah gemerlap tertimpa cahaya mentari keemasan mengurai pelangi baru lagi.

Berkerumun di tempat yang sama ketika pertama kali aku melihat mereka. Sekarang aku tak berlari, kakiku nyeri. Namun, aku mengendap, mengangkat kaki perlahan yang seharusnya kuseret sebab sakit. Semoga kupu-kupu itu tak hirau hadirku mendekat.

Tepat ketika sampai di dekat mereka, aku melompat diantara batu-batu kecil tempat mereka hinggap dan kubangan-kubangan keruh.
”Horeee…!!!” teriakku lantang dari mulutku sekarang. Aku tahu. Dan mereka, kupu-kupu putih kecil itu semburat, menghambur terbang berkeliling diantara tinggi rendah tubuhku. Mereka tak pergi, tapi di sekitarku. Putih mungil. Kecil-kecil.

Aku menari berputar-putar. Melompat ke kanan kiri menghentaki bumi becek di bawahku. Aku bahagia. Aku damai. Menjadi kupu-kupu. Terus, aku menari. Terus. Terus. Terus. Hingga mentari meninggi, embun-embun singkap dari pucuk-pucuk daun, rerumputan dan dahan-dahan miring. Hingga pelangi pudar kikis dan kicau burung-burung perdu merendah lalu satu-persatu kupu-kupu putih mungil itu terbang menjauh.
Aku lelah dan aku rindu.

Nightingale just sing you a song
10012010.1534

[sajak] tahun baru, katamu.

Posted on

Langit meledak
iya, mungkin diledakkan
iya, mungkin dibakar
atau dipalupalu
ditendangtendang
dihantam
ditikam nyala api dan gelegar buatan
mungkin diguyur
iya, diguyur ludahludah
sumpah serapah
makianmakian
gelak tawa hambar
yang dikira kesenangan
surga surga dunia
lupa
bintangbintang tak bertali gantung bisa jatuh meluncur
lupa
langit tak berpasak bisa runtuh hancur
lupa
kolong dunia mana pun tak luput dari susuran lumpur
lupa
bumi terpijak bisa hancur lebur
lupa
diri ini bisa terlambat sadar menyungkur atas ampun.

Belajar itu, tak boleh berhenti.

Posted on

image

Buku bulan Agustus, ditambah e-book reksadana dan bisnis online.
Well, skip manyun dan ngelamunnya, ya?!
Sambil jalankan toko Haya’ Store dan tetap nge-ODOJ. 🙂

Tidak Ada yang Bisa Mencegah Bencana kecuali Allah

Posted on

10409277_775789575806791_8271651169512422954_n

Dari Abdullah bin Abbas Ra., beliau berkata, “Pernah saya berada di belakang Nabi Saw., lalu beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu; dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR Tirmizi, Hasan Sahih)

Demikian itu menjelaskan firman Allah,
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al An’aam : 17)

Allah Swt., menegaskan kembali kekuasaanNya, tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudharatan yang ditimpakan Allah kepada seseorang, kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan, dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia, baik lahir maupun batin. Maka, bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun, atau pelindung lainnya selain Allah yang acapkali dipandang oleh orang musyrik yang dapat menghilangkan kemudharatan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan, baik lahir maupun batin.

Allah berkuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendakiNya.

Nabi Muhammad Saw., setiap habis shalat lima waktu membaca doa, “Yaa Allah, tak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi yang Engkau cegah, dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendakMu.” (HR Bukhari)

Ayat ini (Al An’aam : 17) menunjukkan pula bahwa setiap manusia, baik yang menginginkan kebaikan maupun yang menghindari kemudharatan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah Swt., semata dengan cara berusaha mengikuti sunnahNya yang berlaku di alam ini dengan berdoa sepenuhnya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al An’aam : 18)

Sumber:
Penjelasan ayat Al-An’aam :17 dari Al Qur’anulkariim spesial for muslimah, seri Bilqis Cordoba.
Tafsir oleh Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, jilid 7-8, 1998:157.

Semoga manfaat.

———————————-eon.

27 Ramadhan 1435 H, Shelter 8

Ditulis ulang oleh Dini Kaeka Sarii.

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

Posted on

IMG-20140422-WA0000

 

Sebelum tahun 2012, aku biasa mentargetkan diri untuk mengkhatamkan Al Qur’an 3 (tiga) sampai 4 (empat) kali saja dalam setahun. Angka yang kecil memang, namun terasa susyaaaaahhh bingiiiiitttss! (alay detected :p)

Tahun 2012, kemudian, meresolusi diri dengan mentargetkan khatam 6 (enam) kali dalam setahun. Angka yang lumayan dari sebelumnya. Tapi sodaraaa… ini juga rasanya ngos-ngosan!!! Dengan kalkulasi waktu dalam dua bulan bisa sekali khatam. Tapi Yaa Salaam, seringnya kejar tanyang saat deadline. hihihi… jadi tidak sekedar setor naskah aja yang ada deadlinenya, sekali dalam dua bulan pun aku kebut-kebutan. *malu ah! tutupin muka pake celemek*

Hampir dipenghujung tahun 2012 waktu itu, sesekali ada status-status facebook seorang teman selalu bercerita tentang serunya berkelompok mengerjakan One Day One Juz. Iya, saya sebut saja, status pak Epri Tsaqib waktu itu. Sesekali buka facebook, selalu yang terlihat status-status beliau. Selang beberapa hari kemudian, Bu Nia Lestari, salah satu narasumber yang sering kuundang mengisi taklim di rumah, berkirim gambar poster ajakan bergabung dalam kelompok One Day One Juz.

Allahu Akbar!

Allahu Akbar!!

Betapa cinta Allah itu dekat, tanpa ragu, aku pun langsung bergabung, dan kembali menelusuri timeline pak Epri Tsaqib untuk memastikan, inilah yang juga sedang beliau kerjakan. Selang beberapa jam, masuklah aku di grup ODOJer 150, tanpa kesulitan. Sementara Bu Nia, masih kesulitan mencari link-link pendaftaran. Saat, itu kami berdua antusias sekali saling pantau. Akhirnya, Bu Nia pun masuklah di grup ODOJer 130. Saat itu kami berdua mengobrol lewat Whastapps, tapi rasanya, saat sukses masing-masing kami telah mendapatkan grup, tangan kami berdua di atas udara saling toss, mengobarkan semangat. Berangkat dari situlah, kemudian aku, dan bu Nia langsung menyebar-sebarkan poster ODOJ ke sebagian besar kontak-kontak di dalam HP kami masing-masing.

Allahu Akbar!! Semangat itu kian menyala-nyala, saat bepergian ke sana sini, semakin banyak menjumpai orang-orang duduk tenang di antara kerumunan, membuka mushaf dan membacanya. Subhanallah…!

Di akhir tahun 2013, dalam sebulan ternyata, membuatku berhasil mengkhatamkan Al Qur’an. Sekarang sudang memasuki bulan kelima. Silih berganti anggota grup keluar masuk, namun Alhamdulillah Allah menjagaku tetap di dalamnya. Bersama kawan-kawan dari berbagai daerah yang tidak saling kenal namun memiliki misi yang sama: Berlomba-lomba menarik RahmatNya.

Banyak cerita di dalam grup, sampai menginjak bulan kelima ini, aku menyaksikan mujahid-mujahadah baru lahir dari rahim-rahim saudari-saudariku dalam grup. Kami tak saling kenal, namun semangat kami menyatukan hati kami, doa-doa kami dan semangat kami.

Di luar sana, yang kuketahui, banyak sekali kawan-kawan yang ingin bergabung, namun keterbatasan-keterbatasan masih menghalangi. Semoga Allah memudahkan.

Dengan bergabung di grup One Day One Juz ini, aku optimis, sejak menginjak tahun 2014 ini, dalam setahun, minimal aku akan mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 12 (dua belas) kali. Angka yang fantastis dari angka sebelumnya; 3 (tiga). Dan bisa jadi lebihdari 12 kali jika aku rajin mengambil jatah tilawah teman-teman yang sedang mengalami uzur, mengambil lelang istilahnya.
Benar-benar resolusi yang fantastis, subhanallah.
Semoga Allah menjadikanku istiqomah dengan mentargetkan diri One Day One Juz ini. Meski ada suara sumbang yang ditujukan padaku, apalah artinya jika ridho Allah lah yang dicita-citakan.
“Membaca Al Qur’an itu bukan ritual, tapi pemahaman!” begitu ada yang mengatakan padaku.
“Iya, benar sekali, membaca Al Qur’an itu bukan ritual, tapi bagiku, itu kebutuhan,” demikian kujawab dengan lembut.
Membaca Al Qur’an bagitu semakin terasa dampaknya setelah berkomitmen bersama kawan-kawan One Day One Juz, kesempitan terasa lapang, kesakitan terasa nikmat, kesusahan terasa mudah bertemu kelegaan, masalah berat terasa begitu saja terselesaikan dengan indahnya, kawan-kawan shalih semakin banyak di sekitarku, kesempatan-kesempatan baru alangkah terang terlihat di depan, kesalahan-keburukan orang-orang begitu terasa mudah untuk memaafkan, dan entah ribuan nikmat apa lagi yang tak mampu kuhitung telah Allah tunjukkan.
Allahu Akbar!!
Allahu Akbar!!

Image

Semakin bertambah hari, semakin banyak orang-orang yang bergabung dalam komunitas One Day One Juz, termasuk suamiku yang dirahmati Allah, semuanya bergerak bersama mewujudkan cita-cita bangsa, negara yang lebih baik, dengan orang-orang yang berotikad baik bersatu di dalamnya.

Jika membaca satu huruf saja dalam Al Qur’an Allah membalasnya dengan sepuluh kebaikan bahkan lebih, aku yakin, saudara-saudari yang bergabung di dalam grup ini pasti tidak hanya meniatkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri.
Jika satu huruf itu dibalas Allah dengan satu saja kebaikan, aku yakin, kebaikan itu pasti disedekahkan untuk negeri yang aman damai sentosa, terhindar dari azab (bencana negeri) yang menyusahkan. Disedekahkan untuk anak-anak bangsa, agar kelak bangsa ini memiliki pemuda-pemuda yang tangguh, mampu memimpin negara, menggerakkan setiap orang di dalamnya bersinergi mewujudkan negeri yang makmur.
Impian yang dimiliki setiap warga negara Indonesia. Maka memulainya dengan One Day One Juz, adalah langkah besar, sangat besar menurutku.

Allah Yaa Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberikan rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. (QS Al A’raf: 23)

Komunitas One Day One Juz ini akan menggelar Grand Lounching tanggal 4 Mei 2014 nanti di masjid Istiqlal. Yang seluruh pendanaannya berasal dari kawan-kawan yang bergabung dalam komunitas ini. Mari merapatkan barisan. Mari bergabung mewujudkan Indonesia yang tentram damai, dalam gerakan Indonesia Mengaji.

Keridhoan Allah pada bangsa ini lah yang bersama kita inginkan.
Allahu Akbar!!
Allahu Akbar!!

Bagi kawan-kawan yang ingin bergabung, yuk langsung daftar saja! ^^

di sini fanpage One Day One Juz

sumber gambar: fanpage One Day One Juz

sumber gambar: fanpage One Day One Juz

image

 

 

 

 

————————eon

shelther7.14april2014

owner Haya’ Store

%d bloggers like this: