RSS Feed

[sajak] tahun baru, katamu.

Posted on

Langit meledak
iya, mungkin diledakkan
iya, mungkin dibakar
atau dipalupalu
ditendangtendang
dihantam
ditikam nyala api dan gelegar buatan
mungkin diguyur
iya, diguyur ludahludah
sumpah serapah
makianmakian
gelak tawa hambar
yang dikira kesenangan
surga surga dunia
lupa
bintangbintang tak bertali gantung bisa jatuh meluncur
lupa
langit tak berpasak bisa runtuh hancur
lupa
kolong dunia mana pun tak luput dari susuran lumpur
lupa
bumi terpijak bisa hancur lebur
lupa
diri ini bisa terlambat sadar menyungkur atas ampun.

Belajar itu, tak boleh berhenti.

Posted on

image

Buku bulan Agustus, ditambah e-book reksadana dan bisnis online.
Well, skip manyun dan ngelamunnya, ya?!
Sambil jalankan toko Haya’ Store dan tetap nge-ODOJ.🙂

Tidak Ada yang Bisa Mencegah Bencana kecuali Allah

Posted on

10409277_775789575806791_8271651169512422954_n

Dari Abdullah bin Abbas Ra., beliau berkata, “Pernah saya berada di belakang Nabi Saw., lalu beliau bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu; dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR Tirmizi, Hasan Sahih)

Demikian itu menjelaskan firman Allah,
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al An’aam : 17)

Allah Swt., menegaskan kembali kekuasaanNya, tidak ada seorang pun yang dapat melenyapkan suatu kemudharatan yang ditimpakan Allah kepada seseorang, kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan, dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia, baik lahir maupun batin. Maka, bukanlah berhala-berhala, dukun-dukun, atau pelindung lainnya selain Allah yang acapkali dipandang oleh orang musyrik yang dapat menghilangkan kemudharatan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan, baik lahir maupun batin.

Allah berkuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendakiNya.

Nabi Muhammad Saw., setiap habis shalat lima waktu membaca doa, “Yaa Allah, tak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan, tak ada yang memberi yang Engkau cegah, dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendakMu.” (HR Bukhari)

Ayat ini (Al An’aam : 17) menunjukkan pula bahwa setiap manusia, baik yang menginginkan kebaikan maupun yang menghindari kemudharatan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah Swt., semata dengan cara berusaha mengikuti sunnahNya yang berlaku di alam ini dengan berdoa sepenuhnya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya.

“Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al An’aam : 18)

Sumber:
Penjelasan ayat Al-An’aam :17 dari Al Qur’anulkariim spesial for muslimah, seri Bilqis Cordoba.
Tafsir oleh Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, jilid 7-8, 1998:157.

Semoga manfaat.

———————————-eon.

27 Ramadhan 1435 H, Shelter 8

Ditulis ulang oleh Dini Kaeka Sarii.

[curcol] selalu salah menyebutnya, bagong!

Posted on

Bagong, namanya, begituuu-begituuuuu saja aku mengingatnya. Tapi saat menyadari itu salah aku lantas tersenyum-senyum sendiri kegelian.

Tidak selang lama setelah salah seorang teman yang minta dibantu untuk mempromosikan produk rumahannya yang baru, suamiku mengirimkan sebuah foto gorengan yang disanding dengan sambal kecap. Kata beliau, mirip produk temanku itu. Namun karena perbedaan daerah, makanan yang berbahan dasar HAMPIR sama ini pun memiliki nama yang berbeda. Produk temanku itu bernama Cireng, sedang foto makanan yang dikirimkan suamiku bernama…. Ah. Lupa. Baiklah kita sebut dulu; Bagong. Hihihihi

 

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Bonggol disajikan dengan sambal kecap.

Suamiku bercerita, makanan itu digulung dengan daun pisang sebelum disajikan. Mirip Cireng rasanya, tapi orang-orang daerah sini memakannya dengan sambal kecap saja. Beliau juga bercerita, pramubakti yang bekerja di kantor yang membuatkannya.

Sebab penasaran, kemudian aku meminta beliau untuk memesan Bagong lagi untuk dibawa pulang, saat weekend.

Tibalah weekend, beliau pun membawa pulang dua bungkus gulungan daun pisang yang lumayan besar.
“Pesanan Bunda, niy. Tadi mau dapat gratisan.”
“Heh?! Bayarlah, Bi. Masa minta gratis?”
“Sudah kubayar, meski dengan memaksa. Orangnya tulus mau ngasih. Tapi akhirnya mau menerima. Murah kok, sepuluh ribu untuk dua gulungan besar ini.”

Iya. Memang murah sekali. Dan, alhamdulillah makanan itu dibuat dengan ketulusan. ^^
Dibuat jika ada yang memesan saja, termasuk makanan tradisional yang benar-benar langka. Bahkan, aku sendiri yang tumbuh di dekat daerah itu, baru kali ini mengetahui ada jenis makanan ini. Bayangkan saja! :O

Kebetulan weekend waktu itu kedatangan bapak dan ibu mertua. Jadi, rumahku cukup ramai, ada bala bantuan untuk membantuku menghabiskan makanan itu. Yeayy!! :p

Sebab baru beberapa hari lalu aku meracik bumbu pecel sendiri. Maka makanan itu tidak kusajikan dengan sambal kecap melainkan dengan sambal pecel yang sangat pedasss! Hmmm…drooling-lah sudah mengingat waktu itu hehehe.

Weekend berlalu. Bapak dan ibu mertua telah pulang kembali. Begitu pun dengan suami juga kembali ke tempat kos di dekat kantor barunya. Rumah pun sepi. Tapi sebab makanan itu masih banyak maka aku harus berinovasi lagi untuk membuatnya tidak melulu begitu-begitu saja disajikan, tetap enak dinikmati. Secara, ya, dua gulungan besar! hehe

Muncul ide berikutnya. Aku hendak menyandingkannya dengan cuko yang biasa disajikan dengn pempek Palembang.

Makanan itu kemudian kukukus, mengiris-irisnya, lalu menggorengnya dan menyajikannya persis dengan penyajian pempek. Kali ini tetangga sebelah rumah yang kupanggil untuk membantuku menghabiskannya. Hihihi

Slluuuurrrrppppp! Ah, jadi droooliiiingg lagi mengingatnya! :p

Nama sebenarnya bukan bagong, tapi BONGGOL. Bonggol dalam bahasa keseharian di daerah tempat aku dibesarkan bermakna, pangkal pohon atau bagian bawah tumbuhan yang membesar yang bisa juga berupa umbi.

Menilik maknanya, kupikir memang sesuai dengan kontur bangunnya. Besar seperti bonggol pohon, baru ketika hendak dimasak, diiris-iris terlebih dahulu.

 

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Dua Gulungan Besar Bonggol Siap Dimasak

Bahannya tidak melulu dari tepung aci/kanji seperti bahan cireng (*sotoy mode on), namun terasa dan tercium benar aroma tepung ikan dengan bumbu bawang putih. Lebih mirip seperti pempek, namun bertekstur lebih padat. Aaahh, bercerita tentang makanan ini membuatku sangat excited. Berpikir, akan ada ide apalagi untuk menghidangkannya selain dengan sambal kecap, sambal pecel dan cuko.

Woiilaa! I’m truly drooling now! Hihihi :p

 

 

 

 

 

 

 

—–+++++++eon
Shelter7.27052014:1356
Mau tahu cireng buatan temanku? Klik di sini CIRENG KABITA

Posted on

IMG-20140422-WA0000

 

Sebelum tahun 2012, aku biasa mentargetkan diri untuk mengkhatamkan Al Qur’an 3 (tiga) sampai 4 (empat) kali saja dalam setahun. Angka yang kecil memang, namun terasa susyaaaaahhh bingiiiiitttss! (alay detected :p)

Tahun 2012, kemudian, meresolusi diri dengan mentargetkan khatam 6 (enam) kali dalam setahun. Angka yang lumayan dari sebelumnya. Tapi sodaraaa… ini juga rasanya ngos-ngosan!!! Dengan kalkulasi waktu dalam dua bulan bisa sekali khatam. Tapi Yaa Salaam, seringnya kejar tanyang saat deadline. hihihi… jadi tidak sekedar setor naskah aja yang ada deadlinenya, sekali dalam dua bulan pun aku kebut-kebutan. *malu ah! tutupin muka pake celemek*

Hampir dipenghujung tahun 2012 waktu itu, sesekali ada status-status facebook seorang teman selalu bercerita tentang serunya berkelompok mengerjakan One Day One Juz. Iya, saya sebut saja, status pak Epri Tsaqib waktu itu. Sesekali buka facebook, selalu yang terlihat status-status beliau. Selang beberapa hari kemudian, Bu Nia Lestari, salah satu narasumber yang sering kuundang mengisi taklim di rumah, berkirim gambar poster ajakan bergabung dalam kelompok One Day One Juz.

Allahu Akbar!

Allahu Akbar!!

Betapa cinta Allah itu dekat, tanpa ragu, aku pun langsung bergabung, dan kembali menelusuri timeline pak Epri Tsaqib untuk memastikan, inilah yang juga sedang beliau kerjakan. Selang beberapa jam, masuklah aku di grup ODOJer 150, tanpa kesulitan. Sementara Bu Nia, masih kesulitan mencari link-link pendaftaran. Saat, itu kami berdua antusias sekali saling pantau. Akhirnya, Bu Nia pun masuklah di grup ODOJer 130. Saat itu kami berdua mengobrol lewat Whastapps, tapi rasanya, saat sukses masing-masing kami telah mendapatkan grup, tangan kami berdua di atas udara saling toss, mengobarkan semangat. Berangkat dari situlah, kemudian aku, dan bu Nia langsung menyebar-sebarkan poster ODOJ ke sebagian besar kontak-kontak di dalam HP kami masing-masing.

Allahu Akbar!! Semangat itu kian menyala-nyala, saat bepergian ke sana sini, semakin banyak menjumpai orang-orang duduk tenang di antara kerumunan, membuka mushaf dan membacanya. Subhanallah…!

Di akhir tahun 2013, dalam sebulan ternyata, membuatku berhasil mengkhatamkan Al Qur’an. Sekarang sudang memasuki bulan kelima. Silih berganti anggota grup keluar masuk, namun Alhamdulillah Allah menjagaku tetap di dalamnya. Bersama kawan-kawan dari berbagai daerah yang tidak saling kenal namun memiliki misi yang sama: Berlomba-lomba menarik RahmatNya.

Banyak cerita di dalam grup, sampai menginjak bulan kelima ini, aku menyaksikan mujahid-mujahadah baru lahir dari rahim-rahim saudari-saudariku dalam grup. Kami tak saling kenal, namun semangat kami menyatukan hati kami, doa-doa kami dan semangat kami.

Di luar sana, yang kuketahui, banyak sekali kawan-kawan yang ingin bergabung, namun keterbatasan-keterbatasan masih menghalangi. Semoga Allah memudahkan.

Dengan bergabung di grup One Day One Juz ini, aku optimis, sejak menginjak tahun 2014 ini, dalam setahun, minimal aku akan mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 12 (dua belas) kali. Angka yang fantastis dari angka sebelumnya; 3 (tiga). Dan bisa jadi lebihdari 12 kali jika aku rajin mengambil jatah tilawah teman-teman yang sedang mengalami uzur, mengambil lelang istilahnya.
Benar-benar resolusi yang fantastis, subhanallah.
Semoga Allah menjadikanku istiqomah dengan mentargetkan diri One Day One Juz ini. Meski ada suara sumbang yang ditujukan padaku, apalah artinya jika ridho Allah lah yang dicita-citakan.
“Membaca Al Qur’an itu bukan ritual, tapi pemahaman!” begitu ada yang mengatakan padaku.
“Iya, benar sekali, membaca Al Qur’an itu bukan ritual, tapi bagiku, itu kebutuhan,” demikian kujawab dengan lembut.
Membaca Al Qur’an bagitu semakin terasa dampaknya setelah berkomitmen bersama kawan-kawan One Day One Juz, kesempitan terasa lapang, kesakitan terasa nikmat, kesusahan terasa mudah bertemu kelegaan, masalah berat terasa begitu saja terselesaikan dengan indahnya, kawan-kawan shalih semakin banyak di sekitarku, kesempatan-kesempatan baru alangkah terang terlihat di depan, kesalahan-keburukan orang-orang begitu terasa mudah untuk memaafkan, dan entah ribuan nikmat apa lagi yang tak mampu kuhitung telah Allah tunjukkan.
Allahu Akbar!!
Allahu Akbar!!

Image

Semakin bertambah hari, semakin banyak orang-orang yang bergabung dalam komunitas One Day One Juz, termasuk suamiku yang dirahmati Allah, semuanya bergerak bersama mewujudkan cita-cita bangsa, negara yang lebih baik, dengan orang-orang yang berotikad baik bersatu di dalamnya.

Jika membaca satu huruf saja dalam Al Qur’an Allah membalasnya dengan sepuluh kebaikan bahkan lebih, aku yakin, saudara-saudari yang bergabung di dalam grup ini pasti tidak hanya meniatkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri.
Jika satu huruf itu dibalas Allah dengan satu saja kebaikan, aku yakin, kebaikan itu pasti disedekahkan untuk negeri yang aman damai sentosa, terhindar dari azab (bencana negeri) yang menyusahkan. Disedekahkan untuk anak-anak bangsa, agar kelak bangsa ini memiliki pemuda-pemuda yang tangguh, mampu memimpin negara, menggerakkan setiap orang di dalamnya bersinergi mewujudkan negeri yang makmur.
Impian yang dimiliki setiap warga negara Indonesia. Maka memulainya dengan One Day One Juz, adalah langkah besar, sangat besar menurutku.

Allah Yaa Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberikan rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. (QS Al A’raf: 23)

Komunitas One Day One Juz ini akan menggelar Grand Lounching tanggal 4 Mei 2014 nanti di masjid Istiqlal. Yang seluruh pendanaannya berasal dari kawan-kawan yang bergabung dalam komunitas ini. Mari merapatkan barisan. Mari bergabung mewujudkan Indonesia yang tentram damai, dalam gerakan Indonesia Mengaji.

Keridhoan Allah pada bangsa ini lah yang bersama kita inginkan.
Allahu Akbar!!
Allahu Akbar!!

Bagi kawan-kawan yang ingin bergabung, yuk langsung daftar saja! ^^

di sini fanpage One Day One Juz

sumber gambar: fanpage One Day One Juz

sumber gambar: fanpage One Day One Juz

image

 

 

 

 

————————eon

shelther7.14april2014

owner Haya’ Store

Untuk Siapa Ucapan ‘Selamat Hari Pendidikan Nasional’?

Posted on

Terlalu sering dan banyak melihat kesusahan dan kesedihan orang lain sering kali membuat kita juga lupa bagaimana tertawa tergelak lepas, sementara nurani menyadari apa-apa yang terjadi pada orang lain adalah juga tanggung jawab diri, menjadi media (penyampai) rahmat Allah yang telah tergaris dalam Al Qur’an yang sempurna.
Terbentukknya masyarakat rabbani, anak-anak shalih yang jelas terjaga akhlak dan terjaga keamanannya, dari sistem pendidikan yang tidak kondusif, dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif, dari sistem pemerintahan yang tidak kondusif pula.
Kesadaran diri untuk memahami, bahwa sistem tidak bisa diubah dengan hanya menuntut sistem namun menawarkan solusi, bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan visi dan misi yang sama; meng-edukasi bangsa, adalah poin crusial yang jelas harus dikerjakan setiap individu sesuai dengan perannya masing-masing.
Diri mendidik diri
Orang tua mendidik anak
Kepala keluarga mendidik keluarga
Suami dan istri yang saling bertukar ilmu
Dan begitu seterusnya setiap individu mesti mengaktivasi perannya masing-masing, sebagai mertua, menantu, anak, guru, karyawan, pekerja kasar, penjual di pasar, dan seterusnya,
Yang tidak lepas dari “user human manual” apa itu? Al Qur’anul Kariim

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Bagi seluruh bangsa Indonesia. Kesetaraan mendapatkan informasi di era digital ini harusnya memberikan kemampuan kepada kita semakin tawadu’ sebab menyaksikan bahwa tidak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya, tidak ada batasan umur, tidak pula ada batasan gender, atau bahkan tidak ada batasan predikat atas pekerjaan yang kita sandang. Semuanya sama dalam setiap lapisan masyarakat; bertanggung jawab atas pendidikan bangsa yang lebih baik.

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Sekali lagi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan meluruskan jalan kita. Aamiin

———–eon.
Taman Simpang Lima Gumul,0830.02052014

[curhat] Miris dengan Boardcast tentang Puasa Rajab

Posted on

A’udzubillahiminasy syaitonirrojim. Bismillah..

sumber gambar: internet

sumber gambar: internet

28 April 2014, hari ini adalah kali kesekian aku menerima boradcast bertuliskan begini:

Bulan Rajab jatuh pada tgl 30 April
*Barang siapa yg berpuasa 1hari maka seperti laksana puasa 1tahun,
*Barang siapa yg berpuasa 7hari maka di tutup pintu2 Neraka Jahanam.
*Barang siapa yg berpuasa 8hari maka di buka pintu 8 Surga. *Barang siapa yg berpuasa 10hr maka akan di kabulkan segala perminta’anya
*Barang siapa yg mengingatkn kpd org lain ttg ini,Seakan ibadah 80th Amien…
Insya Allah… ”Subhanallah”

seorang muslim mestinya cerdas, minimal jika tidak mengerti, mari bertanya lebih dahulu kepada alim ulama tentang benar tidaknya perintah berpuasa sunnah di bulan Rajab itu. Sementara ada riwayat yang menerangkan dengan jelas tentang bulan Sya’ban yang shahih sering kita dengar,

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menceritakan: “Aku tidak melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadist ini shahih dan begitu masyur, dari hadist itu saja mestinya sebagai muslim yang mencitai Rasulullah, beliau yang begitu sempurnanya dijaga dan dicintai Allah SWT, panutan dan teladan kita, jelas sekali, tidak berpuasa lebih banyak di bulan-bulan lain selain Sya’ban dan Ramadhan. Lalu, apakah kita lantas mau percaya dengan boardcast itu? Sebab ingin mendapatkan pahala yang berlimpah, namun tidak mencontoh Rasul?

Semoga Allah selalu menunjukkan kita dalam kebenaran.

Boardcast di atas jelas sangat mengusikku. sehingga lantas kubuka literatur yang memang jelas memerintahkan puasa sunnah di bulan Rajab. Hasilnya?

Aku malah menjumpai tulisan berjudul “Waktu-waktu Dimakruhkannya Berpuasa”

mengejutkan, sebab point pertama adalah “Mengkhususkan Bulan Rajab Untuk Berpuasa”

waktu lain yang makruh berpuasa adalah, berpuasa pada hari Jumat saja, berpuasa pada hari sabtu saja, berpuasa pada hari yang diragukan, berpuasa khusus pada tahun baru dan hari besar orang kafir, puasa wishal, puasa dahr, puasa(sunnah)nya seorang istri tanpa seijin suami, dan puasa di dua hari terakhir di bulan Sya’ban.

Lantas, apa sebab puasa sunnah di bulan Rajab dimakruhkan, disarankan lebih baik untuk tidak dikerjakan?

Begini potongan penjelasan yang saya dapatkan;

Berpuasa satu bulan penuh pada bulan Rajab merupakan amalan yang dimakruhkan. Akan tetapi, jika ada wanita muslim (muslimah) yang hendak berpuasa pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa secara berselang. Karena, ini (Rajab) merupakan bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila melihat orang-orang jahiliyah dan semua persiapan mereka untuk menyambut bulan Rajab, maka ia (Ibnu Umar) membencinya seraya berkata: “Berpuasalah dan berbukalah pada bulan itu.” (HR. Ahmad)

Berpuasa secara berselang dalam pemahaman sama artinya dengan “Berpuasalah dan berbukalan pada bulan itu.” Bermakna, boleh kita berpuasa dengan niat melakukan puasa sunnah Senin-Kamis, atau berpuasa Daud, atau berpuasa Aiyamul bidh (berpuasa 3 hari di tengah bulan dalam penanggalan Qomariyah).

Dan syukurlah, pagi tadi seorang teman mengirim boardcast tentang ini,

Bismillah..
Ibnu Hajar mengatakan :
“Tidak terdpat riwayat yg sahih Чªπğ layak di jadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula dalil yg shahih tentang puasa Rajab atau puasa di tanggal tertentu di bulan rajab, atau shalat tahajud d malam tertentu di bulan Rajab”Keterangan yg sama juga d sampaikn oleh Imam Ibnu Rajab, dlm karyanya Чªπğ mengupas amalan sepanjang tahun.
Beliau mengatakan :
” Tidak terdapat dalil yg shahih tntg ajaran shalat tertentu d bulan rajab. Adapun Hadist Чªπğ menyebutkan keutamaan shlat Raghaib di malam jum’at pertama bulan Rajab adalah hadist dusta, batil, dn tidak shahih. Shalat Raghaib adalaha bid’ah, menurut mayoritas ulama “Apa itu rajab ??
Umar mengatakan : sesungguhnya rajab adalah bulan yg di agungkan masyarakat jahiliyah, setelah islam datang, kmdian di tinggalkan

Allahu a’lam…

 
Satu lagi kajian yang kubaca hari ini (30 April 2014), semoga menjadi bahan renungan dan pemahaman kita semua. Begini ditulis;

Fatwa para Ulama terkait Ibadah Khusus di Bulan Rajab. “Semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah kebohongan yang diada-adakan.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 96)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyinul Ujab, hal. 11:

“Tidak ada hadits shahih yang layak dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak juga dalam puasanya atau puasa tertentu , begitu juga (tidak ada) qiyamullail tertentu di dalamnya.”

Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam kitab Fiqih Sunnah, 1/383:

“Puasa Rajab tidak ada keutamaan tambahan dibandingkan dengan (bulan-bulan) lainnya. Hanya saja ia termasuk bulan Haram. Tidak ada dalam sunnah yang shahih bahwa berpuasa mempunyai keutamaan khusus. Adapun (hadits) yang ada tentang hal itu, tidak dapat dijadikan hujjah.”

Ihdinash Shiraatalmustaqiim, Allah Yaa Rabb, selalu, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Saudaraku, Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

—————————eon

shelter7.1156.28042014

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,429 other followers

%d bloggers like this: